Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Bos kecil.


Adzan Maghrib sudah berkumandang menandakan siang telah malam.


"Assalamualaikum Abi." ucap Gio.


"waalaikum salam Om Gio, nenek sudah menunggu dari tadi, cepat Im temui, sepertinya ada yang ingin nenek bicarakan dengan Om." kata Abi sembari mempersilahkan Gio masuk rumah.


"Baiklah, Om ketemu nenek dulu. oh iya nanti jika ada mobil mengantar makanan, untuk acara tiga hari Kakek kamu, tolong Abi arahkan mereka meletakan box berisi makanan itu." perintah Gio.


"oke siap Om." Abi menyahut sambil meletakan tangan di pelipisnya seperti orang menghormati bendera.


Sepeninggalan Gio Abi duduk di teras ia menunggu dua karyawan toko roti milik Bundanya yang juga akan datang membawa brownies kukus serta roti.


"Assalamualaikum Abi." sapa Sinta dan juga Laura.


"Waalaikum salam. eh Ka Laura, Ka Sinta Abi sampai tidak melihat." sahut Abi .


"Gimana mau lihat orang matanya dipakai buat baca buku." sahut Sinta.


"hehehehe maaf Ka, maklum anak sekolah." ujar Abi.


"Ayo Kak, Masuk Bunda pasti senang ketemu kaka berdua" ajak Abi sambil berjalan menuju kamar sang Bunda.


"taru di meja itu aja Ka, roti sama browniesnya. nanti biar Bibi yang bawa ke dapur." perintah Abi.


"Biar kami antar ke dapur. siapa tau ada pekerjaan yang perlu kami bantu di dapur." tolak Laura di anggukki Sinta.


"Abi enggak nyuruh ya, bantu-bantu kerja disini. Kaka berdua itu sudah capek seharian jaga toko pokoknya selesai antar kue temui Bunda." perintah Abi sambil menatap dua karyawan ibunya tajam.


"Aduh bos kecil marah, makanya mulut itu jangan asal ngomong." kata Sinta menyalahkan Laura.


"Cepat ke dapur antar kuenya setelah itu kembali kesini Abi tunggu lima menit bila tidak kembali dalam lima menit sebaiknya kalian pulang tidak perlu hadir disini." ketus Abi sambil melirik dengan ekor matanya karyawan sang ibu.


cinta dan Laura saling lirik kemudian bergegas melangkah ke dapur.


Abi menahan tersenyum melihat kedua karyawan ibunya yang tak berani melawan perintahnya.


lima menit berlalu Sinta dan Laura belum juga kembali. Abi tersenyum miring, ia berjalan ke dapur untuk memastikan, apa yang kedua karyawan ibunya lakukan, hingga tak kembali padanya.


Semapainya di dapur. pandangan Abi tertuju pada Sinta dan Laura yang di suruh Ratih memotong kue brownies serta roti untuk dimasukan kedalam kotak kecil yang akan di bagikan pada tamu undangan tahlil malam ini.


"Nah disini rupanya." ujar Abi dengan nada kesel membuat Sinta serta Laura terlunjak kaget pasalnya


mereka sedang fokus dengan pekerjaannya.


"Maaf Abimanyu kami harus membatu mengerjakan ini dulu." ucap Sinta pelan.


"hmmmm, itu karena kalian tidak mendengarkan ucapan aku. jika kuenya di taru di meja kalian basa istirahat dan menemani Bunda mengobrol di kamar." ucap Abi datar.


"Sekali lagi maafkan kami bos Abi." kata Cinta.


"ya aku maafkan tapi selesai mengerjakan ini harus ikut aku." tegas Abi sambil ikut membatu memasukan kue kedalam kotak-kotak kecil yang tersedia.


"oke bos." sahut Laura dan Cinta hampir bersamaan.


Selama setengah jam akhirnya Abi Cinta dan Laura selesai mengerjakan tugas pemberian Ratih.


"Ayo." ajak Abi sambil memimpin jalan.


Cinta dan Laura mengekor di belakang seperti anak Ayam.


Sesampainya di lantai dua ruang keluarga Abi mempersilahkan duduk.


"Ka Laura, Ka Cinta, Abi mau minta bantuan." ujar Abi memulai pembicaraan.


"Apa yang bisa kami bantu?" Cinta bertanya sambil menatap wajah Abi yang terlihat serius.


"Bantu menjaga Bunda, jika adikku sudah lahir ajari ibuku dan adikku beladiri sebagai persiapan kita menghadapi serangan dadakan. tolong Kaka cari beberapa orang ahli beladiri untuk mengawasi semua anggota keluargaku." minta Abi.


"Baiklah akan kami cari secepatnya." jawab Cinta.


"terimakasih Ka, bagaimana dengan Markas tersembunyi kita?, apa semua sudah siap?"


"tentu saja, hanya tinggal menunggu beberapa senjata untuk kita berlatih belum sampai dikirimkan." ungkap Laura.


"Itu bagus, besok aku, akan melihat ke sana hanya untuk memastikan tidak ada kekurangan." ucap Abi.


"Aku akan mengantarmu Besok." tutur Laura.


"Abi apa kamu masih melukis kemaren ada yang menelpon. seorang wanita ia mangaku dari Mesir ingin memesan beberapa kaligrafi untuk diletakan di mesjid." ucap Cinta.


"jika tujuannya untuk diletakan di mesjid aku akan menerima tawaran itu." jawab Abi.


"baiklah aku akan mengirim pesan untuknya selesai acara tahlilan ini kamu basa berbicara via telpon dengannya." tutur Cinta.


"ka Laura apa Kaka perlu uang lagi untuk keperluan markas kita?"


"sebaiknya kamu melihat dulu markas yang kami buat, jika ada kekurangan bisa kita tambah lagi." ujar Laura.


"baiklah, oh ia belanjalah stok makanan dan bahan baku untuk keperluan di sana, markas itu harus ada yang menepati." ucap Abi.


"bagaimana dengan listrik apa kita mengunakan mesin saja?" tanya Laura.


"Ya untuk sementara gunakan saja mesin. aku akan membicarakan dengan Zahra nanti semoga bisa membuat mesin listrik Bertenaga air." Tukas Abi.


"apa di sana ada air yang mengalir?" lanjut Abi bertanya.


"sepertinya ada, akan ku pastikan nanti?" jawab Laura sambil melirik cinta.


"bagaimana, dengan toko Bunda tidak ada masalah?"


"kami sedikit kewalahan jika pesanan dari luar kota semakin banyak." keluh Laura.


"Hemmmm, Kaka perlu tambahan tenaga?"


Laura melirik Sinta yang mengangguk padanya.


"nanti Abi akan berbicara sama Bunda untuk itu." jawab Abi.


"sebaiknya kita turun segera. acara sebentar lagi akan di mulai." ajak Abi sambil berdiri.


ketiganya turun bersama Abi berjalan menuju ruang tamu sedangkan cinta dan Laura kedapur menemui Risa yang sedang menyusun buah kedalam piring.


"Biar Laura dan Sinta bantu Bu." ucap Laura.


"Terimakasih Laura kapan kalian datang?, apa sudah makan?." tanya Risa beruntun.


"sekitar setengah jam yang lalu. kami sudah makan Bu di toko." sahut Sinta dan mendapat anggukan dari Laura.


"jangan sungkan di sini anggap saja rumah sendiri kalo mau makan minum ambil sendiri." ujar Risa.


"baik Bu." jawab Laura dan Sinta bersamaan.


"Zahra kenalkan ini karyawan Tante di toko. Mereka berdua sudah Tante anggap Adik sendiri. mereka aja yang masih saja manggil Bu Bos rasanya enggak enak di kuping." keluh Risa.


"Gak sopan Bu, masa sama atasan manggilnya Kakak tau Mbak. kita udah terbiasa Bu susah mengubahnya," ucap Laura.


"Alasan." cibir Risa manyun.


"sebenarnya gak ada yang salah. hanya saja mungkin ka Laura dan Ka Sinta belum terbiasa jadi merasa aneh. panggilan Kaka, teteh, atau Mbak itu juga sopan." ujar Zahra ikut menimpali.


"nahhhh itu dengerin kata Zahra, jangan banyak Alasan." cicit Risa.


"Ikutin aja Ka, maunya Bumil, Ibunya senang bayinya juga bahagia." tutur Zahra.