Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
informasi


Hujan turun beserta angin kencang petir menyambar-nyambar membuat sebagian orang bermalas-malas dan memilih menutup diri didalam kamar masing-masing.


Berbeda hal dengan Abi ia bersama mang atok sedang berada dijalan menuju jalan pulang kerumah.


Bukan Abi tak memiliki hati terhadap Ayahnya Devan hingga tidak menjenguk keadaannya.


"Maaf Ayah Abi rasa ini jalan terbaik saat ini. Abi akan tetap memantau keadaan Ayah melalui om Mars." monalog Abi sambil menatap jalan.


"Mang Atok sebaiknya kita behenti dulu didepan sana macet." perintah Abi.


"Iya Nak Abi, mongkin ada kecelakan atau pohon tumbang akibat hujan yang lebat." sahut Mang Atok.


"Di sana saja pak ada rombong yang menjual wedang dan Ronde." tunjuk Abi.


"Ahhh Den Abi tau saja minuman yang pas untuk cuaca dingin bengini." jawab mang Atok sambil melaju kearah rombong penjual ronde.


Tak lama keduanya kini sudah berada di dalam rombong penjual Ronde Stmj serta wedang.


"Mang Atok, pesan saja yang mang Atok suka. Abi ronde saja ucap Abi sambil tersenyum pada si penjual.


"Sama saya juga ronde." ujar Mang Atok.


Abi dan mang Atok menunggu di kursi yang sudah di sediakan penjual.


"Mang Atok apa tidak takut Kakek Willem marah karena Mang Atok membatu Abi" kata Abi pelan smabil menatap jalan.


"Kenapa harus takut Den, Membantu sesama itu salah satu ajaran yang di ajarkan Rasullullah pada umatnya." tutur Mang Atok.


"Bagaimana jika mang Atok kehilanggan pekerjaan karena membatu Abi." cicit Abi dengan raut wajah cemas.


"Hahahahahaha, saya sudah puluhan tahun bekerja menajaga Villa yang sebenarnya adalah hadiah dari tuan Willem untuk istri pertamanya Rayana keylen." cerita Mang Atok.


"Jadi Mang Atok mengenal Nenek Rayana?" tanya Abi.


"Ya tentu saja Nyonya rayana adalah wanita yang baik bersifat keibuan, ia tidak pernah memandang rendah seseorang selain itu ia sering membantu kaum yang lemah." ungkap Mang Atok.


"Saya dan istri sangat terkejut mendengar berita meninggalnya Nyonya Rayana karena tidak mendengar Nyonya sakit." lanjut Mang Atok.


"menurut cerita Ayah nenek sempat sakit sebelum meninggal." sahut Abi.


"Ya benar, saya tau dari Ayah den Abi setelah Nyonya meninggal. Saya ingat betul saat Den Devan mengamuk dan berteriak ia juga menyebutkan Ibunya meninggal karna di Racun oleh Ibu Marcella saat ibu bekerja sebagai pembantu dirumah Tuan Willem." lanjut Mang Atok.


"Lalu bagaimana menurut keterangan medis. Bagaimana reaksi Kakek saat mendengar ucapan Ayah?" tanya Abi sambil menatap ibu penjual ronde mengantar pesanan mereka.


"Ini rondenya silahkan dimakan selagi hangat." ucap ibu penjual ronde


"Terimakasih Bu." Sahut Mang Atok dan Abi bersamaan.


"sama-sama." sahut ibu penjual Ronde sambil berlalu kembali kedepan rombong untuk melayani para pembeli.


"Saat saya ikut melihat janazah saya melihat kejanggalan pada tubuh almarhumah. di beberapa bagian tertentu badan Nyonya berwarna unggu seperti luka lebam akibat kekerasan." kata Mang Atok.


"Saat di periksa oleh tim medis dugaan itu terpatahkan karna hal itu bukan diakibatkan oleh kekerasan tapi karna elergi terhadap obat-obatan tertentu." jelas Mang Atok sambil menyenduk Ronde lantas memasukan kedalam mulutnya.


"Menurut saya sendiri memang ada yang dengan sengaja memasukan obat tersebut kedalam makanan nyonya karna tidak mongkin Nyonya meminum obat itu. Nyonya pasti tau kundisi tubuhnya sendiri. analisa Mang Atok.


"Mang Atok benar. jika Nenek sengaja itu sama halnya dengan bunuh diri." ujar Abi sambil memasukan jelly di mangkok rondenya kedalam mulut.


"urat leher Almarhum terlihat menunjol keluar pertanda ia merasakan sakit teramat sangat sebelum ajal menjemputnya." Ujar Mang Atok.


Mendengar itu, Abi tersenyum samar.


"Kakek sepertinya segaja melakukan itu. ia pasti tau sesuatu tentang kejanggalan yang terlihat pada nenek Rayana. melindunggi pelaku atau dalam keadaan ternacam entah putranya atau dirinya sendiri" batin Abi.


"Ayah sepertinya tidak menerima apa yang dialami nenek samapai sekarang masih tak mau menerima nenek Marcella dan menyalahkannya."Kata Abi sambil menikmati ronde miliknya.


"enehnya tuan selalu membela ibu Marcella." sahut Mang Atok.


"Tepat sekali. Mang Atok bisakah membatu Abi?"


"jika saya bisa maka saya bersedia membatu Den Abi. Katakanlah apa yang bisa saya bantu?"


"wanita muda yang bersama Marcella itu roh sedah di tahan oleh iblis sedangkan raganya digunakan untuk kepentingan tertentu. bisakah mang Atok menolongku untuk menculik wanita itu dan memebawanya ke padepokan Al Azam." minta Abi.


mang atok menyimak dengan seksama setiap kata yang Abi ucapkan


"Saya akan membuat lengah Nenek Marcella dan juga roh jahat yang selama ini menguasai raga Wanita muda bernama mawar itu." ujar Abi.


"Hemmmm baiklah kapan kita akan menculik wanita itu?" saya tidak kenal siapapun di padepokan yang Den Abi maksud." lanjut mang Atok.


tenang Mang Atok Abi akan minta pa ustad Akbar menunggu di padepokan.


Abi menatap lurus kejalan yang masih berlalu berlalu lelang motor meski hujan belum juga reda.


Rubah aku punya tugas untukmu cari tau keberadaan mawar telepati Abi memerintah.


"Baik tuan." Sahut Rubah.


"Santai saja Mang tak perlu buru-buru hujan juga belum reda." Kata Abi sambil mengambil ponselnya di saku celana.


"iya Den." sahut Mang Atok.


"Mang Atok apa mang Atok lapar Abi akan ke tenda sebelah sepertinya ada nasi goreng dan lalapan. mang Atok mau apa?" ujar Abi.


"Nasi goreng saja Den Abi, porsinya tidak usah penuh." sahut mang Atok.


"Oke tunggu disini sebentar, Abi pesan dulu." ucap Abi sambil beranjak meninggalkan Mang Atok yang mesih setia menikmati yang tersisa sedikit.


Sambil menunggu pesanan, Abi duduk di kursi pelastik dalam tenda penjual nasgor. Abi mengubunggi Mars meminta tolong untuk mengawasi Ayah kandungnya. Abi menceritan jika hubungannya dengan Devan dan Willem sedang tidak baik. Walau penasaran dengan masalah antara Kakek, Ayah serta Anak itu ia tetap menyanggupi permintaan Abi menjaga Devan.


"Om Mars sebelum om menemui Ayah bisakah kita bertemu?. Abi akan mengirim tempat Abi saat ini." ujar Abi melalui via telpon.


"Baiklah, kirimkan segera alamatnya." sahut Mars.


"Terimasih Om Mars, Asslamualaikum." kata Abi mengahiri panggilannya.


"Mas pesenannya sudah selesai?" tanya Abi pada penjual Nasgor.


"iya ini, sebentar lagi." sahut Sang penjual Ramah.


"Mas teman saya sedang menikmati ronde di sebelah apa boleh makanan saya bawa ke rombong sebelah?" tanya Abi sopan.


"Tidak masalah Dek itu yang jual ronde orang tua saya." kata Abang penjual Nasgor.


"owalahhh ibunya ya, Bagus Mas masih muda udah punya usaha sendir, semangat terus Mas sahut Abi sambil tersenyum semabari melihat Abang penjual nasgor menyajikan Nasgor kedalam piring.


"hehehehehe, Bisa aja Adek, membuat saya tersanjung. Bisa jadi Kakak yang meberi samangat ke saya ini juga punya usaha sendiri." sahut Abang penjual nasgor.