
Meski malam berselimut mendung tak mampu menghalangi niat baik Defvan untuk bertemu dengan Keluarga Yusuf.
"Mars ayolah kau tidak terlihat tidak senang menemaniku kerumah." sakit tegur Defvan.
"tidak bukan begitu, aku hanya meresa lelah, selama ini Aku mengerjakan pekerjaanmu dikantor dan itu membuat tenangaku terkuras." keluh Mars sembil menyetir mobil milik Defvan.
"ini salahku andai aku tak bertidak gegabah semua tidak akan terjadi." sahut Defvan sendu.
"tidak, Def bukan maksudku menyelahkanmu semua sudah berlalu, jadikanlah pelajaran dan lihatlah kedepan." tukas Mars.
"terimasih Mars kaulah orang yang selalu ada untukku dalam keadaan apapun." ungkap Defvan.
tak terasa mobil yang dikemudikan Mars telah sampai di rumah sakit.
Mars dan Defvan turun dari mobil lantas berjalan masuk kedalam rumah sakit.
Defvan yang memang sudah tau ruang kerja Yusuf berjalan dengan santai sesekali ia tersenyum sendiri.
Mars yang menyadari Atasanya bersikap Aneh menggelingkan kepala.
"Defvan sebegitu senangnyakah kau bertemu dengan Istri darI Dokter Yusuf." mguman Mars sambil melirik Defvan dengan ekur matanya.
sesampainya di depan kamar rawat Umi salamah Mars dekagetkan dengan hadirnya Ustzd Akbar.
"Assalamulaikum." ucap Mars menyapa.
"Walikum salam." ucap semua yang sedang duduk di kursi tunggu.
Abi dan Yusuf keluar dari kamar rawat Umi dan ikut bergabung duduk dikursi yang di disediakan pihak rumah sakit.
"bagaima Yasuf ada perkembangan?" tanya Ratih.
"Disekujur tubuh ibu muncul bintik-bintik merah. saya tidak bisa memastikan virus seperti apa yang menyerang Umi." terang Yusuf.
"aku rasa virus yang menyerang Umi sama dengan Virus yang menyerang tiga santri di padepokan kami." ucap Kyai Hasan menimpali.
"tiga orang itu tidak akan selamat." celetok Abi tiba-tiba sambil menatap kosong.
Mars yang tau Abi kemiliki kemampuan khusus menatap nanar.
"Apa maksdukmu Abi?" tanya Risa dan Ratih.
"Tidak Abi hanya asal berbicara hehehhe ." elak Abi.
"Aku percaya apa yang dikatakan Abi pasti akan terjadi capat atau lambat." batin Mars.
Kyai Hasan tersenyum mendengar ucapan Mars meski hanya di ucapkan dalam hati Kyai hasan dapat mendengar dengan jelas.
Kyai Hasan menepuk pelan pundak Mars, belum sempat kyai Hasan mengangakat tangan sebuah sengatan sepeti listrik mengaliri tangannya yang berada di punggung Mars..
"Siapa sebenarnya pemuda ini?" batin Kyai Hasan pemasaran.
Mars mendapat tepukan di pindaknya tersentak kaget.
"Ada apa pak Kyai?" tanya Mars.
"tidak apa nak, siapa Namamu tanya? Kyai Hasan ramah.
"Mars khalin." sahut Mars singkat.
"Khalin, aku seperti pernah mendengar nama Khalin di sebut Oleh kakak sepulang dari sini aku harus menanyakannya." Monalog kyai Hasan.
Yusuf dan Defvan terlihat sedang mengobrol Mars hanya memadang sekilas ia lebih tertarik mendekati Abi.
"Hai Abi lama tak bertemu." sapa Mars sambil menepuk pelan pundak Abi.
"hallo Om Mars, ada apa dengan mata Om Mars?" tanya Abi menatap leleki jakung yang berada di sampingnya.
"ini semua karna Ayahmu selama dia penjara Om terpaksa mengantikan semua tugasnya." keluh Mars.
"hemmmm Abi mengangguk paham, Om minta saja cuti dan istrhat yang cukup." saran Abi.
"Kamu benar Abi, Om memang perlu Cuti otak Om perlu di refres biar tidak penuh." sahut Mars sambil terseyum.
"Oh ia om Mars Abi sudah tau padepokan yang Om maksud dulu. Rencananya setelah Ayah Yusuf dan Oma sembuh Abi mau belajar di padepokan." jelas Abi.
"Orang yang menitip pesan untukmu dulu ada di situ." ucap Mars sambil menunjuk dengam dagunya.
"Hehehhe, ayo Om kita ketaman rumah sakit saja mengobrolnya." ajak Abi sambil berdiri.
"Bunda,Abi sama Om Mars ketaman rumah sakit ini Ya sekaliam mau beli minum." ucap Abi meminta ijin.
Risa yang sedang mengobrol dengan Ratih menganggukan memberikan ijin.
Abi dan Mars berjalan menuju taman rumah sakit sambil sesekali mereka mengobrol ringan.
"Berapa lama Om Mars berteman dengan Ayah?" tanya Abi.
"semanjak Om pindah kekota ini dan sekolah disini." jelas Mars.
"berarti Om bukan penduduk Asli sini?" tanya Abi sambil duduk di kursi taman.
"nenek moyang Om asli orang yogyakata ini, orang tua Om yang merantau kekota lain karna alasan pekerjaan." ungkap Mars.
"Siapa nama nenek moyang Om? tanya Abi entah mengapa ia begitu penasan dengan asal usul keluarga Mars.
"kau bertaya seperti itu membuatku terlihat seperti sedang diwawancarai." tukas Mars.
"oh Maaf jika Om tidak berkenan menjawab tidak apa Abi hanya sedikit penasaran dengan Om mars yang memiliki aura positif." jelas Abi.
"Aura positif apa maksudmu?" Tanya Mars bingngung.
"setiap menusia itu memiliki aura masing-masing Om nah didalam dirimu Om itu aura positif begitu bersih yang mana hal itu bisa menjadi pelindung untuk diri Om sendiri." jawab Abi
Mars semakin binggung mendengar jawaban Abi ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak ganal.
"jangan dipikirkan Om suatu saat nanti Om akan mengerti." ucap Abi penuh mesteri.
Mars mentap dedanunan yang saring bergesekan tertiup angin disetikar taman tanpa menjawab ucapan Abi.
Utazd Akbar dan Kyai Hasan menghapiri Abi dan Mars berniat mengajak makan bersama.
Abi, Mars ikutlah makan dengan kami ajak Ustazd Akbar.
"Ayo Om kita makan diluar bersama pak Kyai." ajak Abi
baiklah sahut Mars sambil berdiri dari tempat duduknya diikuti oleh Abi.
Mereka berempat berjalan keluar rumah sakit, Abi mengajak ke lestoran yang berada tak jauh dari rumah skit .
saat masuk kedalam lestoran mereka di sambut oleh waitress dengan Ramah.
"Abi mau makan nasi kebuli Ayam saja." ucap Abi saat membuka dan membaca buku menu.
Witress mencatat satu persatu pesanan setelahnya ia lantas pergi.
"nak Mars apa kamu sudah lama tinggal di kota ini tanya?" Kyai hasan memulai obrolan.
"sejak Saya masuk sekolah menengah Atas." sahut Mars sambil menatap jalan melalui melalui kaca lestoran.
"Dimana tempat tinggalmu sebelumnya?" tanya Kayai Hasan.
"Di turki Ayah bekerja ksana." sahut Mars.
"jika Ayahmu bekerja disana kau dan orang tuamu terpisah?" tanya Ustzd Akbar menimpali.
"Ia Aku tinggal bersama nenek disini, Ayah dan Ibuku mengalami kecalakan setelah mengunjunggiku kekota ini." cerita Mars menatap datar.
Seorang Witerss mengatar pesanan meraka menyusun dengan rapi di meja. tak lupa ia mempersilahkan pelanggan untuk menikmati hidangannya.
"Nenekku juga meninggalkanku tak lama setelah kedua orang tuaku meninggal." cetus Mars sambil mengingat wajah nenek yang begitu menyangginya.
Kyai Hasan meminum kopi yang ia pesan sesekali ia memejamkan matanya mikmati kopi racikan seorang barista di lestoran itu