
Meski hanya diterangi cahaya dari lentera dan rembulan dimalam hari warna ikan dalam telaga terlihat jelas dan sangat indah.
semakin lama sengatan di kaki Abi semakin kuat, Abi tetep dengan ekspresi datarnya seakan ia tak merasakan sakit.
meski demikian Rubah mengetahui bagaimana rasa disetrum oleh ribuan Ikan pelangi dalam telaga ia mengajak Abi untuk mengobrol.
"Tuan bagaimana rasanya?" tanya Rubah meski ia tau jawabannya.
"Seperti disengat aliran listrik bertegangan tinggi." ucap Abi datar.
"bagaimana Anda bisa mempertahan Ekspresi datar jika rasanya sesakit itu?" Tanya Si Rubah.
"tidak perlu menunjukan apa yang kamu rasakan kepada orang lain. terutama pada orang-orang yang menyayangi kita agar mereka tidak cemas terhadapmu." sahut Abi sambil menatap ikan-ikan didalam telaga.
"hmmmmm, saya curiga dengan seseorang, yang bisa membuat virus ini. akankah ia dalang dari menyebarnya virus tersebut." tukas Rubah.
"Siapa?" tanya Abi melirik sekilas Rubah berdiri disisi kirinya.
"saudara Kakakmu." sahut Rubah mantap.
"kau yakin dia masih hidup?" tanya balik Abi
"Entahlah, coba Tuan minta Kyai Ahmad melanjutkan kembali cerita massa lalunya. tentang Marcello dan juga Willem." ujar Rubah.
"baiklah ku akan tanyakan nanti." ucap Abi, ia juga penasaran kelanjutan cerita dari tiga sahabat karib kakeknya itu.
Abi mengangkat kedua kakinya ketika tak lagi merasakan sengatan listrik dikedua Kakinya
"Aku sudah selesai." cetus Abi segera bangkit dadi duduknya.
"benarkah?" tanya sang Rubah melihat kaki Abi yang digigit oleh ular sudah tak lagi terlihat.
"Ayo kita bergegas, jam empat kita harus sudah kembali jika tidak kita akan terjebak didalam hutan ini." jelas Abi sambil melangkah pergi diikuti oleh sang Rubah.
kurang lebih tigapuluh menit berjalan kini mereka telah sampai di sebuah danau yang ditengah-tengah danau terdapat satu bunga cantik berwarna ungu. bunga itu terlihat sedang menunjukan aktivitasnya satu persatu kelopaknya terbuka. bunga berwarna ungu itu tampak bercahaya seakan ada lampu yang tersimpan di setiap kelopaknya.
sayup-sayup Abi mendengar suara seseorang sedang berbicara.
seorang pemuda turun dari seekor burung gagak raksasa.
"gagak tunggulah disini Aku akan memetik bunga itu, saat ia sudah maker sempurna." ucap seorang pemuda memakai baju kerajaan.
"Kenapa tidak naik saja di pundakku aku akan membawamu terbang memetik bunga itu?" sahut sang Gagak.
"tidak bisa tugasmu adalah membuat kedua penjaga bunga itu lengah." jelas Sang pemuda.
"baiklah berhati-hatilah pangeran." sahut si Gagak.
"tentu saja demi adikku Aku rela mengambil resiko apapun." ungkap Sang pemuda yang di panggil pangeran oleh si Gagak.
Abi yang telinganya tajam sejak masuk kehutan selalu waspada tentu saja mendengar dengan jelas percakapan kedua mahluk tersebut.
"ia memiliki tujuan yang sama. sebaiknya aku menemuinya dan menanyakan untuk tujuan apa ia memerlukan bunga itu." batin Abi.
Abi berjalan dengan langkah pasti ia mendekati pemuda tampan yang ia yakini seorang pangeran entah dari kerjaan mana.
"Permisi Tuan" ucap Abi sopan
pemuda itu menatap datar dari ujung kaki hingga ujung rambut, ia terlihat bingung manakala mendapati baju celana dan sepatu yang di gunakan oleh Abi tak seperti dirinya dan orang-orang di istananya.
"berasal dari mana laki-laki ini?" batinnya.
"Namaku Abimanyu, salam kenal pangeran." ungkap Abi sambil tersenyum.
"tak perlu takut saya orang baik, saya menyapa anda sekedar ingin bertanya apa anda ingin mengambil bunga tengah danau?" Tanya Abi tanpa berbasa basi
"iya kamu benar." sahut Pangeran Wijayakusuma.
"Kau tidak akan bisa mengambilnya jika tak memiliki ilmu kanuragan danau ini beracun tak ada yang selamat saat masuk kedalam danau." ucap pangeran Wijayakusuma menceritakan.
"saya tau demi orang yang saya sayangi saya siap mengambil resiko." ucap Abi mantap sambil menatap bunga yang sudah hampir mekar sempurna.
"jika kamu bisa mengalahkan saya, kamu boleh mengambil bunga itu." tantang pangeran Wijayakusuma sambil menatap lekat wajah Abi.
"bolehkan saya tau apa yang membawa anda sampai berani mengambil resiko ke danau ini hanya demi mendapatkan bunga ungu yang cantik itu?" tanya Abi
"sama sepertimu, Adikku sedang sakit sudah beribu-ribu tabib silih berganti datang mengobatinya tak ada yang bisa membuatnya sembuh. ia bahkan tak lagi memiliki semangat hidup." cerita pangeran Wijayakusuma entah mengapa mulutnya itu ingin sekali menceritakan kesedihan serta penyakit sang Adik pada Abi.
"jadi Anda berharap bunga ditengah danau bisa mengobati penyakit Adik Anda Tuan?" tanya Abi.
"tentu saja hanya itu harapan kami satu-satunya." jelas Pangeran Wijayakusuma.
"Apa nama penyakitnya?" tanya Abi
"Adikku mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya?" sahut Pangeran Wijayakusuma.
"jika aku bisa menyembuhkannya akankah kau membiarkanku mengambil bunga cantik itu." tutur Abi
"kamu, menyembuhkan nenekmu kamu tidak mampu bagaimana aku bisa percaya padamu." ucap pangeran Wijayakusuma.
"penyakit yang diderita oleh nenekku kerena virus berbahaya yang hidup didalam tubuhnya. berbeda dengan penyakit Adikmu pangeran." sahut Abi.
"tidak ada salahnya memberikannya kesempatan." batin pangeran wijayakusuma.
"baiklah kau bisa ikut denganku. jika kamu tidak bisa menyembuhkan adikku maka jangan menghalangiku mengambil bunga di danau itu." ujar pangeran Wijayakusuma.
"Baik pangeran." sahut Abi mantap
"Gagak Ayo hantarkan kami kembali." perintah pangeran.
"Naiklah." perintah pangeran Wijayakusuma saat Gagak hitam itu sudah berada tepat dihadapannya.
Tak mau membuang waktu Abi segera naik ke punggung gagak diikuti oleh pangeran Kusuma.
Tak lupa Abi membawa serta Rubah dalam gendongannya.
Abi begitu senang melihat pemandangan indah malam dari atas meski angin terasa sangatlah dingin menerpa wajahnya ia tetep tersenyum
mata Abi menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya Gagak itu berkali-kali membawanya menembus Awan sebuah kerajaan megah berdiri kokoh tertangkap olah pandangan matanya. sang Gagak berhenti tempat didepan kerajaan tersebut.
"ayo masuklah." perintah pangeran Wijayakusuma.
Abi mengikuti masuk kedalam istana bersama Si rubah dan gagak yang mengubah ukurannya menjadi kecil dan bertengger di bahu kiri pangeran Wijayakusuma.
Prajurit serta beberapa penjaga yang mereka lewati menunduk hormat.
"Wijayakusuma siapa pemuda yang bersamamu?" tanya seorang laki-laki menghentikan langkah sang pangeran.
"Dia temanku yang akan mengobati Dewi saraswati." sahut Pangeran Wirakusuma melirik sekilas pageran Wirageni.
"Apa temanmu, hahahahah jangan mengarang Wirakusuma kau itu hanya anak selir disini tidak ada yang benar-benar tulus berteman denganmu, aku yakin pemuda ini juga sama." ujar pangeran Wirageni.
"saya hanya bermaksud menolong tidak mengharapkan imbalan mapapun jika tidak diijinkan saya akan kembali." ucap Abi .
"bagus jika kamu mengadari segeralah kembali jangan mengijakan kaki kotormu di kerjaan ini bisa-bisa sial kerna kedatanganmu." tukas Wiragani.
"Kakak keterlaluan setiap aku membawa orang untuk mengobati adik kakak selalu menghalanggi, apa kakak tak ingin melihat Adik sembuh?" tanya Wirakusuma.
"tentu saja aku ingin Dewi saraswati sembuh tapi, aku tidak yakin dengan orang yang kau bawa ini bisa menyambuhkan Dewi saraswati." sahut Wirageni meremehkan.
"saya tidak memiliki banyak waktu bisakah kita lebih cepat." ungkap Abi.
"jagan menggangu Romo Wirakusuma Romo sedang mengadakan pertemuan dengan beberpa petinggi kerjaan." cegah Wirageni.