Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Rumah Duka


Mars mengusap kasar wajahnya sambil


duduk di kursi ruang kerjanya. teringat kembali teman kuliahnya bernama Raka sanjaya seorang hacker yang handal sudah banyak kasus yang berhasil ia ungkap. untuk itulah Mars memebawanya pada Defvan agar mengijinkan Raka membatunya mengungkap khasus kematian Orang tuanya.


Awalnya Defvan menolak karana ia tak ingin banyak pihak luar tau masalah keluarganya, akan tetapi Mars memberikan alasan jika ia tak bisa fokus mencari bukti karna kadang tuan Willem menelpon karena mendapati kantor kosong, kau sibuk mengurus masalahmu untuk mengambil hak asuh anakmu Def, membuat Defvan Ahirnya mau tidak mau menyetuinya dengan syarat Raka tak boleh menceritakan masalah ini pada siapapun.


Raka menyetujui syarat yang di ajukan Defvan padanya.


mulai saat itu, Raka karja bekerja di bawah perintah Mars.


"sebaiknya aku kerumah duka dan memberikan konvensasi pada keluarga korban." ucap Mars beranjak dari tampatnya duduk pergi menuju rumah Raka.


dengan mengunakan mobil Mars menuju rumah duka, ia ingin melihat kembali jasad korban untuk yang terahir kalinya, sekaligus memastikan kebenaran hasil autopsi yang di lakuakan oleh pihak rumah sakit.


Dalam perjalan Mars mengingat kemabali ia berbicara pada Raka melalui sambungan ponsel sehari yang lalu.


flasback on


Raka menangatakan pada Mars melalui pangilan ponsel. ia sudah menamui dokter yang melakukan pemeriksaan terahir pada Ibu dari Defvan, Dokter itu ada di ruamah sakit jiwa. dua minggu setelah melakukan autopsi pada wanita bernama Reyana keylen ia menjadi Defresi entah apa yang menghantuinya ia selalu berteriak ketakutan seperti ada orang yang mengancam hidupnya. Cerita Raka saat itu.


tentu saja hak itu membuat teka teki baru bagi Mars, "sepertinya kasus ini akan sulit untuk ditangani." ucap Mars melalui penggilan telpon.


"tidak apa-apa kawan ini tantang untukku, kau taukan sejak dulu aku bermimpi menjadi detiktip selain menjadi hacker aku juga suka terjun langsung kelapangan untuk memastikan hasilnya." sahut Raka.


"Tapi Raka, terjun kelapangan seperti saat ini membahayakan keselamatanmu, bisa saja orang yang sedang kita cari ini penjahat kelas atas, jika kau ingin menyerah katakanlah tak usah memaksakannya." nasehat Mars.


"tidak, Mars aku sudah menemukan titik terang. dokter itu terkejut saat aku bertanya tentang Reyana kaylen wajahnya sekatika berubah menjadi pucat dan sangat takut. meski begitu aku tak menyerah aku bertanya. kenapa ia takut? wanita tua itu justru menjerit dan memintaku menjauh." jelas Raka


"tak kehabisan akal, Aku bertanya pada beberapa orang yang bertugas di sana. mereka bilang dokter Ria akan mengamuk bila malam bulan purnama. ia terus berteriak dan meminta tolong katanya ada orang jahat yang ingin membunuhnya. dari situ aku menyimpulkan jika orang yang sedang kita hadapi bukanlah orang yang sembarangan. dokter Ria yang dipercaya bertangung jawab atas pemeriksaan terahir Rayna keylen sebenarnya tidak gila. ia hanya dihantui rasa takut oleh seseorang, atau dia di teror, dan di ancam." cerita Raka.


"malam bulan purnama biasanya erat kaitannya dengan dunia mistis." sahut Mars.


"kamu benar Mars aku juga berpikir begitu, mongkin orang itu meminta bantuan dukun untuk membungkam mulut dokter Ria." sahut Raka.


"jika seperti itu, akan sangat sulit bagi kita mencari buktinya karna pelaku bukan melakukan dengan tangannya sendiri." ujar Mars.


"jangan berpikir sepeti itu dulu Mars, itu hanya kemongkinan, tidak seratus persen, bisa saja pelaku memang segaja mengarahkan ke arah sana untuk mengecuh kita." jelas Raka


flasback of


Raka segera memakirkan mobilnya ketika sampai di rumah duka rupanya sudah banyak tetangga dan keluarga yang hadir untuk melayat.


tanpa ragu, Mars masuk kedalam rumah duka untuk menemui ibu dari Raka, sesampainya di depan bu Rini (ibu Raka) Mars segera mencium tangan wanita tua yang sudah terlihat keriput itu tak lupa Mars mengucapkan turut berduka cita, ia juga memberikan sebuah cek pada Bu Rini. selain itu Mars juga meminta maaf sebesar-besarnya pada Bu Rini karna Raka meninggal saat bekerja untuk atasannya.


"sudah nak Mars tidak apa-apa saya sudah ikhlas mongkin ini sudah takdir Raka." ucap Bu Rini lapang dada.


"andai saja saya tau Bu, saya tidak akan meminta raka untuk berkerja pada atasan saya." tukas Mars menyesal.


"ini sudah janji Raka pada yang maha kuasa. kamu tak perlu menyesal begitu, iklhaskan kepergian Raka, Ibu tau kamu berteman cukup dekat dengan Raka sejak SMA, kita sama-sama kehilangan almarhum. sekarang yang bisa kita lakukan mengirim do'a untuk Raka dan Iklhaskan kepergiannya agar dia tenang." nasehat Bu Rini sambil menepuk punggung Mars.


"IsyaAllah bu, Mars iklhas melepas raka untuk selamanya, Mars juga sudah memaafkan semua kesalahan Raka selama berteman dengan Mars." ucap Mars bergetar menahan sesek.


"Terimakasih nak." ucap Rini sambil tersenyum meski raut sedih masih menghiasi wajah keriputnya berkali-kali ia meneteskan bulir bening dari matanya.


"Bu apa saya boleh melihat Raka untuk yang terahir kalinya." ucap Mars meminta ijin.


"silahkan Nak Mars, Raka mongkin sedang di mandikan oleh ustazd." sahut Bu Rini.


"Di mandikan? apa pihak rumah sakit, mengantar janazah Raka belum di mandikan?" tanya Mars.


Dalam hati Mars merasa senang karna ia dapat melihat seluruh badan Raka tanpa tertutup oleh kain kapan.


"Kami pihak keluarga sepakat janazah Raka akan di mandikan oleh Ustazd sesuai dengan keinginan Raka sewaktu kecil." ujar Bu Rini.


"Baiklah jika begitu, saya akan melihat janazah Raka dulu Bu." ucap Mars berpamitan meninggalkan Bu Rini.


Mars berjalan menuju tempat pemandian janazah Raka. ustazd Akbar maulana sedang membacakan do'a mandi janazah sambil menyiram dengan sangat perlahan, ustazd itu seakan takut jika janazah kesakitan. Mars memperhatikan tanpa berkedip ia memimta ijin pada seorang yang membantu yang ikut memandikan janazah untuk melihat hanya sebentar saja karna Raka teman baiknya.


Mars melihat Dada Raka berwana biru kehitaman, bagian belakang telinga raka berwana merah seperti bekas cakaran kuku. saat memeperhatialkan itu, takpa segaja Mars melihat Ustazd Akbar mengusap dada Raka yang berwana biru kehitaman sambil membaca do'a setelah di baca do'a warna biru kehitaman itu perlahan memudar membuat Mars membalakan matanya tak percaya.


Ustazd Akbar memberi isyarat pada salah satu orang yang membantunya untuk meminta Mars menjauh dan tunggu sampai Janazah selasai di mandikan jika ingin melihatnya.


"Maaf tuan sebaiknya anda pergi dulu dari sini, tunggulah sampai kami selesai memandikan dan memakaikan kain kapan pada janazah maka anda boleh melihatnya kembali." usir orang yang membantu Ustazd memandikan janazah Raka