Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Mimpi


seorang wanita berdiri disisi sebuah kolam yang dipenuhi bunga teratai yang sedang bermekaran. sayup-sayup terdengar suara seorang bayi menangis.


Risa mencari asal suara ke kiri kenannya ia tak juga menemukan." Dari mana suara bayi itu." gumamnya


Dengan langkah pasti Risa bejalan menyusuri sisi kolam sambil melihat sesekiling.


"Risa!." panggil Yusuf datang dari arah belakang.


"Mas Yusuf." sahut Risa.


"Aku kemari mendengar suara seorag bayi menangis." ungkap Yusuf.


"Aku juga sedang mencarinya Mas tapi belum menemukannya." sahut Sang Istri


Suara bayi terdengar lagi lebih keras dari sebelumnya.


"Sepertinya ada di sekitar kolam ini." ujar Yusuf.


"Aku juga berpikir demikian." Risa kembali berjalan mencari suara bayi menangis di ikuti Yusuf.


Mata Risa menangkap sebuah kaki mungil sedang bergerak dia atas sebuah bunga teratai berwarna emas.


"Mas lihat itu." pekik Risa sambil menunjung ketengah kolam yang terdapat bunga teratai dengan ukurannya lebih besar dan berwana emas.


Bayi mungil itu sedang berbaring di atas kelopak bunga emas dan menangis kencang.


"tunggu disini aku akan membawanya kemari." ujar Yusuf segara memasukan kedua kakinya ke dalam kolam, ia berjalan ketengah kolam.


Air dalam kolam yang begitu dingin tak di pedulikan Yusuf ia melangkah pasti untuk tujuan menolong anak yang sedang menangis ditengah kolam.


sesampainya di sisi bunga terarai emas Yusuf segera meraih anak itu mengendongnya dan memebawanya ketepi kolam.


Risa segera mendekati sang suami yang menyerahkan seorang bayi perempuan yang manis.


"kasihan sekali kamu nak, tega sekali orang yang meletakanmu disana bahkan tanpa sehelai benangpun." cicit Risa.


"Mas buka saja pasmina milikku ini untuk menyalimuti bayi ini pasti kedinginan." kata Risa sambil mendekap bayi perempuan dalam pangkuannya.


Yusuf segera mengikuti perintah sang istri tanpa banyak tanya begitu bayi perempuan itu diberi selimut ia tak lagi menangis kencang Risa segera menimangnya sambil bersalawat.


"Mas belikan susu ia pasti haus." perintah Risa


"Iya sayang, Mari kita bawa pulang dulu." ujar Yusuf.


Mendengar akan dibelikan susu dan dibawa pulang bayi dalam gendongan Risa berhenti menangis ia tersenyum begitu manis.


"Mas bayi senyum mirip dengan senyummu." Cicit Risa riang.


sesampainya dirumah Risa meninggalkan bayi itu ke Yusuf sementara ia membuat susu farmula di dapur.


sepeninggalan Risa bayi dalam dekapan Yusuf menatap Yusuf sambil tersenyum.


"jagalah anak itu dengan baik yusuf kau dan Istrimu sudah sepantasnya memiliki seorang putri." ujar suara yang didengar Yusuf


"siapa itu?" tanya Yusuf setengah berteriak.


"jagalah dia, dia hadir untuk membatu Kakaknya Abi." suara itu kembali terdengar kali ini tak hanya Yusuf, Risa juga mendengar.


"Siapa kamu!" teriak Risa dan Yusuf bersamaan.


Risa memberikan susu farmula untuk bayi perempuan yang kini berada dalam pangkuannya.


"Mas liat dia haus sekali susu ini di habiskan dengan cepat. ucap Risa.


Yusuf tersenyum sambil mengusap kepala bayi perempuan yang ada dalam pangkuan sang istri.


setelah kenyang bayi perempuan itu tertidur dalam buwaan Risa.


beberapa detik berikutnya Bayi dalam pangkuan Risa menghilang menjadi sebuah cahaya kecil seperti kunang-kunag dan masuk kedalam rahimnya.


Risa serta Yusuf dibuat kanget dan panik


kedua terbagun dengan nafas tak beraturan.


"aku mimpi." ucap keduanya hampir bersamaan


"aku mimpi menemukan bayi di atas sebuag bunga teratai emas di kolam." jelas Risa.


"kunang-kunang itu masuk kedalam perutmu mungkinkah ia sedang bertumbuh kembang dalam rahimmu." gumam Yasuf


sambil menatap Risa.


"mungkin hanya bunga tidur Mas. itu hanyalah mimpi." tepis Risa.


"kenapa mimpinya sama pasti ada artinya sayang aku yakin." ujar Yusuf sambil mengambil air putih di atas nakas dan memberikan pada sang istri.


"sudahlah Mas, ayo tidur lagi." ajak Risa.


"kamu tidurlah, aku sholat malam sebentar." sahut Yusuf seraya beranjak keluar kamar.


"Aku ikut Mas." gumam Risa.


Di rumah Devan Abi terbagun dari tidurnya mendengar suara sang Ayah berteriak memanggil nama Mawar.


Dengan mata yang masih mengantuk Abi berjalan menuju kamar Devan dan mengetoknya, Abi memutar ganggang pintu kamar yang ternyata tak terkunci.


Devan sedang memeluk guling sambil mencium-cium dan menyebut nama Mawar barulang-ulang.


"Benar apa yang di ucapkan Om Mars, tadi sore. ada yang tidak beres dangan Ayah. sejak aku kemari tadi siang Ayah seperti memiliki dunia sendiri, suka melamun dan terkadang terseyum sendiri." Monalog Abi.


Abi mendekati Devan dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim Abi membagunkan Devan dengan menepuk pelan tangan Devan.


Tepat saat Abi menyentuh Sang Ayah Asap hitam keluar dari kepala Devan hal itu membuat Abi terkejut.


"Astagfirullah." cicit Abi sambil megusap dadanya.


Melihat Sang Ayah tak kunjung membuka mata membuat Abi kembali menyetuh Devan kali ini ia membaca surat Al-Annas dan meniup kekepala Devan.


Devan berteriak merasa kepala sakit dan panas.


Abi memejamkan matanya sambari berdoa memohon bantuan sang pencipta.


Dalam penglihatan pertama ia melihat seorang wanita berpakaian kerjaan seperti seorang putri raja masuk kedalam raga wanita lain yang sedang terbaring disebuah altar pemujaan.


penglihatan keduanya Abi melihat Wanita yang tubuhnya diambil alih oleh putri raja membaca mantra dan meniupkan tepat di kepala Devan.


Perlahan Abi membuka matanya melihat badan Ayahnya dipenuhi oleh berkeringat dingin.


"Ayah bagunlah." ucap Abi dengan suara sedikit keras sambari menepuk lengan Devan.


Defvan membuka matanya perlahan dan mendapati Abi berada dikamarnya membuatnya heran.


"Abi ada apa nak?"


"Tidak apa Aya,h apa kepala Ayah masih terasa berat dan pusing?" ujar Abi bertanya.


Devan bagun dan bersandar di kepala kasur.


"Kepala Ayah baik-baik saja tidak sakit atau pusing." jawab Devan heran dengan pertanyan Abi.


"Apa ada yang Ayah pikirkan saat ini?" Abi kembali menanyakan untuk memastikan.


"Tidak ada. memang kenapa?" Devan balik bertanya.


"Apa Ayah kenal wanita bernama Mawar?"


"Mawar, wanita yang tinggal dirumah Kakek." sahut Devan.


"Ayah suka padanya? apa Ayah memikirkan sebelum tidur hingga Ayah berteriak memenggil namanya. mimpi apa dengannya?" introgasi Abi


Devan tersenyum tipis sambil menarik sang putra untuk duduk di sampiangnya.


"Dengar Nak, kamu tidak perlu takut Ayah tidak akan menduakan kasih sayang Ayah badamu. jika nanti Ayah menikah, Ayah pasti memilih wanita yang bisa menyanggi kamu dengan tulus, dan menerima kamu sebagai anaknya juga." Jelas Devan sambil mengusap puncak kepala sang putra.


"Ayah ada baikanya Ayah belajar Agama dan mengamalkannya agar terhindar dari hal-hal gaib yang tak mata." ujar Abi.


"Ayah sudah belajar disekolah. Ayah rasa itu cukup untuk mengenal Sang pencipta!" kata Devan serius.


"Ayah semua demi kebaikan Ayah, Abi hanya bisa mengingatkan dan tidak memaksa Ayah." jelas Abi.


"Apa Maksudmu demi kebaikan Ayah?"


"Kita hidup tidak sediri Ayah banyak orang diluar sana ada yang kita kenal, dan ada yang tidak, ada yang baik, ada yang tidak ada pula yang munafik." ujar Abi.