
Selesai sholat subuh berjamaah, Abi bersama Dewi berniat ke kebun buah dirumah Umi salamah, keduanya meminta ijin kepada Risa.
Usai mendapatkan ijin Abi bersma Dewi dengan hati senang berjalan menuju rumah Umi salamah.
"Assalamualaikum." ucap Abi sambil mengetuk pintu rumah Umi.
"Walaikum salam." jawab seorang pembantu paruh baya sembari membuka pintu utama.
"Mbuk selamat pagi, Oma ada?" tanya Abi.
"Ada Den Abi di Kamar, silahkan masuk." Sahut Art sambil tersenyum.
Abi masuk di ikuti Dewi, adik Abi itu sesakali bernyanyi riang hingga sampai ke depan kamar Umi suara nyanyian di mulut kecilnya berhenti seketika.
"Abi mengetok pintu kamar Umi namun tidak ada sahutan diri dalam Mungkin Oma tidur." batin Abi berpikir positif.
"Buka aja Ka Abi, untuk memastikan Oma di dalam ada atau tidak." cicit Dewi, Abi mengikuti ia menekan hendel pintu perlahan hingga pintu terbuka Abi masuk Dewi masih setia mengekur di belakang.
"Assalamualaikum Oma, apa kabar?" ujar Abi yang melihat Umi sedang berdiri de depan jendela kamar sembari menghirup udara segar.
"Yang aku tunggu Akhirnya datang." Sahut Umi dengan suara parau.
Abi tersentak mendengar suara Umi namun ia masih berpikir positif. mungkin Oma sakit tenggorokan begitu pikirnya, namun tidak dengan Dewi ia mengepalkan tangan kecilnya dengan mata menatap tajam ke arah Umi salamah.
Dewi beranjak mencari tasbih yang biasa digunakan Umi untuk memuji kebesaran yang maha kuasa.
"Apa yang kamu cari Anak manis?" tanya Umi meski tanpa berbalik sedang Abi masih terpaku dengan pikirannya.
Dewi tidak menjawab ia masih mencari dengan membuka lemari milik Umi namun tidak juga menemukan apa yang di cari.
"Ka Abi sadarlah, jika kita terlambat membantu Uma bisa kehilangan nyawanya." pekik Dewi sambil berjalan kembali ke samping Abi.
Abi terperajat ia lantas mengusap cincin naga miliknya tanpa menunggu waktu lama cincin itu mengeluarkan cahaya biru Abi mengarahkan cincin itu ke arah Umi.
Umi menhindar dengan cara merayap seperti cicak ke atas pelapon kamar Umi.
"Dewi menarik kasar napasnya, sejak aku lahir entah kemana otakmu Kak." batin Dewi menatap Abi kesal.
"Ka Abi iblis dan jin itu takut dengan Ayat-ayat suci bukan cincin sakti." pekik Dewi.
"Umi tertawa mendengar celotehan Dawi, Anak manis jadilah anakku ikutlah bersamaku." ajaknya.
"Aku tidak tertarik ikut, apalagi tinggal dengan mahluk buruk rupa seperti dirimu." jawab Dewi dengan suara cemprengnya.
"kami berani menolak aku." tandas Umi yang tubuhnya dikuasai jin suruhan putri Arum.
"YA tentu saja, untuk apa aku takut dengan mahluk buruk sepertimu." lagi-lagi Dewi mengejek jin yang berada dalam tubuh Umi.
jin itu menjadi marah matanya merah ia menyertakan giginya lalu menjatuhkan dirinya secara sengaja untuk menyakiti sang pemilik tubuh.
Abi sigap menangkap tubuh Umi hal itu tentu di manfaatkan dengan baik oleh jin tersebut untuk membelanggu Abi sayangnya niatnya terbaca oleh Abi dan Dewi keduanya bekarja sama untuk menarik jin itu keluar dari badan Umi.
Saat jin memeluk erat Abi dengan belanggunya Abi membaca ayat suci pengusir jin tentu saja itu membuat jin yang memeluk Abi merasa panas dan melepaskan Abi dari dekapannya namun kini giliran Abi memeluk tubuh Umi yang masih dikuasai jin, Abi tersenyum tipis mengedipkan matanya ke Dewi.
"Kakak gunakan otakmu untuk menolong Oma, Dewi harus pergi menolong Kak Wijaya, jin ini sengaja dikirim kemari untuk membuat kita sibuk." ucap Dewi lantas ia segera berlalu
Umi sempat menghalangi Dewi dengan cara mengejarnya dan berteriak marah, melihat itu Abi tidak tinggal diam ia menarik kembali tubuh Umi dan mempelkannya ke dinding kamar tantu saja dengan mulut Abi yang tidak berhenti membaca ayat-ayat suci.
"bacalah terus baca sampai mulutmu lelah dan matamu mengantuk aku tidak akan keluar." ujarnya jin dalam tubuh Umi dengan Suara serak.
"Mulutmu beleh saja membaca ayat suci tapi hatimu tidak, munafik!!" tawa jin itu mengemma membuat Abi menutup telinganya dan menghentikan bacaannya.
Abi berbicara dengan naga emas miliknya tapi naga itu tidak menjawab panggil telepatinya.
"HAhahahahaha, kamu mencari bala bantuan anak muda? percuma, tidak ada yang akan bisa menolong kamu kecuali diri kamu sendiri." ujarnya menyeringai.
Jin itu membawa sukma Abi pergi dari rumah Umi salamah.
"Selamat datang Abimanyu senang bisa berjumpa denganmu." ucap seorang wanita berparas cantik.
"Muja( jin yang merasuki tubuh Umi salamah) kau boleh pergi anak ini biar jadi urusanku." ucap wanita cantik itu.
Mata Abi seakan lupa untuk berkedip ia terpesona melihat kecantikan tanpa cela milik wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
Tanpa berucap sepatah kata pun Muja menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada tuannya lantas menghilang dalam sekejap mata.
Wanita cantik itu tersenyum begitu manis untuk Abi, ia berjalan mendekati Abi hingga menyisakan jarak satu langkah saja. Hal itu membuat Abi panas dingin etah kerana apa ia tidak mampu mengalihkan pandangan mulutnya begitu sulit untuk mengucapkan kata meski dia sudah berusaha.
"Tak aku sangka seorang Abimanyu begitu terpesona akan kecantikan yang aku miliki. "ujar wanita cantik itu lagi-lagi ia tersenyum begitu manis untuk Abi.
"Ikulah denganku, maka kamu bisa menikmati kecantikanku bahkan lebih dari itu." ucapnya.
"Apa yang dilakukan wanita ini padaku kenapa aku menjadi tidak bisa berbuat apa-apa? dimana teman-temanku yang lain mengapa mereka tidak mendengar aku meminta pertolongan." batin Abi.
"Apa yang kamu pikirkan ayo kita bersenang-senang, ikutlah denganku."ajaknya
"Abimanyu." suara Risa terdengar jelas di telinga Abi.
" Bunda." Batin Abi.
Begitu mendengar suara sang Bunda ingatan kembali pada masa lalu saat ia pertama kali masuk ke sekolah.
"Abi jangan takut, walau Bunda tidak berada di samping kamu Bunda akan selalu berdoa untukmu dimanapun Bunda berada.
Tidak perlu takut dengan orang jahat Nak, berdoalah dengan tulus dan bersungguh-sungguh pada Allah, Ia pasti akan menolong kamu dengan caranya." nasehat Risa.
Wanita cantik di depan Abi tidak berhenti menggoda iman Abi. Sekali jari lentiknya bergerak ingin menyentuh Abi.
Di waktu yang tempat berbeda.sama Dewi teratai berhasil menolong Wijaya dari cengkeraman ratu Kuntilanak Merah.
" Hati-hati KA Wijaya dua wanita yang berada dimarkas Nenek sedang dikuasai oleh iblis. "ungkap Dewi menjelaskan.
" Ka Wijaya ayo telpon lagi polisi yang membantu Kaka tadi malam segera." minta datang secepatnya kesini perintah Dewi.
Dewi bersama Wijaya berada di tanah kusong yang ada dibelakang Markas Perkumpulan Sakte. Tepatnya dibawa pohon beringin besar.
Setelah Kuntilanak merah yang di musnahkan lelaki paruh baya tadi malam, keduanya berpisah kembali menuju rumah masing-masing. Dalam perjalanannya Wijaya dicegat oleh tiga Kuntilanak merah dan di bawa ke istana mereka yang berada di pohon beringin belakang markas Marcella.