Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Permintaan Kyai


seorang pelayan keluar dari rumah Devan terburu-buru ingin mencari sahabatnya dipasar namun langkah terhenti saat sebuah suara memanggilnya.


"Pelayanan." panggil William dengan wajah yang terlihat penuh keringat dan sebagian bajunya juga kotor entah apa yang dilakukan ayah dari majikan itu membuat Pelayan yang di Panggilnya menatap penuh tanda tanya.


"Mau kemana kamu? ." tanya William datar.


"Saya mau kepasar pa teman saya ida yang pergi kepasar mencari beberapa bahan masakan untuk Nona Lasmi belum juga kembali sudah lebih dari dua jam saya takut Non Lasmi mengamuk bila makanan belum. Juga ada." Jawabnya.


"Tadi Devan melelponku katanya seorang pelayan dirumah ini ada yang mendadak meminta ijin untuk pulang kampung karena orang tuanya sakit parah dan saya di minta menyampaikan pada kalian namun saya lupa karena asyik mengobrol dangan putri Lasmi." jelas William.


Agi(nama pelayan) mencoba mencerna ucapan William sebelum menjawab. Apa mungkin Naya pulang tanpa memberi tau kami, seharusnya dia beri tau agar aku tau yang lain bisa mengantikan tugasnya membeli sayur. Batin Agi termenung.


Apa yang ingin cucuku makan tanya William mengagetkan Agi.


"Nona mau sop daging tuan." Sahut Agi.


"William mengambil tiga lembar uang ratusan dan menyerahkan pada Agi sambil berucap. Kamu beli sop danging yang sudah masak dengan porsi yang besar saya takut Lasmi." terlalu lapar menunggu kalian membuatnya. Perintah William.


"Baik Tuan saya permisi." ucap Agi terburu-buru ia takut mendapatkan amukan dari anak majikannya.


Melihat punggung pelayan semakin menjauh William berbalik arah menuju kebun tempat ia menguburkan mayat pelayan tadi sambil berbicara. Aku harus melakukan sesuatu untuk membuat para pelayan disini percaya dengan ucapanku.


Bagitu menemukan sebuah ponsel yang di yakni William adalah milik korban Lasmi yang baru ia kuburkan segara ia menyimpan ponsel itu untuk lalu pergi dari rumah sang putra tanpa pamit.


DI waktu yang sama Dewi dan Abi berada di rumah milik Kyai Ahmad ada pula Zahra dan Mars yang terlihat duduk di sofa lantai mereka ingin mendengarkan tuan Kyai mengajak mereka berkompul dirumahnya.


Hening tidak ada satupun yang berbicara mereka menunggu yang punya Membuka suara terlebih dahulu.


"Silahkan dinikmati semua yang ada di meja jangan sungkan anggap saja rumah sendiri. "ujar Kyai Ahmad sembari ikut duduk di sofa.


Abi dan kawan-kawan serempak mengangguk.


Kyai menatap satu persatu anak muda yang berkompul di ruang keluarganya nampak sekali wajah-wajah penuh tanya namun tidak satu pun berani mengajukan pertanyaan.


Kyai menarik napasnya perlahan lalu menghembuskannya hingga tiga kali Selanjutnya ia berucap.


"Kalian semua harus puasa selama tiga hari tidak boleh makan dan minum ada tempat khusus untuk kalian menjalaninya nanti selama melakukan itu dilarang mengunakan ponsel selama menjelankan puasa ada doa-doa yang harus kelian hapal termasuk beberapa wirid nanti akan saya kasih untuk kalian dalam bentuk kertas fotokopinya yang wirid doanya sudah tertulis jelas disana. apa ada yang keberatan?" tanya melihat wajah-wajah serius di depan matanya tanpa yang diam mendengarkan semua ucapannya.


Merka semua saling pandang satu sama lain kemudian menggeling kepala bersamaan.


Kompak sekali kalian ujar Kyai Ahamd sambil tersenyum tipis.


" Ada yang mau ditanya?" lanjutnya.


"Apa kami di tempat di tempat yang sama dan boleh saling bicara?" Tanya Abi.


" Tidak tempat kalian berbeda tidak boleh saling bicara meskipun melelui telepati. kalian harus fokus dengan bacaan kalian sebanyak Tujuhpuluh ribu jangan sampai lupa hitungannya jika lupa maka harus mengulang lagi dari awal. Ingat jangan membuka pintu apapun yang terjadi suara apapun dan siapapun memanggil kalian jangan terusik tetap selesaikan bacaan kalian dan konsentrasi." jelas Kyai Ahmad.


" Apa untungnya melakukan puasa itu, mesiksa diri?" ujar Dewi segan mulut mengerucut seperti Bebek..


" Aku hanya bertanya." jawab Dewi sambil memutar bola matanya janggah.


" Cara bertanyamu itu tidak." sopan sentak Abi.


" Sudah nak Abi tidak papa dia masih kecil wajar dia ingin tau dan cara bertanya begitu saya maklum." sela Kyai Ahmad saat Abi ngin sekali memarahi sang Adik.


Dewi menjurkan lidahkan untuk Abi membuat Abi semakin jengkel. Namun ia hanya bisa mengumpat dalam hati.


" Sebelum melakukan itu kalian semua harus di roqiyah terlebih dahulu." ucapan Kyai Ahamd itu sukses membuat Abi dan kawan-kawan terkejut.


"Kenapa Kyai kami tidak kerasukan?" tanya Dewi menatap heran.


"Roqiyah bukan hanya untuk orang masukan atau ketempelan anak Roqiyah bisa juga untuk membersihkan diri kita." jelasnya sekaligus menjawab pertanyaan Dewi.


"Persiapkan Diri kalian besok kita sudah memulai." lanjut Kyai Ahmad.


"Besok Kyai? kami perlu ijin dengan Bunda dan Ayah." sela Abi.


"saya sudah memintakan ijin untuk jalian termasuk Zahra, hanya nak Mars yang saya tidak tau sanak saudaranya, untuk itu saya akan bertanya langsung." sembari melihat Mars.


"Mars bagaimana apa kamu bersedia?"


"Isyaallah Kyai." Sahut Mars


"Alhamdulillah sekarang sebaiknya persiapan diri kalian, nanti selesai sholat Ashar ruqiyah akan di mulai." ujar Kyai menjelaskan.


"Dewi saya minta kamu mengeti dan mau bekerja sama, semua demi kebaikan kalian."


Zahra hanya diam ia tau bahwa Kyai sempai melakukan tirakat selama beberapa hari, Zahra yakin ini pasti ada hubungannya dengan tirakat tersebut.


Zahra mengajak Dewi ikut dengannya sedang Abi dan Mars menuju asrama di pondok pesantren tidak lupa mereka berpamitan dengan Kyai Ahmad.


Sesampainya dirumah Zahra melihat perubahan mood Dewi, dengan pelan dan hati-hati Zahra menjelaskan maksud dan tujuan Kyai meminta mereka melakukan puasa dan juga roqiyah.


"Aku ini mesih sekecil bagaimana bisa Kyai tidak punya hati dan menutup mata untuk itu." Sahut Dewi kesal.


"Dewi Kyai tau kamu bukalah Anak yang lemah kamu kuat dan aku yakin kamu mampu melakukannya." Hibur Zahra.


"Lagi pula itu hanya tiga hari setalah itu kita akan terbebas ayolah Dewi lakukan dengan ikhlas semuanya pasti akan terasa ringan." lanjut Zahra.


"Aku tau rahasia kamu termasuk Kyai kau bukanlah anak kecil hanya tubuh fanamu yang kecil, aku yang jauh lebih muda dari kmu saja tidak mengeluh melakukannya kenapa kamu yang hidup ratusan tahun labih merasa berat melakukannya?" tanya Zahra.


"Dasar mulut Ember tidak bisa menjaga rahasia." Dewi mengompet kesal, ia yakin pasti kakanya yang memberi tau semua orang bila ia bukan anak kecil.


"Baiklah aku akan melakukannya dan membuktikan pada kalian bila aku tidak akan kalah dari kalian." sahutnya mantap.


Tidak terasa waktu yang di tentukan sudah tiba. Zahra, Abimanyu, Mars dan Dewi sudah berkumpul di rumah Kyai Ahmad. ada pula beberapa santri yang juga ikut membatu proses Roqiyah yang akan berlangsung.