Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
permintaan


Hermawan kuluar dari dalam mobilnya dengan wajah tersenyum karna Vania menginginkannya.


aku akan memberimu kenikmatan Vania. batin Hermawan.


Semantra Vania sudah memakai pakian yang yang tipis tanpa lengan berwarna bewana ping.


Vania panggil Hermawan dari balik pintu kamar.


Vania segera beranjak dari sofa lalu berjalan membuka pintu kamar.


"kau, telat 5 menit tuan Hermawan yang terhormat." ucap Vania.


"hanya lima menit sayang, itu karna aku terjebak macet." sahutnya sambil berjalan masuk kedalam kamar.


"tetep saja kau telat sebagai hukumannya kau harus mengajakku hotel berbintang dan menemaniku minum disana." minta Vania


"sayang itu hanya lima menit ayolah senjataku sudah bangun dari tadi." sahut Hermawan sambil tersenyum.


Dasar tua bangka tak sadar umur. batin Vania.


aku bosan bermain denganmu dirumah, kau ini seorang pemilik perusahanan uangmu banyak tidak akan habis hanya dengan memesan satu kamar untuk bersenang-senang denganku" Rayu Vania sambil tersenyum manis tangannya bergerak membuka baju jas milik Hermawan.


"sial senyum itu membuat celana bagian depanku sesak." umpat Hermawan dalam Hati.


Vania segaja mengoda Hermawan dengan baju yang tipis agar laki-laki tergoda lalu terpaksa menuruti semua keinginannya.


Hermawan menelan ludah dengan susah karana dua gundukan montok milik Vania terlihat dari baju tipis sayang digunakannya.


stttttt sial lagi-lagi otakku tal bisa diajak komromi padahal niatku hanya pulang sebentar menyegerkan otakku. batin Hermawan mengumpat.


Vania membelai lembut dengan tangannya dada Hermawan.


seketika Hermawan menegang, sambil memejamkan matanya otaknya sudah berfantasi liar.


"Ayo sayang cepat kita lakukan." Ajak Hermawan.


tidak bisa kau terlat jadi kau harus menuruti permimtaanku dulu baru kuberikan yang kau inginkan semalaman penuh ucap Vania dengan nada suara yang sengaja ia buat seksi.


"Baiklah ayo kita berangkat sekarang." ajak Hermawan tak sabaran.


Wajah Vania dihiasi senyum kemenangngan. ia berlalu untuk mengganti baju.


sesampainya di sebuah hotel berbintang mereka berjalan menuju Bar dan memesan minuman untuk dinikmati.


"Ayo minumlah bersamaku." ajak Vania.


Hermawan tanpa banyak kata segera mengambil minuman yang sudah di tuangkan kedalam gelas oleh istri sirinya.


dua puluh menit mereka minum, Hermawan sudah tarlihat teler ia bahkan merancau banyak hal.


"Sayang apa kau ingat siapa aku?" tanya Vania.


"kau adalah itri tercantik yang pernah kumiliki." sahut Hermawan.


"terimakasih untuk pujiannya mas." sahut Vania sambil berdiri dari tempat duduknya.


"hey kamu, bisakah membantuku mengangkat lelaki tua ini kekamar."Minta


Vania pada seorang palayan laki-laki


"baik bu." ucap Dewa (pelayan)segera membantu Vania memapah Hermawan menuju sebuah kamar mewah kelas VIP.


semapainya dikamar, Vania mengucapkan terimakih pada pelayan yang membantunya serta menyerah tips untuk pelayan tersebut.


Vania segera menutup pintu dan merayu Hermawan dengan mengobrol hingga sampai pada pertayaan teteng surat kepemilikan perusahaan.


"sayang kau ini seuamiku apa kau tak ingin mengatakan dimana surat berhargamu kau simpan agar aku bisa ikut menjaganya sayang." ucap Vania lembut.


"hemmm, kau benar kau adalah istriku sekarang." sahut Hermawan.


Diamana mas kamu leletakan surat kepemilikan perusahanmu. tanya Vania kembut.


"Ada menyimpannya di bank." Sahut Hermawan.


Bank mana? kenapa? apa kamu memiliki hutang di Bank?" tanya Vania beruntun.


"mas ambillah surat itu, aku akan menyimpannya untukmu." minta Vania.


"kau mau menyimpannya dimana?" tanya Hermawan.


"tentu saja ditempat yang aman kita berdua akan menyimpannya disana kau juga akan mendapatkan uang nanti karna kau mempercayakan surat berhargamu padanya." jelas Vania.


"Dimana itu?" tanya Hermawan.


"aku akan menelpon seseorang untuk menjelaskannya padamu." ucap vania berlalu menelpin jack


setelah 10 menit Jeck sudah datang menunggu di sebuah kursi di lobby hotel.


"jeck ayo ikut denganku." ucap Vania menarik jeck membawanya masuk kedalam kamar hotel.


Selamat siang pa Hermawan kenalkan saya Andan ucap Jack memulai percakapan.


saya dengar dari Vania anda ingin menyimpan surat kepemilikan perusahaan pada koprasi kami.


"saya akan menjelaskan terlebih dahulu tetang koprasi kami." ucap Jack.


jeck menjelaskan penjang lebar, keuntungan yang akan didapat oleh Hermawan jika ia mau menyimpan surat-surat berhaganya pada koprasi.


Hemawan sangat antusias ingin memimdahkan penyimpanan surat berga miliknya, ia tertarik mendapatkan banyak keuntungan dari koprasi.


"Bagaimana jika anda mengambilnya dan memberikan pada saya sore nanti." ucap Jeck.


aku tidak bisa sore ini, aku ada pertemuan peting dengan rekan bisnisku. ucap Hermawan terdengar dengan nada sedih.


"tidak masalah pak hanya saja uang 20 juta tidak akan anda dapatkan, koprasi tidak hanya memberikan pada 20 orang yang beruntung, dan tidak berlakaku hari esok" jelas Jeck.


"Vania apa kau bisa mengurusnya untukku?" tanya Hermawan yang tak ingin kehilangan kesempatan memiliki 20 juta.


" akan ku urus untukmu mas, tapi aku membutukan surat kuasa darimu untuk mengambil surat itu di bank." minta Vania.


"akan kuberikan surat kuasanya untukmu sayang." ucap Hermawan dengan senyum mengambang di bibir tuanya.


"terimakasih." ucap Vania sambil tersenyum penuh Arti.


Hermawan meminjam laptop milik Adnan dan mengetik surat kuasanya.


tak menunggu lama surat itu selasai di buat. kemudian diprin oleh Vania, lalu ditanda tanganngi oleh Hermawan.


setelah mendapakan itu jack dan Vania segera menuju bank. sedangkan Hermawan tertidur karana pusing dan ngantuk.


sebelum pergi Jeck meletakn uang 20 juta di samping Hermawan.


Di sebuah cafe


Defvan dan Risa sedang duduk berhadapan saling mengobrol.


"apa maksudmu ingin mengambil Abi dariku?" tanya Risa dengan nada mulai meninggi.


"aku juga ingin merawatnya memberinya kasih sayang aku ini ayah kandungnya aku berhak atasnya." ucap Devfan sambil memandang lekat wajah Risa.


"tidak aku ibunya aku yang melahirkannya akulah yang lebih berhak atas putraku." sahut Risa kesal.


"aku sudah mengijinkanmu untuk bertemu dengannya satu kali dalam satu minggu itu sudah cukup untukmu mengenal dan memberikan kasih sayangmu." lanjut Risa ketus.


"jika kamu benar-benar tak ingin berpisah dengannya maka menikahlah denganku." ajak Defvan sambil tersenyum penuh arti.


"apa kau tidak waras tuan Defvan aku sudah memiliki suami." bentak Risa.


"aku tau itu, aku hanya menawarkan saja, masalah suamimu kau bisa memintanya secara baik- baik pada dokter Yusuf." sahut Defvan santai.


"maaf aku tidak tertarik dengan tawaranmu." ucap Risa dengan tatapan tajam.


Defvan terkekeh pelan melihat Ekspresi wajah Risa.


"Jika begitu serahkan secara baik-baik Abi padaku aku akan menjamin pendidikan dan semua kebutuhannya." jelas Defvan.


"tidak perlu tanpamu aku dan Abi tetap bisa betahan hidup." sahut Risa sambil beranjak pergi karna selera makannya mendadak hilang mendengar permintaan Defvan.