Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Darah keturunan


Empat orang lelaki berbeda usia di sebuah lestoran menyantap makanannya masing-masing dengan lahap, di iringi oleh sebuah lagu klasik yang diperdengarkan pada semua pengunjung restoran.


Etah berasal dari mana sebuah suara membuat Ustazd Akbar terperajat kanget.


"Auuuuummmmmmm." suara itu seperti Binatang buas yang sedang mengaumm.


"Siapa kamu tunjukanlah wujudmu." ucap Ustzd Akbar berucap melaui batinnya.


"jangan mengganggu auuummmmmm." sahut suara itu sambil mengaum buas.


"Aku tidak tau siapa orang yang kamu maksud?" tanya Ustazd Akbar sambil berpikir.


"Mars khalin Diponogoro." jawab Suara itu sambil megeram.


Ustazd Akbar tersentak mendengar jawaban Binatang buas yang berbicara dengannya.


"teryata pemuda ini memiliki darah keturunan jendral perang pageran diponogoro pantas saja jika Aura cukup kuat ternyata berasal dari penjaga kris milik nenek moyangnya." batin Ustazd Akbar sambil mengangguk paham.


"maafkan aku tidak bermaksud menganggunya." batin Ustazd Akbar menjawab.


Ustazd Akbar tak lagi memdapat jawaban dari binatang gaib yang menjaga Mars namun ia tau pasti saat ini gerak geriknya masih diawasi.


"Mars didalam darahmu mengalir darah seorang panglima perang terkuat, aku yakin jika kau dilatih dengan benar kau bisa mejadi seorang yang kuat sama seperti kakek buyutmu." batin Ustazd Akbar.


"Akbar makanlah makananmu." tegur Kyai Hasan.


'Maafkan aku kak." sahut Ustzd Akbar.


selesai menghabiskan makanannya ustazd Akbar segera ke kasir membayar semua hidangan yang mereka nikmati.


"Nak Mars jika ada waktu berkunjunglah ke padepokan kami." ucap Kyai Hasan.


"baiklah, aku juga rindu dengan lingkungan pesantren." sahut Mars.


"Apa sebelumnya kamu pernah tinggal di pesantren?" tanya Kyai Hasan.


"iya saat sekolah libur Ramadan aku akan belajar agama dipesanteren. meski hanya pada bulan Ramadan aku merasa cukup senang mempelajari Agama bersama teman-teman." cerita Mars sambil mengenang masa lalu.


"itu bagus nak, jangan pernah meninggalkan kewajibanmu sebagai umat muslim." nasehat Kyai Hasan.


"kami menunggumu di padepokan." Ucap Ustazd Akbar menimpali sejak tadi ia mendengarkan percakapan keduanya.


"Ayo kita kembali kerumah sakit!" ajak Ustzd Akbar sambil beranjak dari tempatnya duduk.


mereka ber-empat berjalan hingga sampai kembali kerumah sakit.


"Mars menghampiri Defvan dan berucap. apa urusanmu sudah selasai tuan Defvan?" tanya Mars.


Defvan mentap sambil tersenyum masam.


"iya aku sudah selasai bagaimana denganmu." sahut Defvan.


"ya, perutku sudah terisi penuh mari kita pulang." ajak Mars.


"kau makan bersama putraku kenapa tidak mengajakku?" tanya Defvan dengan wajah kesal.


"Hey Abi lihatlah Ayah kandungmu ini merajuk karna tak di ajak makan." pekik Mars sambil melihat Abi.


"kita basa makan bersama Lain waktu Ayah bahkan menghabiskan waktu lebih lama." sahut Abi.


mendengar itu Defvan tersenyum senang.


"Baiklah Ayah.menunggumu dirumah besok kamu harus menginap dirumah Ayah." ucap Defvan sambil menatap Risa serta Yusuf.


"Ya Abi ayah dan Bunda sudah memberikan ijin, nanti setelah rapot kenaikan kelas dibagikan Ayah akan mebicarakan perpindahanmu." tegas Yusuf.


"pindah?" tanya Defvan.


"Ya kami sepakat memindahkan Abi belajar di sebuah pesantren." ucap Risa.


"pesantren? kenapa harus di pesenteren? bukankan masih banyak sekolah yang bagus di kota ini selain pesantren." tukas Defvan sambil menatap Risa.


"Karna aku ingin anakku memahami berbagai hal tentang Agama." sahut Risa.


"tidak Abi akan mengantikanku memimpin perusahan jadi dia tetap harus bersekolah di sekolah bertarap internasional." ucap Defvan ketus.


"Defvan anakmu sedang di incar oleh sebuah kekuatan jahat untuk melindungginya ia harus tinggal di area pesantren dan belajar Agama." ucap Mars tanpa sadar matanya berkilat dengan warna emas.


"Apa maksudmu Mars?" Defvan bertanya dengan ekpresi wajah binggung.


"Aku hanya memperingatkanmu jika kau ingin anakmu selamat maka biarkan ia menuntut ilmu Agama." sahut Mars tegas detik berikutnya ia ambruk tak sadarkan diri.


Abi dan Yusuf mendekat memeriksa keadaan Mars.


"Om Mars hanya pingsan mongkin karna lelah." tandas Abi.


Belum sempat Defvan dan Ustazd Akbar mengangkat Mars mengerjabkan matanya perlahan membuka sambil memijat pelipisnya terasa berdenyut.


"Mars kau tak Apa?." ucap Defvan segera membatu Mars duduk dikursi.


"Ya, kepalaku terasa berat dan pusing." sahut Mars.


"masuklah kekamar lawatku kau perlu istrhat." perintah Yusuf


"tidak papa Dokter Yusuf tidak perlu cemas." sahut Mars dengan nada lemah.


"Om mars munumlah." ucap Abi memberikan segelas air putih yang sudah ia campur dengan dengan obat untuk memulihkan tenaga Mars kembali.


Mars menerima dan meminumnya hingga tak tersisa.


"terimaksih." Abi ucap Mars tulus.


"Sama-sama Om mars ,sabaiknya Ayah memberikan Om Mars cuti." tukas Abi.


"Ya kamu benar nak, Mars aku mengijinkanmu beristirahat mengambil cuti selama satu minggu." ucap Defvan.


"Terimakasih Def akan kugunakan dengan baik." sahut Mars.


Dretttttttttt drettttt


ponsel milik ustazd Akbar bergetar didalam saku.


Asslamuikum jawab Ustazd Akbar sambil berjalan menjauh.


"walaikum salam." Akbar jawab istri Ustzd Akbar.


Abah tiga santri kita meninggal karna virus yang secara sengaja ditujukan untuk santri kita. ucap Ustazah Emma ( istri ustazd Akbar)


"Innalilahiwainailaihirajion." sahut Ustazd Akbar.


"Abah sebaiknya Abah pulang Pihak keluarga menuntut padepokan atas musibah ini." terang Ustazah Emma.


"baiklah Ummi, Abah pulang secepatnya." sahut Ustazd Akbar melalui sambungan ponselnya.


"Ya sudah Abah Umi mau buatkan Aisah(cucu Ustazd Akbar) makan dulu Assalamulaikum." pamit Ustazah Emma.


"Waalaikum salam Ummi ."sahut Ustazd Akbar kemudian mematikan sambungan ponsel miliknya.


Ustazd Akbar berjalam menghapiri Kyai Hasan dan memberikan isyarat untuk mengikutinya.


tanpa benyak kata Kyai Hasan mengikuti Ustazd Akbar berjalan ketaman rumah sakit. sesampainya disana Ustazd Akbar segera memulai obrolan serius.


"Tiga santri kita dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit." terang Ustazd Akbar.


"keluarga dari korban menuntut padepokan atas masalah ini." ungkap Ustazd Akbar.


Kyai Hasan memejamkan matanya mencoba menawarang dari jarak jauh apa yang sebenarnya terjadi di padepokan.


Kyai Hasan melihat seseorang membagikan roti manis pada beberpa pegandara motor dan pejalan kaki yang sedang ber-olahraga pagi termasuk tiga santri yang hari itu bertugas menyapu dedaunan kering dihalaman padepokan.


virus itu tidak bereaksi cepat hingga setengah jam berlalu barulah korban merasa pusing lemas dan sesak kemudian tak sadarkan diri.


Kyai hasan juga melihat orng itu mengunakan cadar dan pakaian gamis panjang serba hitam.


tak sampai disitu kyai Hasan melihat jika orang gersebut melempar seuatu ke area padepokan seperti kain putih yang dibentuk menyerupai pocong.


Kyai Hasan segera membuka matanya dan berucap. "Ayo kita bantu kakak segera." tegasnya mantap.


"bagaimana dengan Umi dan Abi?" tanya Ustazd Akbar.


"kita akan memantaunya dari jauh dan untuk menjaga disini serahkam saja pada rubah milik Marcello aku yakim dia bisa di andalkan." tukas Kyai Hasan.


"Alangkah lebih baik lagi jika Mars juga ikut menjaga Abi." cetus Ustazd Akbar.


"Mars kau mengetahui sesuatu tentang pemuda itu?" tanya Kyai Hasan.


🍀🍀🍀


Mohon maaf sebesar-besarnya jika Author mengunakan nama pageran Diponogoro sebagai tokoh dalam novel ini, semua yang author tulis semata karangan auhor sendiri tidak ada kaitannya dengan cerita sejarah pangeran Diponogoro.