
saat rubah sedang asyik menikmati buah apel, terdengar suara seorang mengucap salam sambil berjalan mendekat.
"Assalamualaikum!" seru Laura.
"Waalaikum salam." sahut Abi cepat sedang si rubah bersembunyi dibawah meja.
"kalian sedang makan?, sedangkan aku di perintah berbelanja cuaca panas begini, capek!" keluh Laura sambil memanyunkan bibirnya.
"Tenang Ka Laura, Abi sudah sisakan makanan untuk Kaka, jika tidak mau makan menu yang seperti ini Abi akan memasak lagi untuk Kaka." kata Abi menyahut.
"kesempatan ini kapan lagi si Bos menawarkan diri melayani bawahan batin." Laura sambil nyengir.
"Aku tidak mau makanan ini. Aku mau SOP iga bisakah Tuan Abi membuatkan untukku." Minta Laura dengan wajah memelas.
Rubah yang berada di kolong meja mengumpat mendengar permintaan Laura. "Dasar wanita tidak tau malu bagaimana bisa ia memerintah sesuka hatinya. meskipun Tuan kecil sudah menawarkan diri seharusnya sebagai bawahan ia sadar diri." umpatnya.
"Pangeran Wijayakusuma, putri Larasati teruskan makan kalian. Aku akan membuat SOP iga untuk Ka Laura." ujar Abi sambil meletakan Sendok, garpu di piring yang sudah kosong.
"Laura berdecak melihat cara makan Wijayakusuma dan Putri Larasati. apa harus begitu cara makan seorang yang tinggal di istana." batin Laura.
"Kalian lambat sekali saat makan." tegur Laura sambil duduk di kursi.
"Maaf nyai, bila kami melakukan kesalahan." Ujar Putri Larasati bersuara.
"Panggil Gue Laura saja bukan Nyai." ucap Laura datar.
"Ka Laura jangan bersikap keras pada mereka kedua, temanku adalah putri dan pangeran kerajaan, bahasa modern kita sulit dipahami oleh mereka." teriak Abi sambil mengeluarkan sayur dan bumbu dari dalam kulkas.
"Astaga apa Abi serius dengan ucapannya mereka memang dari Alam yang berada." gumam Laura.
Selesai makan, Putri Larasati dan pangeran Wijayakusuma berjalan mendekati Abi tanpa memperdulikan Laura duduk di meja makan sendiri.
"oh Astaga mereka bahkan tidak membereskan meja makannya." umpet Laura.
rubah putih yang berada di kolong meja menahan tawa.
"pangeran, putri ingin belajar memasak?" tanya Abi ramah.
keduanya mengangguk kepala.
"baik, tapi setelah belajar ini pangeran dan putri harus membersihkan diri dikamar mandi masing-masing." perintah Abi tak mau dibantah.
"Ananda siap." ucap keduanya hampir bersamaan.
Abi dengan sabar mengajari putri Larasati membuat bumbu SOP iga sedang pangeran Wijayakusuma memotong sayur sesuai perintah Abi.
sambil menunggu iga sapi di presto Abi menumis bumbu SOP Larasati diminta untuk mengaduk di penggorengan meski awalnya ragu pada akhirnya ia menikmatinya karena begitu menyukai aroma bumbu SOP yang ia masak.
"terimakasih sudah membatu Abi sebaiknya pengeran, putri segera membersihkan diri Akan di bantu oleh Ka Laura dan Rubah." kata Abi.
"Baik." jawab Wijayakusuma di anggukki Larasati lantas berlalu menuju kamar.
"Ka Laura bantu putri Larasati membersihkan diri, Ajari cara mengunakan pakaian dan berdandan." perintah Abi setengah berteriak dari tempatnya berdiri.
"benar-benar merepotkan jika bukan Abi yang meminta aku sudah kabur dari sini." ucap Laura sambil mengumpat.
"Ka Laura tidak ikhlas membantu Abi." teriak Abi walau tak mendengar setiap ucapan Laura namun ia dapat melihat gerak gerik bahasa isyarat tubuhnya.
Di toko kuenya Risa sedang melayani seorang pelanggan yang ingin memesan kue ulang tahun untuk anak kembarnya.
"Bu Risa, anak saya yang perempuan mau kuenya dibuat seperti istana Frozen Elsa, saudara kembarnya mau istana negeri dongeng." jelas Si ibu.
"Apa di sini bisa membuatkan kue sesuai keinginan anak saya?" lanjutnya.
"Saya perlu bertanya dulu dengan anak saya Bu, jika ia Anak saya menyanggupinya saya akan menerima pesanan ibu." sahut Risa ramah.
"Baiklah, bisakah dipastikan secepatnya saya masih harus mengurus keperluan yang lain." tegas Si ibu menjawab.
"silahkan tinggalkan nomor telepon ibu, saya akan menghubungi begitu mendapat kepastian dari anak saya." kata Risa.
"Kenapa tidak sekarang dipastikan, saya sanggup membayar berapapun asal keinginan anak-anak saya terpenuhi." ucap Si ibu sedikit memaksa.
"Maaf Bu, kami tidak mempermasalah uang, saat ini anak saya sedang ada urusan diluar begitu dia kembali saya akan segera memberitahu perihal kue pesanan ibu." jelas Risa.
"seperti itukah kalian selama ini memperlakukan pelanggan. ingat pelanggan itu raja tanpa pelanggan kue-kue milikmu ini akan membusuk tanpa hasil." ucap si ibu setengah berteriak.
"jika bukan karena keinginan Anak saya, saya tidak akan mau memesan kue di toko kecil milikmu ini." bentaknya.
"maaf Bu, bila ada ucapan saya menyinggung ibu." ujar Risa.
"cepat pastikan sekarang juga." perintah ibu tersebut tak mau dibantah.
"jika ibu memang ingin memesan kue disini mohon bersabar, percayalah saya akan menelpon begitu anak saya menyanggupi keinginan ibu, saya tidak berani menyanggupinya lebih dulu tanpa bertanya padanya." jelas Risa memohon pengertian si ibu.
"Kamu berani sekali bersikap begini meremehkan aku. kau lihat saja surat ijin usahamu akan segera di cabut. baru punya toko kecil begini belagu." kata si ibu dengan wajah tak suka.
"saya sudah meminta Maaf dan pengertian ibu, jika kedatangan ibu hanya ingin mengajak berdebat sebaiknya ibu tinggalkan toko saya." usir Risa.
"Kau berani mengusirku !!, lihat saja aku akan membalasnya. Aku pastikan usahamu ini akan tutup selamanya." ancam Si ibu lantas beranjak meninggalkan Risa.
Risa tak menjawab ia menetralkan
emosinya dan segera meminum air putih sembari memejamkan mata.
tanpa Risa tau ibu itu menjatuhkan cincin berlian miliknya di toko Risa.
"Assalamualaikum Risa." seru Ratih sembari berjalan mendekati sang putri.
"Waalaikum salam Bu, kebetulan ibu datang, Risa mau istirahat sebentar di atas kepala Risa mendadak pusing." jelas Risa sembari berdiri dari kursi kasir tempatnya duduk.
"Ibu sudah bilang kamu itu harus istirahat dirumah kandungan kamu kasih lemah, kamu gak mau mendengarkan." omel Ratih.
"hanya pusing saja Bu, setelah dibawa istirahat akan sembuh." sahut Risa pamit meninggalkan Ratih yang menggantikannya menjaga toko.
Sesampainya di atas Risa segera duduk di tepi kasur sambil meluruskan kakinya ia sengaja tak memberi tau Ratih perutnya kram.
Risa berbaring mencari posisi nyaman sambil memejamkan matanya mengingat masa lalu yang indah bersama Abi berharap bisa mengurangi Kram diperutnya.
benar saja kram berangsur menghilang bersamaan dengan itu Dewi teratai emas membawa roh sang Bunda melihat sesuatu yang tak dapat dilihat Risa saat melayani pelanggannya tadi.
Dengan matanya jelas Risa melihat wanita itu menjatuhkan cincin di toko kue miliknya. kegunaan cincin itu untuk menyerap kekuatan Dewi teratai emas yang masih berada dalam kandungan Risa.
tidak sampai disitu saja Dewi teratai emas juga menunjukkan niat jahat pelanggan Bundanya tadi yang sempat terbaca olehnya. Wanita paruh baya itu ingin mempermalukan Abi dan toko kue milik Bundanya.