Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
jatuh hati


bagaimana kau melakukannya....? tanya sang gadis bercadar menatap takjub.


"Aku hanya mengucapkan bismillah dalam hatiku dan Allah yang mengubahnya aku hanya perantara saja." jawab Abi


"siapa dia apakah dia sehebat itu dapat mengubah apapun....?" gadis itu semakin penasaran dangan jawab Abi.


"Tentu saja dia maha kuat, maha perkasa, tak ada satu mahluk pun yang mampu yang mampu melawannya." jelas Abi dengan tatapan mata mengarah ke telaga yang membeku.


"Benarkah bisakah aku memintanya membantuku...? tanya sang gadis dengan penuh harap.


"tentu saja Allah bisa membantu setiap mahluk di muka bumi ini tidak terkecuali." terang Abi.


mata gadis bercadar semakin berbinar mendengar penuturan Abi. "bawa aku bertemu dengan orang yang kamu maksud itu." ucapnya .


"Duduklah terlebih dahulu nona jangan tergesa-gesa,." jawab Abi seraya mengajak gadis itu duduk di dalam goa yang terlihat bersih dan terawat.


"Maaf aku terlalu bersemangat mengingat kutukan itu membuat tidak sabar." cicitnya seraya duduk dan meluruskan kakinya


"kutukan....?"


"kata paman aku di kutuk tidak akan memiliki umur yang panjang karena Api hitam di tubuhku akan membakar diriku cepat atau lambat.kecuali aku menemukan orang yang mampu mengendalikan Api hitam itu ada kemungkinan aku bisa selamat." tuturnya dengan wajah sendu.


Abi menatap iba pada gadis yang duduk tidak jauh darinya.


"ku lihat tidak ada yang aneh dengan dirimu kau nampak normal dimana Api hitam yang kamu maksud bersembunyi....?"


"Api itu berasal di alam bawah sadar ku, setiap purnama dia akan mengamuk membakar apa saja tampa bisa ku kendalikan. Dan tadi saat aku melakukan kultivasi aku berusaha keras menekan agar Api hitam itu tapi ia malah ingin membakar tubuhku." ungkap sang gadis bercadar.


"apa kau menekannya bermaksud ingin menjinakkannya...?"


gadis itu mengangguk mengiyakan.


"bisakah kamu menekannya sekali lagi, aku ingin melihat berapa kuat Api itu." ujar Abi.


"akan ku coba menekannya lagi tapi bisakah Tuan menunggu sebentar untuk berburu dan mengisi tenaga." tutur sang gadis.


"Nona lapar...? tanya Abi dengan menatap sang gadis sembari tersenyum manis.


Gadis bercadar yang juga sedang menatap Abi seketika terpaku senyum Abi membuat darahnya berdesir detak jantung menjadi lebih cepat.


"i...iya...Tuan." jawabnya sembari beranjak seakan takut Abi mendengar detak jantungnya.


Gadis bercadar itu berjalan cepat menuju bibir goa sambil memaki dirinya bodoh.


Sesampainya di depan goa ia meleset cepat meninggalkan goa tanpa ia tau Abi mengawasi gerak geriknya dan mengikutinya.


tidak sampai satu jam Wanita itu sudah mendapatkan seekor rusa muda. sedangkan Abi mencari beberapa buah yang bisa di makan.


saat akan kembali sekelebat benyangan dengan cepat menghentikan langkah si gadis.


"Kau......?" ucapnya melihat Abi muncul di depannya tanpa suara.


"kemampuannya sungguh luar biasa aku bahkan tidak menyadari langkah kakinya tiba-tiba saja muncul bagai hantu." batin si gadis.


"iya Tuan saya kaget karena tidak pernah melihat manusia mampu melakukan apa yang tuan lakukan." kata si gadis menjawab.


"hmmmm, Ayo kita kembali aku rasa rusa dan buah-buahan ini cukup untuk mengisi tenaga.." Ajak Abi dengan cepat ia membawa si gadis bercadar kembali ke depan mulut goa.


"Bernafas lah kita sudah sampai." kata Abi tersenyum geli melihat gadis bercadar yang ia bawa dari hutan menahan nafasnya seakan ia takut untuk menarik nafasnya.


"Apa kau lupa cara bernafas..?" goda Abi lagi-lagi dengan senyuman manisnya dan mengedipkan sebelah matanya hal membuat si gadis hampir struk di tempat.


otot-otot kakinya terasa lemas tak bertulang ia diam membisu tanpa mampu berkata-kata sampai akhirnya.Wanita cantik itu memilih memejamkan matanya mengatur nafas dan berusaha menetralkan detak jantung yang kembali cepat saat Abi dengan sengaja menggodanya.


"Nona cantik masuklah biar Aku yang menyembelih rusa dan membersihkannya." kata Abi Seraya mengambil rusa yang di gendong oleh Si gadis tanpa perlawanan.


"Apa-apaan ini Xia, tingkahmu memalukan sekali..?" batin si gadis menggerutu pada dirinya.


Abi sudah masuk ke dalam goa ia membersihkan rusa memotongnya dan memberikan bumbu yang tentu semua bahannya ia ambil dari cincin penyimpanan miliknya.


Cincin Dimensi miliknya masih tidak bisa ia masuki tapi untuk cincin penyimpanan masih berfungsi seperti semula sejak ia di pertemukan dengan si gadis bercadar di goa.


Gadis bercadar yang tidak lain adalah wanita yang di sebut keponakan oleh kakek Han berjalan masuk kedalam goa setelah hampir setengah jam ia di luar. ia ingin membantu Abi namun dia justru di kejutkan dengan Aroma masakan yang sangat menggugah selera makan.


"Marilah panggil." Abi ramah.


"Tuan jika anda tidak ingin aku jatuh hati pada anda jangan terlalu sering tersenyum padaku." kata si gadis itu dengan menatap ke arah lain ia sengaja mengatakan itu agar Abi tidak menggodanya mengakibatkan perasaan tumbuh bersemi didalam dirinya.


"lagi-lagi Abi tersenyum melihat wanita bercadar itu berbicara blak-blakan. Nona siapa namamu kita belum saling mengenal..?" tanya Abi sembari membalikan daging rusa yang ia bakar.


deg..... detak jantungnya kembali terpacu saat melihat senyum itu meskipun untuk kesekian kalinya.


bukan menjawab Xia malah bertanya kenapa Abi memasak di dalam goa asapnya tidak akan dapat keluar bebas dan akan membuat sesak. Xia Hua sengaja mengalihkan topik sembari menatap ke arah buah-buahan yang tadi di petik Abi.


"Diluar akan turun hujan." sahut Abi santai.


"hujan..? tidak ada tanda-tanda akan turun hujan." jawab si gadis merasa jawaban Abi hanyalah sebuah alasan.


"tunggu saja jika kamu tidak per_..."


belum selesai Abi berbicara terdengar suara angin kencang menerpa pepohonan di hutan disertai dengan suara petir.


"namaku Xia Hua." wanita bercadar menjawab pertanyaan Abi sebelumnya sembari berjalan dan mencuci bersih buah-buahan yang sudah di petik oleh Abi dengan air yang ada di telaga.


"Nona Xia, sebenarnya aku sudah mencuci semua buah itu, tapi tidak apa jika tangan cantikmu itu mencuci kembali bisa saja buah-buahan itu terasa lebih manis dari sebelumnya." tutur Abi sembari membalikan daging rusa yang ia panggang dengan tentunya tidak lupa dengan senyuman manisnya.


Xia Hua yang sudah hampir selesai mencuci buah segera beranjak menghampiri Abi ia tidak peduli dengan buah-buahan yang ia cuci sebagian jatuh ke dalam air di telinga.


Kedua pipi Xia Hua merah bagai buah ceri dengan sekali gerakan cepat ia menarik cadar lalu berjongkok di depan Abi dan menempelkan bibirnya tepat ke bibir Abi yang terkejut dengan keberanian gadis di hadapannya.