
Zahra mengatur napasnya perlahan mimpinya terasa begitu nyata mengngingat kembali mimpinya membuat Zahra menjadi cemas.
Menoleh ke samping tempatnya tidur zahra melihat Dewi yang tertidur nyenyak namun ada keringat yang membasahi wajah cantik Dewi.
" Di ruangan ini ada ac udara pun diluar dingin kerena baru turun hujan sore tadi kenapa anak ini berkeringat, jangan-jangan ia sedang bermimpi buruk." monalog Zahra.
Aku harus memastikannya batin Zahra.
Zahra perlahan memejamkan matanya sembari berdoa meminta petunjuk. tidak sampai lima menit Zahra membuka kembali matanya dengan wajah yang terlihat kwartir entah apa yang ia lihat, sekali lagi Zahra menyentuh Dewi dan detik berikutnya tangannya terasa sangat panas samakan yang ia sentuh adalah bara api.
Gawat aku harus segara membangunkan Kyai dan memintanya membatu membangunkan Abi dan Dewi batin Zahra bergagas memakai hijab lengkap dengan cadarnya kemudian berlari menuju kamar yang di tepati Kyai Ahmad.
Tok.... Tok.... Tok......!!!
Zahra terus mengetok tidak sabaran datak jantungnya semakin cepat wajahnya begitu terlihat cemas.
"Asalamuikum kyai." ucap Zahra tak lupa ia mengucapkan salam begitu pintu terbuka.
"Walaikum salam nak Zahra, ada apa?" Meski kyai Hasan yang membuka pintu itu sudah tau ada yang tidak beres saat melihat sorot mata Zahara namun belum bisa memastikan apa gerangan yang membuat anak dari sahabatnya terlihat panik.
"Putri Arum membawa sukma Abi dan Dewi kyai." Jelas Zahra sambil mengatur napasnya yang cepat kerena baru saja berlari.
"Astagfirullah." seru Hasan di ikuti Kyai Ahmad juga mendengar apa yang di ucapkan Zahra.
"Nak Zahra tunggu kami di ruang tamu sebaiknya kamu mengambil Wudhu, tenangkan dirimu kita bersama-sama membatu Dewi dan Abi. Ujar Kyai Hasan sambil melihat sekilas kyai Ahmad yang turun dari ranjang.
"Baik kyai." sahut zahra ia berlalu pergi.
"Ini salahku Hasan aku lupa memperkuat perisai gaib di rumah ini dan lupa memberi pesan pada Abi serta Dewi membaca doa dan beberapa surat pedek sebelum tidur." Kata Kyai Ahmad sambil menunduk menyalahkan dirinya sendiri.
" Sudahlah Ka, jangan begitu, manusia memang tempatnya salah dan lupa sebaiknya sekarang kata cepat membantu." Sahut Kyai Hasan menenangkan sahabatnya.
"Kamu benar Hasan, Aku berwudhu dulu." pamit Kyai Ahmad sambil berlalu.
Tidak menunggu waktu lama Kyai Hasan sudah bergabung bersama kyai Ahmad di ruang tamu ada pula Mars, Yusuf, Devan, dan Wijaya menunggu sedangkan Zahra mencoba membangunkan Sang Ayah.
" Kyai, Abuya tidak bisa dibangunkan mungkin mimpiku tadi memang terjadi." ucap Zahra pelan nyaris tidak terdengar sambiri duduk di sofa.
"Mimpi apa Zahra?" Mars bertanya mewakili semua orang.
"Zahra bermimpi Nur memberikan paku emas untuk menusuk kaki putri Arum agar kekuatannya dapat diserap oleh paku itu, Awalnya ia meminta Zahra yang melakukannya namun Abuya menggantikan Zahra." cerita Zahra
Kyai Hasan memejamkan matanya begitu mendengar ucapan Zahra, mulutnya kumat kamit membaca doa. Roh sang kyai Keluar mencari keberadaan sang sahabat.
" Sambil menunggu sebaiknya salah satu dari kita menjaga ustadz Akbar." perintah Kyai Hasan.
" Biar saya saja." ujar Mars mengajukan diri.
"Baiklah nak kau buat perisai gaib untuk melindungi dirimu dan Akbar sepertinya aura negatif masuk ketampat ini." pesan Kyai Ahmad.
Kyai Hasan membuka matanya lalu mentap kyai Ahmad berbicara mengunakan isyarat mata.
" Zahra kamu bantulah Ayahmu saat ini ia sedang berada ti tempat Putri Arum untuk menjalankan tugasnya, tapi aku tidak melihat Nur disana. Bila ayahmu sudah selasai cepat kamu bantu Ayahmu kembali kedalam jasadnya." ujar Kyai Ahmad dengan serius di angguki Zahra.
" Mintalah bantuan Mars bila kamu tidak sanggup melakukan sendiri. "pesan kyai Hasan.
" Ayo kita juga bergegas membatu Abi dan Dewi. "ajak Kyai Hasan bengkit dari duduknya menuju kamar Abi.
Semua berjalan menyikuti dua tokoh agama yang berjalan menuju kamar Abi.
Sesampainya dikamar Abi, hawa panas terasa sekali padahal Ac disana sedang menyala.
" Kita pindahkan Abi kemar Dewi segera". perintah kyai Hasan.
Yusuf di bantu Wijaya mengangkat Abi menuju kamar Dewi.
Tidak jauh berbeda kamar Dewi juga terasa panas bagai berada ia antara kobaran Api yang sedang menyala.
"Ayo kita bersama-sama membaca ayat suci kita penggil kembali sang pemilik tubuh dengan bantuan yang maha memiliki." ajak Kyai Ahamad.
Di sebuah lembah Api, Abi dan Dewi sedang bertarung melawan naga Hitam milik putri Arum. Jaga itu terus menyemburkan api panas dari mulutnya.
Ada pula makhluk menyerupai iblis yang terbuat dari Api yang kini berhadapan dengan Dewi.
Abi sudah berkali-kali terpental kerena tidak depat mengimbangi kekuatan lawan di tubuhnya juga terdapat luka luka yang disebabkan oleh ekor naga yang berkali kali melemparnya.
"Kenapa tidak menyerah saja dan jadi pengikutku!!!" teriak putri Arum ia berdiri di sebuah batu hitam ada di lembah tersebut.
"Aku tidak akan menyerah dan tunduk pada wanita iblis." sahut Dewi lantang sambil memengangang dadanya yang terkena pukulan dari salah satu makhluk Api.
"Keras kepala!, aku hanya menawarkan baiklah bila kamu tidak mau maka nikmatilah. Hai pengikutku bangkitlah bangkitlah semuanya serang dua manusia munafik itu." perihtah Putri Arum sambil membentangkan tangannya dan mulut kumat kamit membaca mantra.
"Kaka kembalilah biar aku yang menghadapi wanita itu." Dewi mencoba mengunakan telepati untuk berkomunikasi dengan Abi meski tidak begitu yakin sang Kaka bisa mendengar ucapannya.
" Tidak Dewi kita menghadapi bersama-sama ayo Dewi kita berdoa dan meminta bersungguh-sungguh Kakak yakin pasti ditolong." sahut Abi melalui telepati pula ia terus menghindar dari serangan naga hitam itu.
"Kak tilepati kita masih fungsi rupanya ayo kak kita coba kekuatan kita siapa tau ditempat ini bisa digunakan." ujar Dewi Girang.
Sayup - sayup Abi mendengar suara orang mengaji.
"Itu dia, Dewi ikuti suara orang mengaji itu ikuti meski hanya dalam hati." perintah Abi masih melalui telepati.
"%'Mengaji dimana aku tidak dengar. "ujar Dewi sambil memfokuskan pendengarannya hingga tanpa disadarinya dua satu makhluk yang Api menendang secara bersamaan
Bruukkkkkkkk belakang Dewi terkana serangan yang begitu dahsyat
Bruukkkkkkkk satu lagi tendangan dari samping kirinya terapa bagaikan tertimpa batu panas menjalar keseluruhan persendiannya.
DEWI.....!!!!!! Teriak Abi yang melihat sang Adik terjatuh kelembah Api karena keseimbangan ya tidak dapat dipertahankan.
AKKKKKKKKHHHHHHHH......!!!!! tarik Abi bahu kanannya di gigit oleh sang Naga.
Haahahaahahahhahaha Putri Arum tertawa puas.
Dewi merasakan seluruh tubuhnya terbakar di dalam Api didalam lembah.
Dewi memejamkan matanya sambil berdoa dalam hatinya
"Ya Allah jika memang ini ahir dari hidupku maka aku ikhlas tapi bila belum waktunya maka berilah aku kekuatan untuk melawan manusia yang ingin merusak iman dari Hamba-hambamu." Rasa sakit di tubuhnya kian terasa menyiksa Dewi berpasrah sambil mengucap "Laillahaillah muhamad rasulallah."