
tiga polisi yang menolong dua temannya itu tentu saja sudah dapat melihat rumah bertingkat yang ada dihadapannya atas bantuan lelaki paruh baya saat ini bersama mereka.
Seorang wanita tiba-tiba menghampiri mereka sambil mengikik.
Hehehehhhehhehhe.
Lima polisi yang melihat kearag sumber suara terperanjat menyadari yang tertawa bukanlah manusia mereka beringat dingin badan ketiga gemetar ketakutan.
Sedangkan Lelaki paruh baya bersama Wijaya mengulas senyum dari bibir keduanya.
"Pergilah kunti sebelum aku membakarnya!" kata Lelaki paruh baya.
Hehehehehe tawa itu kembali terdengar kelima polisi yang berada disana semakin ketakutan mundur berlindung di belakang Wijaya dan Lelaki paruh baya.
"Tenanglah kalian derajat kita jauh lebih tinggi dari dia." ujar lelaki paruh baya.
" Hehheheheehe berikan untukku lima pemuda itu rasanya pasti sangat nikmat." ucap kunti sambil terbang mendekat.
Wijaya begitu geram mendengar suara mengikik kunti di depan mereka tanpa Aba-aba Wijaya melompat cepat menarik rambut kunti yang berada didapan mereka.
Kunti tidak mau kalah ia melawan dengan cara mencakar namun cakaran itu selalu saja berhasil di hindari Wijaya.
Lelaki paruh baya menengadahkan tangan keatas sambil berdoa memohon pertolongan tanpa menunggu lama selesai berdoa lelaki itu meniup kedua telapak tangan nya lantas belompat memukul dada kunti mengunakan kedua tangannya hingga kunti menjerit karena tidak sempat mengidarinya hanya dalam hitungan detik kunti itu lenyap tak berbentuk.
"Alhamdulillah gumam lelaki paruh baya bersama Wijaya.
Wijaya masuk melompati pagar di ikuti oleh lelaki paruh baya dan juga lima anggota polisi memanjat pagar.
Setibanya didalam hanya ada dua wanita dengan pakaian sama warna hitam lengkap cadar di wajahnya.
"Carilah disemua tempat dirumah ini, jangan ada yahh terlewat." perintah salah satu petugas yang sudah bisa mengandalikan diri dari rasatakutnya.
Wijaya kusuma bersama lelaki paruh baya melangkah ke tempat yang berbeda. Wijaya menajamkan pendengarnya mancari kejanggalan di Rumah tersebut. Lelaki paruh baya membuka kata hatinya.
"Tempat ini harus segera di hancurkan auranya begitu gelap bahkan banyak makhluk tak kasat mata asa pula aruwah penasaran." gumam Lalaki paruh baya sambil terus melangkah sebuah kamar yang auranya lebih gelap dari ruang yang lain.
Sampailah ia disebuah kamar tempat pemujaan. Seorang polisi menghampiri nya terkejut melihat adanya Altar pemujaan yang masih lengkap dengan sesajen dan bau dari dupa masih tercium.
Cepat kamu ambil foto ditempat ini setelah itu kita keluar ujar Lelaki paruh bata memerintahkan.
Polisi segera mengambil foto belum sempat mereka keluar suara aneh terdengar marah.
Tanpa pikir panjang lelaki paruh baya menarik polisi yang berada didepannya meninggalkan ruangan itu.
Rumah ini memiliki ruang bawah tanah kata Wijaya tiba datang menghampiri dua orang polisi untuk menemani memeriksa ruang bawah tanah.
Tidak jangan malam ini kita lakukan siang besok saja Pirasatku buruk ayo kita keluar tinggalkan segera rumah ini. Ajak lelaki paruh baya.
Tapi aku tidak yakin kita bisa kembali besok kenapa tidak di tuntaskan malam ini ujar Wijaya.
"Mereka sangat banyak anak muda, saya tidak yakin kita bisa mengalahkan mereka dengan jumlah yang jelas kalah talak." ungkapnya.
"Wijaya dengarkan saja ucapannya kembalilah putri Arum sudah tau kalian berada disana ingin menangkap abdinya." telepati Raden Mas.
Ayo lari cepatlah kita tidak punya banyak waktu sebelum iblisnya terbangun teriak Wijaya berlari keluar di ikuti Lelaki paruh baya dan juga lima polisi.
Setelah mereka keluar dari pintu gerbang terdengar suara orang marah degan diiringi suara keras seperti benda jatuh.
Kelima polisi segera masuk dalam mobil begitu pula Wijaya dan Lelaki paruh baya menaiki kendaraan masing-masing.
Seumur hidup baru kali ini merasa begitu takut ujar seorang polisi sambil menatap jalan.
Ya aku juga baru pertama kali melihat hantu dan ternyata hantu itu benaran ada bahkan wajahnya lebih buruk dari pada yang aku lihat di bioskop Sahut temannya menimpali.
"Ini tidak pernah aku lupakan, besok kita harus kesana lagi apa kalian siap?"
"Lebih baik kita pikirkan besok saja pemuda yang melapor ke kita tadi sepertinya bukan pemuda sembarangan dari raut wajahnya tidak ada takut sama sekali dengan hantu wanita tadi."
"Kamu benar, sampai saat ini aku masih saja tidak bisa melupakan wajah buruk dan tawanya itu." Sahut temannya.
"Mereka yang sedang asyik mengontrol sampai tidak menyadari seorang wanita mengikuti mereka sampai sebuah tawa mengagetkan mereka.
"hehheheheheheh."
"DI, lo dengar enggak suara ketawa itu? Tanya salah satu dari mereka berliama.
Iya aku dengar Sahut dua temannya.
Tawanya membuat obrolan mereka berhenti sekatika. Satu tangan tiba berada di kaca depan mobil tentu saja itu membuat lima polisi didalam terkejut dan takut.
"Heyy hentikan mobilnya." ujar Wijaya berteriak dari motornya.
Polisi yang menyetir mobil menepikan mobilnya segera di pinggir jalan, namun tak satupun di antara mereka yang berniat keluar.
Jangan menganggu mereka teriak Wijaya pada seorang kuntilanak merah.
Hehheheheehe mereka sudah diserahkan padaku untuk menjadi santapanku sahutnya.
"Siapa yang menyerahkan mereka? Apa Putri Arum? "
Hehheheheehe bukan urusanmu menyingkirkan pekiknya sambil kumat kamit detik berikutnya kaca mobil polisi pecah.
Wijaya kusuma yang melihat itu tersenyum kecut.
Banyak juga anak buah Putri Arum aku tidak menyangka ia Memelihara kuntilanak merah yang terkenal memiliki kesaktian tinggi. Batin Wijaya sambil mengeluarkan sejumput garam dari balik saku bajunya yang diberikan oleh Zahra untuknya.
Semoga saja garam yang sudah dibacakan doa ini dapat membuatnya terluka, batin Wijaya sambil melompat keatas mobil polisi setalah menepikan motor yang ia pakai.
Kepala kuntilanak merah sudah masuk kedalam melalui kaca mobil yang pecah.
Dengan mengucap nama Allah Wijaya yang sudah memeluk agama islam berdoa memohon perlindungan kemudian melempar garam kebadan kuntilanak merah membuatnya menjerit dan marah.
Bedebah akan kubuat kamu tidak lagi bisa bernapas teriaknya sambil merintih menahan panas dari garam yang mengenai kulitnya.
Begitu kuntilanak merah mengeluarkan kepalanya sekali lagi Wijaya berteriak memerintah.
"Cepat kalian lari masuklah kedalam mesjid."
Keliama polisi yang gemetar bergerak perlahan ingin keluar dari mobil dan berlari.
"Bodoh pakai mobil kalian, bawa pergi ke mesjid." kata Wijaya sekali lagi ia berteriak.
Sekatika kelimanya tersedar rasa takut yang berlebihan membuat kelimanya kehilangan akal sehat.
Sambil menangkis serangan kuntilanak merah Wijaya membaca ayat yang ia hapal sesakali ia meniup kearah kuntilanak merak hang menyerangnya mengunakan bola Api.
Lelaki paruh baya muncul entah dari mana ia mengambil tujuh lembar daun membaca doa lantas melempar daun ka arah wajah kuntilanak yang sekatika daun itu menggores wajah leher dan tangan kuntilanak merah hal itu membuat kembali marah dan menyerang dengan api-api besar tetapi tidak satupun bola api menyentuh kulit Wijaya maupun lelaki paruh baya.
"Kembalilah keasalmu, jangan kau turuti dendemmu lekaslah sebelum aku memaksa kamu." kata lelaki paruh baya.
"Aku akan kembali setelah mengambil Kelima polisi yang menjadi hakku." sahutnya.
Tidak ada jawaban dari lelaki paruh baya ia mengangkat kedua tangannya dengan bantuan yang maha kuasa ia membalik serangan yang tertuju padanya dari berbagai arah secara berputar.
Tidak kau tidak akan bisa membunuh aku kunti itu tmenghilang dari pandangan Wijaya dan Lalaki paruh baya.
Tunggu pembalasan kalian semua akan mati Suara tanpa wujud itu mengemma ditelinga Wijaya.