Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Menunggu


Abi mencerna dengan baik setiap kaliamat dalam cerita si Rubah beberapa detik berikutnya ia mengganggukksn kepalanya.


"ibu kamu bilang dia tidak memuja dan bersekutu dengan iblis lalu bagaimana dengan menyembah apa dia juga tidak menyembah batu hitam itu?" tanya Abi.


"maksud Anda ibu saya menganggap batu itu Tuhannya?" Rubah putih bertanya balik.


"mongkin saja begitu, ia bilang batu itu bisa memberikannya Umur yang panjang wajah yang awet muda. jika uang bisa di cari tidak dengan umur dan kecantikan yang abadi." ucap Abi.


"anda benar sekali tuan jika ibu saya menyembah batu itu artinya dia tak lagi percaya pada agama yang kami anut selama ini." ucap Rubah dengan wajah kecewa.


"itu baru asumsi belum seratus persen." ucap Abi menenagkan.


"Apa bedanya memuja dan menyembah?" tanya Rubah kemudian.


"jelas berbeda dari sudut pandang saya, jika memuja edentik dengan pesugihan yang di lakukan per-orangan atau per-keluarga. sedangkan menyembah menganggap Tuhan yang bisa mengambulkan keinginannya dan dapat membawa orang lain menjadi pengikutnya. jelas Abi


Rubah mengangukan kepalanya mengerti.


"Astaga jika itu yang ibu lakukan jelas berbaya bagi kelangsungngan hidup manusia." ucap Rubah sambil menggais daun dengan menggunakan tangannya.


"Apa kamu memakan daun?" tanya Abi yang sejak tadi memperhatikan rubah di hadapannya.


"ya jika saya sakit aku akan memakan daun obat-obat untuk menyembuhkan sakit itu." sahut si Rubah.


Abi mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban yang di berikan rubah atas pertayaannya.


"oh ya kenapa kamu begitu percaya mau menceritakan masa lalumu padaku?" tanya Abi penasaran.


"tentu saja saya begitu percaya pada anda taun Abimanyu karna ada orng di tunjuk oleh tuan Marsello untuk saya ikuti selanjutnya." jelas si Rubah putih.


"kamu kenal dengan kakekku?" tanya Abi.


"tentu saja dia yang membawaku dari hutan." jelas Rubah sambil mengingat masa lalu.


"baiklah jika begitu, aku akan bertanya banyak hal padamu, tetang kakekku kau harus menceritakan semua kisahnya." minta Abi.


"baiklah nanti akan ku cicil ceritanya sedikit demi sedikit karna terlalu panjang." tukas Rubah.


"ada hal yang penting yang harus saya sampaikan pada anda tuan." ucap Rubah serius.


"katakanlah." perintah Abi datar.


"Anda ingat dengan kematian mengejutkan yang terjadi pada Raka sanjaya beberapa tahun yang lalu?" tanya Rubah.


"ya aku masih mengigatnya dia meninggal karna dua serangan satu dari obat dan satu lagi dari api banaspati." jelas Abi.


"aku merasa orang mencalakai Raka sanjaya memiliki aura yang sama seperti batu milik ibuku." ucap Rubah.


"Dan jika benar ada hubungannya Anda harus lekas menemukan tiga kitab lain peninggalan nenek moyang Anda untuk di pelajari." jelas Rubah.


"Apa begitu penting tiga kitab itu?" tanya Abi datar.


"tentu Tuan selain itu Anda juga harus pergi kepadepokan menimba ilmu agama sebagai fondasi hidup untuk menghalagi kekuatan jahat atau ilmu hitam menghalangi tujuan Anda." perintah sang Rubah.


"saya akan mengantar Anda ke padepokan kyai Hasan jika anda mau malam ini pun aku siap." ucap Rubah bersemangat.


"apa kakek yang meminta semua itu?" tanya Abi.


"iya Tuan Marsello sepertinya melihat suatu yang mengerikan akan memporak-porandakan dunia maka dari itu ia mencarikan beberapa guru untuk Anda mempersiapkan diri sejak dini." jelas Rubah.


"oke panggil saja aku jika anda ingin pergi ke padepokan aku akan menemani." sahut Rubah ramah.


"baiklah aku pamit dulu, Bunda akan cemas jika aku melewatkan jam makan ucap Abi berjak dari temapatnya duduk lalu pergi tanpa menoleh kembali."


"Aku akan menunggu anda taun kecil ucap Rubah itu lantas pergi ketempat persembuyiannya.


**********************


Di tempat Rumah Defvan tak kehabisan Akal untuk membawa Abi ikut dengannya.


saat ini kamar milik Abi dirumahnya sudah diperbesar dengan berbagai macam miniatur motor, robot sampai biskop mini ada disana. Defvan membuat untuk kenyamaan Abi dan betah tinggal bersamanya.


"besok aku akan membawamu kemari Abi kamu pasti akan suka kamar barumu." gumam Defvan antusias sambil tersenyum.


aku tidak akan membiarkan Yusuf mengambil alih hakku, yang di katakan Daddy benar kamu adalah anakku Abi sudah semestinya kamu munurutiku, aku ingin kamu meneruskan perusahan ini kau adalah pewaris tunggal untuk semua hartaku saat ini. monalog Defvan.


aku akan mencoba berbicara lagi pada Clarissa semoga dia bisa mengerti semua untuk kebahagian. Abi batin Defvan sambil beranjak dari tempatnya duduk karna sudah waktunya ia menghadiri rapat.


berpindah kepadepokan sebuah pesanten.


tiga orang guru besar sedang duduk mengobrol santai di sebuah Gazebo.


Di sela obrolan ya ustzd Akbar maulana berkata. "sudah bertahun-tahun berlalu sejak mengirim pesan untuk Abimanyu Alfarizi anak itu belum juga datang." ucapnya sambil menatap dedaunan yang tertiup angin.


"apa kamu yakin pesan itu sudah di sampaikan?" tanya Kyai Hasan.


"pesan itu sudah tersampaikan, tapi anak itu tidak tau pedepokan mana yang kamu maksud, itu kelasahanmu Akbar." sahut Kyai Ahmad.


"Astgfirullah kenapa aku bisa lupa akan hal itu." tukas Ustazd Akbar maulana.


Kyai Hasan dan Kyai Ahmad hanya memberikan senyuman manis pada adik seperguruan itu.


"tak perlu cemas adik, jika memang sudah takdir dan jalannya ia akan datang sendiri kita tunggu saja." ungkap Kyai hasan (Kakak kedua) dengan nada suara lembut tak ada kemarahan yang terlihat meski Ustazd maulana melupakan hal yang pinting.


"Ya Hasan benar kamu takperlu menyalahkan diri sendiri, cukup ambil hikmah dari setiap kejadian yang dialami."Kyai Ahmad(kakak pertama)


"tapi Kakak kedua aku mencemaskannya. kelompok mereka samakin bertambah, sadangkan kita belum mempersiapkan anak itu sesai perintah Marsello.sahut Ustazd Maulana.


"tunggu satu minggu lagi, jika tidak ada juga kau dan ustzd Akbar maulana berkunjunglah kerumah Umi Salamah untuk bersilaturahmi." saran Kyai Ahmad.


Kyai Hasan dan Ustazd maulana mengangguk setuju.


Aku melihat masalalu wanita itu mengabil tulang sum-sum anak laki-lakinya. cerita kyai Ahmad.


"untuk apa tanya Ustazd." maulana binggung


"untuk di berikan pada tuhannya." sahut Kyai Hasan di angguki oleh kyai Ahmad.


"apa dia juga masih meminum darah setiap purnama untuk membuat wajah dan kulitnya kencang." tanya Ustazd Akbar maulana.


"aku tidak tau! itu karna aku tidak bisa mencium auranya." hanya Rubah cilik peliharan Marsello yang tau itu.


sum-sum tulang itu gunanya untuk apa tanya Ustazd Akbar.


"aku juga tidak tau pasti, ada yang mengatakn itu bisa memperkuat tulang-tulang pada tubuh jika di makan."


"Adik benar orang itu terus menambah pengikutnya. kapan kita bisa bergerak jika Cucu Marsello itu belum bersama kita." ucap Kyai kyai hasan.