
Mars berjalan menuju dinding goa yang telah terbuka dengan langkah waspada sambil mengucap bismillah ia melangkah masuk begitu langkahnya masuk ia di kejutkan dengan keadaan di dalam sana yaitu gurun pasir dan ada beberapa tanaman kaktus yang tumbuh di sana di ada lagi gelap seperti halnya di hutan dan goa di sana terasa panas karena matahari tidak ada yang menghalanginya sebagaimana di hutan sebelumnya.
"Apa lagi ini?? di kirim kemana lagi aku??" batin Mars sembari mengawasi sekitarnya.
"apapun tempat ini aku harus bisa keluar hidup-hidup dari sini." semangat Mars ia kemudian berjalan ke arah kanan.
Di tempat lain Abi membuka kedua matanya setelah sekian lama ia berzikir menyebut nama sang penguasa tubuhnya terasa lebih berenergi dari pada sebelumnya dengan keyakinan hatinya ia berdiri dan akan mengikuti langkah kakinya membawanya sesuai petunjuk yang ia dapatkan saat sedang bertafakur.
Abi juga menyakinkan dirinya bila tidak ada makanan yang bisa di makan maka ia akan berpuasa ia menyerahkan segala urusannya hanya pada sang pemilik kehidupan. sebuah keajaiban pun terjadi padanya matanya yang awalnya tidak mampu melihat didalam hutan kabut tiba-tiba saja mampu melihat dengan jelas bahkan hewan sekecil jarum pun dapat dilihatnya.
Abi tersenyum miring. "benar dugaanku kabut ini sengaja dibuat oleh seseorang yang tentunya memiliki tujuannya tersendiri. Namun ia melupakan sang pencipta jauh lebih hebat darinya." gumam Abi, kemudian segera mengucapkan syukur atas kemurahan hati sang pemilik semesta.
tidak Ada satu mahluk pun hidup ada manfaat tidak ada pula usaha tanpa keberhasilan, jika seseorang gigih tanpa putus asa maka sebuah keberhasilan pasti akan ia dapatkan olehnya, yang terpenting selalu bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Dan jangan pernah menyombongkan dirimu karena tanpa campur tangan darinya kita tidak akan mampu. itulah nasehat dari Yusuf yang selalu di ingat oleh Abi.
"Ayah kau selalu hidup di dalam hatiku, segala nasehatmu menuntunku menjadi manusia yang terus menerus memperbaiki diri berharap dapat menjadi lebih baik dari hari ke hari."
entah dari arah mana asalnya sebuah panah melesat menuju Abi Untungnya tingkat kewaspadaan Abi cukup tinggi hingga ia bisa menghindari serangan yang mengarah padanya.
untung saja aku tidak menurunkan kewaspadaan. batin Abi sembari mengelus dada.
melihat dari arah anak panah itu berasal Abi tidak melihat apapun kecuali pepohonan dan tanaman liar yang tumbuh cukup lebat.
"kemana perginya orang yang melepas anak panah ini sudah jelas orang itu ingin mencelakai aku." Abi berbicara pelan sembari mencabut anak panah yang menancap di sebuah pohon.
dalam diamnya Abi mengamati ujung anak panah yang ternyata memiliki racun mematikan.
"untung saja aku tidak terkena panah bila saja mengenai tubuh ku bisa di pastikan racun itu membunuhku bila pun bisa selamat aku akan tetap mengalami kecacatan. siapa sebenarnya orang yang menyerang ku ini harus kuakui keahlian membuat racunnya patut di acungi jempol." kata Abi sembari mencium mencium aroma racun yang menempel di ujung anak panah di tangannya.
Abi memejamkan matanya sebentar untuk memanggil rubah dan naga emas di dalam cincin Dimensi miliknya namun sayangnya mereka tidak mendengarkan Abi.
Ada yang tidak beres aku harus memastikannya cicit Abi seraya mencoba masuk ke dalam cincin Dimensi miliknya tetapi hal aneh terjadi Cincin miliknya tidak dapat ia masuki.
"mustahil cincin Dimensi ini sudah mengikat kontrak darah denganku lalu kenapa sekarang aku tidak bisa masuk kedalamnya." batin Abi bingung sendiri.
"Apa ini ulah dari Kakek Han."
Saat Abi mencoba masuk kedalam cincinnya ada semacam dinding batu terbuat dari es abadi yang tidak bisa tembus ditambah dengan kabut yang menghalangi pandangannya.
"teryata orang yang mengirim kami kemari benar-benar sudah memperhitungkan segalanya, orang itu benar-benar ingin kami semua hanya mengandalkan diri sendiri tanpa ada satupun yang boleh membantu." pikir Abi.
setelah suara teriakan Abi angin berhembus kencang mengugurkan dedaunan diri pohonnya anehnya daun-daun ini semua terbang ke arah Abi...
stttttttttt.....sttttt......stttttttt......
leher dan bahu Abi tergores daun yang ternyata tajam hingga meninggalkan luka membuat Abi menyadari bila daunan ini sengaja di kendalikan seseorang untuk menyerangnya.
"musuhku Disni bukan hanya memiliki tenaga dalam kuat tapi dia juga memiliki ilmu pengendali khusus yang dapat memanfaatkan segala sesuatu yang ada dalam hutan ini." pikir Abi.
"keluarlah jangan bersembunyi seperti orang yang tidak memiliki wajah." ejek Abi sembari menghalau semua daun yang masih saja menyerangnya dari berbagai arah.
tidak ada sahutan ataupun tanda-tanda orang yang keluar dari persembunyiannya namun serangan masih tetap berlanjut.
pengecut ....!!! seru Abi.
dedaunan yang menyerang Abi berhenti dalam sekejap mata bahkan angin dan suara binatang tidak terdengar suaranya justru membuat Abi semakin waspada.
sebuah kesunyian bisa mengandung bahaya besar yang tidak terlihat oleh mata manusia saat ini.
Abi mengusap lehernya yang terasa perih dan ia mendapati darah segar ditangannya saat memeriksanya.
pantas rasanya perih ternyata luka berdarah aku harus mencari segera tanaman yang bisa menghentikan darah ini terus keluar gumam Abi seraya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
tanpa Abi tau Aroma darah segar yang tercium membangkitkan siluman ular Iblis yang bersemayam di dalam tanah ribuan tahun lamanya.
Ular besar itu membuka matanya yang telah sekian lama terpejam mulutnya berdesis dan lidah bercabang khas miliknya sesekali keluar dari mulutnya. tampak matanya berbinar mengetahui darah yang mampu melepaskan ia dari belenggu yang mengurungnya ribuan tahun lamanya.
Abi memeriksa kakinya yang ternyata juga mengalami luka sayatan dari daun-daun yang sempat menyerangnya sebelumnya. bahkan darah itu ada yang sudah menetes ketanah yang melewatinya.
cepat-cepat Abi merobek lengan bajunya untuk membersihkan luka di kakinya itu.
darah Abi yang di serap oleh tanah sampai ke kulit ular iblis di dalam tanah hanya satu tetes darah Abi saja sudah membuat perlahan ekor yang membatu kembali seperti sedia kala.
tawa ular sang iblis menggema membaut siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri termasuk Abi dan teman-teman yang bisa mendengar suara tawa itu sepertinya sang pemilik ilusi sengaja membuat mereka semua mendengar tawa itu agar rasa takutnya muncul dan menyerah.
Di sisi lain Dewi yang tertidur di atas dahan pohon bermimpi bertemu dengan Ratu bidadari ia seperti mendapatkan sebuah pesan dari mimpi tersebut dari sang Ratu untuk segera di sampaikan kepada Kakaknya.