
"Sial bisa-bisanya aku tertidur bukan mengawasi pohon itu malah aku tertidur." gumamnya tanpa memperhatikan sekitarnya yang sudah berubah.
matanya tiba-tiba membulat saat menyadari ia berbaring di atas dipan bukan pohon tempatnya semula tertidur.
"Hah dimana ini. gawat rupanya saat tertidur tanpa sadar aku sudah di pindahkan oleh seseorang kemari." batinnya.
Dewi terbangun di sebuah kamar bernuansa orange putih dengan pelan Dewi Bagun dari posisi rebahan ia turun dari dipan dengan sangat pelan takut jika sang pemilik kamar adalah orang yang memiliki niat jahat padanya.
ehemmmmmm.... suara seseorang membuat Dewi terperanjat pasalnya suara itu berasal dari belakangnya sebelumnya di Dewi sudah melihat sekeliling dan tidak ada jalan keluar atau masuk selain pintu kamar yang ada di depannya.
apa itu hantu jalas sekali aku tidak melihat siapapun masuk bulu-bulu halusnya berdiri membayangkan bila yang berada di belakangnya adalah hantu berwah seram.
"cah ayu...!! ucap suara itu seperti memantul di dinding menjadi berulang-ulang terdengar seperti suara nenek-nenek.
Dewi masih diam di tempat ia tidak berani menoleh entah mengapa rasa takut menyerangnya saat ini.
menyadari orang yang di ajak bicara tidak kunjung menyahut dan memalingkan wajah membuat wanita yang berada di belakang Dewi kembali bersuara.
"Cah ayu...!!" ucapnya kembali namun kali ini kakinya melangkah mendekati Dewi saat yang bersamaan jantung Dewi berdetak dengan sangat cepat ia ingin lari tapi kakinya seperti terkunci mulutnya pun tidak dapat bersuara.
saat sudah berada tepat di samping Dewi Wanita yang sudah tidak muda lagi itu memposisikan wajahnya tepat berada di depan wajah Dewi dengan ia menatap Dewi dengan mata orange miliknya dan tidak lupa senyuman Pepsodent andalannya.
ingin sekali Dewi berteriak namun suara tidak dapat keluar sama sekali dalam hati Dewi memaki mulutnya yang tidak dapat mengeluarkan suara dan kakinya yang tidak bisa lari dari tempat tersebut.
Nenek itu berbaju orange dengan tongkat kayu di tangannya wajah keriput surut matanya sangatlah tajam. Dewi menghela napas lega saat menyadari bila orang berada di dekatnya bukan seperti sosok yang ada banyangngannya.
Nenek itu mengeluarkan lidah bercabang milik menjilat sedikit permukaan leher Dewi tanpa Dewi tau Nenek itu sudah menghilang pengaruh sihir yang membuat Dewi menjadi seperti patung.
menyadari tangan dan kakinya sudah bisa digerakkan Dewi mencoba memanggil Nenek yang masih berada di sampingnya.
"Nenek...!!" serunya.
"Aku kira Cah ayu tidak bisa bicara(bisu)."jawab nenek dengan nada terdengar ketus.
"Maaf Nek saya dimana? dan siap nenek sebenarnya...?" tanya Dewi hati-hati.
"kau berada di rumahku." jawab Nenek itu singkat tanpa memberi tau siapa dia.
"rumah Nenek, sebelumnya aku berada di atas pohon berarti nenek yang membawaku ke rumah Nene...??"
"iya benar aku yang membawamu kemari andai aku terlambat kau sudah pasti menjadi santapan mereka.." sahut nenek itu dengan nada ketus.
"Mereka...??siapa...??"
"kau mengawasi pohon beringin kembar bukan?" tanya Nenek Balik sambari menatap tajam Dewi.
"iya Nek benar bagaimana nenek tau..? Dewi heran bukankah nenek itu menemukan dan membawa saat ia tertidur di salah satu dahan pohon yang lokasinya tidak jauh dari pohon beringin kembar.
"kau mengawasi tempat yang salah cah Ayu untung saja aku yang menemukanmu jika tidak daging mulus milikmu itu pasti sudah menjadi SOP santap malam mereka." jelas Nenek itu tanpa menyebutkan siapa mereka yang ia maksud.
"Nek bisakah nenek menjelaskan siapa mereka yang Nenek maksud..?dan ada apa dibalik pohon beringin kembar itu Nek..?."
Nenek itu mengajak Dewi duduk di tepi ranjang yang terbuat dari kayu di kamar tersebut Dewi mengikutinya.
"namaku Nyai Amban Sari. sudah lama aku tinggal di desa ini menanti kedatangan seseorang yang di takdirkan." ucapnya seraya menarik napas dalam.
Dewi diam ia masih menanti kelanjutan dari ucapan Nenek itu.
"rasa penasaran yang berlebihan bisa saja mencelakai kamu Cah Ayu jangan selalu menuruti rasa itu tanpa mempertimbangkan baik buruknya." nasehat Nenek dengan pandangan lurus ke depan pintu kamar.
Iya Nek namaku Dewi atau bisa dipanggil teratai emas. nenek itu menoleh dengan cepat saat Dewi menyebut teratai emas.
"jika kau memang benar orangnya maka jawablah pertanyaan sederhana dariku."ujarnya.
"Apa tujuanmu masuk ke hutan ini...?"
"Aku ingin menjadi kuat dan mampu melawan iblis terkuat sekalipun yang akan menghancurkan dunia." jawab Dewi mantap.
nenek itu terkejut mendengar jawaban Dewi pasalnya anak kecil seperti Dewi ingin melawan iblis yang benar saja pikirnya.
"Kau masih kecil Cah Ayu." Ucap Nenek tua itu meremehkan.
"Nenek tadi bilang sedang menunggu seseorang, siapa yang nenek tunggu Dewi bertanya teringat." ucapan nenek sebelumnya.
bukan menjawab Nenek itu malah meminta Dewi untuk memperlihatkan tehnik pengendali air yang di kuasainya.
"Coba kau perlihatkan padaku tehnik manipulasi air padaku...?"
"tidak mau kecuali nenek menjelaskan di mana tempat kita berada saat ini..? siapa mereka yang Nenek maksud...? dan apa tujuan Nenek membawaku kemari...??"
pertanyaan beruntun itu lulus dengan begitu lancar di mulut kecil Dewi.
"Kau berada di sebuah Desa siluman yang ada di balik pohon beringin kembar yang kau awasi sebelumnya. mereka yang ku maksud adalah penghuni desa ini adalah siluman yang bisa memakan manusia." Ungkap si Nenek.
"Desa siluman apa..?"
"siluman ular bermata merah"
"Apa...?? jadi Nenek siluman juga..?" sentak Dewi seraya menggeser tempat duduknya.
"Ya aku juga ular namun bukan ular siluman aku di kutuk menjadi ular dan hanya bisa berubah menjadi manusia di malam hari itupun dengan wujud nenek tua." jelasnya sambil melihat Dewi yang wajahnya sudah berubah pucat.
"siapa nama iblis yang ingin kau kalahkan itu Cah ayu...lanjutnya.
putri Arum ucap Dewi seraya berdiri hendak melarikan diri namun tanpa aba-aba Nenek itu berubah menjadi ular lalu melilit tubuh Dewi tersebut emas yang berada didekat pintu kamar.
"Nek lepaskan aku biarkan Aku pergi." minta Dewi dengan raut wajah memohon
tidak ada jawaban dari ular yang melilit Dewi justru menyeretnya pergi menjauhi pintu saat sudah berada di depan kain orange dengan matanya Nenek yang sudah menjadi ular itu mengunakan matanya untuk menjatuhkan kain yang ternyata menutupi sebuah cermin.
kembali ia mengunakan kedua matanya menatap cermin dihadapannya kedua mata itu bersinar terang dan beberapa detik kemudian muncul sebuah lubang besar Nenek itu membawa Dewi masuk kedalam cermin miliknya tanpa terluka sedikitpun.
saat sudah berada di dalam dunia cermin Nenek melepaskan Dewi dari ekornya.