Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Tutup mulut


Didalam sebuah ruang bawah tanah terlihat pemandangan mengerikan. seekor kerbau sudah tak terlihat lagi bentuknya darah berceceran di mana-mana. tak hanya itu semua benda mati yang ada di ruangan tersebut berserakan di lantai.


Terlihat seorang lelaki separuh baya sedang memegang kapak besar berlumuran darah. Akal sehat sudah hilang ia tak lagi memiliki hati nurani. Bajunya berlumuran darah kerbau. belum puas sampai disitu ia kembali mencincang Kepala kerbau yang berada dihadapannya dengan penuh amarah.


Satu jam yang lalu ia menerima panggilan via telpon dari orang suruhannya mengatakan Dukun yang ia datangi sore kemaren meninggal dalam keadaan mengenaskan suruh tubuhnya gosong dan luka bakar pada seluruh wajahnya.


"Tidak akan kubiarkan kau hidup tenang meski aku harus menempuh jalan di benci Tuhan aku Takan puas sebelum melihat kau serta keluargamu celaka." ucapnya sambil memicingkan matanya.


"Kali ini kau boleh menang tapi akan kubiarkan kau selamat Abimanyu." Cicitnya sambil tersenyum miring.


Dilain tempat Devan terbangun menatap bingung. ia melupakan semua kejadian yang menimpanya di Villa bersama Abi dan Ayahnya.


Mars yang saat itu baru tiba melihat Devan terbangun segera mendekati sang sahabat.


"Devan jangan terlalu banyak bergerak dulu biar aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Mu." ujar Mars sambil mendekati Devan memencet tombol disampingnya.


tak menunggu waktu lama seorang dokter datang bersama suster mengikutinya masuk untuk memeriksa keadaan anak dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


"Selamat siang pa Devan sapa." Dokter Mega.


"Telinga saya rasa nyeri Dok." keluh Devan.


"Hanya itu apa ada yang sakit bagian lain?" kembali Dokter Mega bertanya dengan nada ramah.


"tenggorokan saya seperti ada yang menyangkut rasa sakit." keluh Devan kembali.


"Baiklah saya akan melakukan pemerikasaan lebih lanjut untuk mengetahui bagian dalam telinga serta tenggorokan Anda pa Devan." Ujar Dokter Mega setelah memastikan tekanan darah pasien.


"Bagaimana dengan hidung Anda pa Devan apa sakit?" kata sang Dokter.


"Tidak hidung saya baik-baik saja sahut Devan."


"Anda yakin?" tanya Dokter Mega.


"Ya, memang kenapa Dok?"


"Begini pak Devan, Keadaan Anda saat di bawa kemari oleh pa Willem penuh dengan darah. mulut, hidung, telinga mengeluarkan darah segar. hingga untuk memulihkan anda kami memerlukan beberapa kantung darah." jelas Dokter Mega.


"Darah? apa benar yang dikatakan Dokter ini Mars?" tanya Devan tak percaya.


"Ya benar Dev, Ayahmu juga menceritakan hal yang sama padaku." sahut Mars.


"Apa penyebabnya?." tanya Devan bingung ia mencoba mengingat namun tak sedikitpun ia bisa mengingatnya.


"Aku tidak ingat apapun." gumam Devan pelan.


"Tidak perlu memaksanya ingatan bapak pelan-pelan saja. bagaimana pak anda bersedia melakukan pemeriksaan lebih lanjut?" tanya Sang Dokter yang masih setia berdiri di samping Devan berbaring.


"Baiklah tapi bisakah saya menunggu Ayah saya terlebih dahulu sebelum melakukan pemerikasaan setidaknya saya bisa tau apa yang sebenarnya terjadi pada saya!" Minta Devan.


"Baiklah pak Devan saya harap tidak terlalu lama." sahut Dokter Mega.


"jika begitu saya pamit dulu. pa Mars saya harap anda selalu waspada jika terjadi sesuatu cepat panggil Dokter." ujar Dokter Mega lantas berlalu.


"Dev kau yakin tak mengingat apapun?" Mars ingin memastikan apa yang Devan katakan pada Dokter.


"Ia Mars aku merasa aneh tiba-tiba terbangun di rumah sakit." ungkap Devan.


"Apa Daddy menceritakan sesuatu padamu yang tidak aku ketahui." selidik Devan.


"Dimana Marcella, apa dia juga tak diizinkan Ayah menjagaku?"


"Aku tidak tau Dev, sejak aku disini tak pernah melihatnya." jawab Mars jujur.


"sebelumnya aku mengajak Abi ke villa di puncak di sana sudah menunggu Daddy, Marcella dan Mawar mereka terlihat antusias menyambut kami dengan menghidangkan makanan yang dimasak sendiri." hanya itu yang ingat selebihnya Aku tidak tau cerita Devan.


"oh ya Mars dimana Abi apa dia baik- baik saja?" tanya Devan terlihat sekali raut wajahnya begitu menghawatirkan sang putra.


belum sempat Mars menjawab Willem membuka kamar perawatan di Devan dengan membawa bermacam buah juga tempat makan yang sudah pasti penuh lauk pauk makanan.


"Devan kau sudah sadar Nak, Daddy membawakan makanan kesukaanmu. Ayo makan yang banyak." ujar Willem terlihat begitu senang.


"Daddy bisakah menceritakan apa yang terjadi hingga aku berada di sini." Minta Devan.


Sedang Mars yang sudah mengetahui sedikit kejadian yang menimpa Devan hanya Diam tak berniat membuka mulutnya.


"sudahlah Dev Jagan membuat mood Daddy berubah. kau percayakan saja masalah ini padaku Aku akan menyelesaikannya kau fokuslah dengan kesehatanmu."


"Daddy yakin, tidak melakukan bantuan dari ku atau Mars?" Tanya Devan menawarkan diri.


"Tidak perlu jangan meremehkan Aku Dev, meski sudah tak muda lagi Aku cukup berpengalaman dengan berbagai masalah yang datang silih berganti." kata Willem.


"Baiklah jika Daddy tak berniat menceritakannya padaku setidaknya bari tau bagaimana keadaan putraku saat ini?" tanya Devan.


Willem tersenyum miring hal itu dilihat oleh Mars.


"Dev, tak perlu memikirkannya, kau lihatlah dirimu hampir tak tertolong karena terlalu banyak mengeluarkan darah fokus dengan kesehatanmu untuk urusan yang lain percayakan padaku." lagi-lagi Willem tak mau menjawab pertanyaan sang putra.


"Daddy Wajarlah jika aku begitu menghawatirkan Abi dia putraku darah dagingku." kata Devan berusaha mencari informasi dari sang Ayah.


"jika anak membawa terus kebaikan dan manfaat maka wajar untuk mempertahankannya. tapi jika ia membawa malapetaka untuk kehancuran lebih baik membuangnya." Tandas Willem sambil berjalan meninggalkan Sang putra.


"Daddy apa maksudmu?" teriak Devan.


"Sudahlah Dev, nanti aku akan coba bertanya dengan penjaga Villa." kata Mars mencoba menenangkan.


"Kau benar Mars coba cepat cari informasi mengenai Abi aku sangat takut terjadi sesuatu padanya." kata Devan dengan wajah memelas.


"Baiklah Dev. sebaiknya kau cepat melakukan pemeriksaan pada bagian yang sakit." sahut Mars.


"Terimakasih Mars."


"Sama-sama aku pergi dulu biar ku panggilkan kembali Ayahmu." pamit Mars sambil berlalu keluar ruangan.


Didalam ruangannya Willem menghubungi Mang Antok dan memecatnya tanpa pesangon ia bahkan mengusir keluarga mang Antok.


"Orang tua tidak tau terimakasih bukannya menolong Devan ia justru pergi menyelamatkan anak pembawa petaka itu." kesal Willem.


"Marcella kenapa pula sampai saat ini ia tak memberiku kabar dimana dia sebenarnya?." batin Willem sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.


sambil berjalan Mars memikirkan ucapan Willem.


"Apa ada hubungannya kejadian yang menimpa Abi kemaren malam dengan Willem." batin Mars.


"jika benar Kakeknya yang melakukannya sungguh kejam sekali perbuatan itu." monalog Mars.