
Hahahahahaha suara tawa William terdengar ditengah keterkejutan Komandan Wisnu begitu pula dengan yang lain.
"Siapa lagi yang berani menembak aku? ayo tembak saja di manapun kalian, aku menentang kalian." teriak William sambil terkekeh sombong.
"Diamlah Kakek." raung Abi dengan suara lantang.
"Kau berani sekali dengan orang yang lebih tua. dimana sopan santunmu, itukah yang kamu dapat selama di pesantren?"
"menghormatimu sama halnya membenarkan tidakanmu, kamu tidak lagi pantas disebut sebagai manusia kamu bahkan lebih hina dari pada seekor hewan." ujar Yusuf.
beberapa polisi mengepung William Andra dan juga Saka dilarikan ke rumah sakit agar mendapat pertolongan segera.
"William aku akan mencabut tuntutan asal kamu mengganti biodatamu, Jagan lagi memakai nama keluargaku sebagai orang tuamu. meski sudah meninggal kedua orang tuamu tetaplah orang tuamu dia yang membuatmu terlahir ke dunia." ucap Hasan.
"Jangan menceramahiku, umurmu tidak lama lagi lebih baik pikirkan dirimu sendiri." sahut William.
atas perintah sang komandan anak buahnya bergerak dua langkah meju kedepan sambil menudungkan sejata.
Abi yang melihat gelagat William ingin mengunakan tehnik penyerangan sehingga Abi bertindak lekas ia mengunakan dinding pembatas gaib atau pagar gaib untuk melindungi petugas. hal itu membuat William marah ia segera melompati anak buah Wisnu lalu turun tepat dihadapan Abi.
tangannya segera memukul Abi, Abi hanya diam menerima pukulan tanpa melawan. William yang merasa aneh membuka lebar matanya. "kenapa Aku seperti memukul besi baja tanganku bahkan nyeri olehnya." batin William.
Anak buah Wisnu kembali mengepung William namun kini Abi dan Yusuf ikut terkepung ketinga berada ditengah lingkaran yang dikelilingi oleh petugas polisi.
Tanpa disadari oleh William semua kejadian yang ada terekam oleh kamera tersembunyi yang berada baju Abi. Abi di babtu Zahra membuat kemera kecil berbentuk kancing baju berwarna hitam. remakan itu tersambung denga leptop milik Zahra, Mars dan Junga Dewi teratai.
"Kakek aku harus bertanya sesuatu padamu sebelum kau menghajarku. tolong ceritakan bagaimana Kakek membuat Kakek Marcello tewas?"
"William tersenyum miring, akan kuberitaukan pada kalian semua agar tidak mati penasaran. Aku mengehabisinya saat karirnya sedang berada di puncak. aku mengunakan banyak cara agar tidak tidak dicurigai oleh orang. cara pertama aku membayar orang untuk menabrak mobilnya, saat mobil tertabrak seseorang lagi memasukan bom dibawah mobilnya, saat korban keluar ada dua orang bertugas menyemprot asap beracun. lalu yang terakhir aku membayar seorang dukun untuk menyentetnya. jenius bukan aku merencanakan begitu matang dan menerima hasil yang memuaskan." tawa William menggelegar.
Komandan Wisnu dan Husain Alexander terkejut mendengar pengakuan William.
kamu benar-benar licik William, karena Anda sudah mengakui kejahatan Anda kami sebagai petugas kepolisian harus segera menangkap Anda. ikutlah dengan kami jangan melawan ujar Komandan Wisnu.
Lakukan saja komandan jika kamu bisa menangkap dan melukai aku akan bertepuk tangan untukmu ujar William.
"tembak saja aku tidak akan melawan, ayo tembak aku." tantang William.
"Dia tidak akan mati meskipun kalian semua menembaknya." celetuk Yusuf sambil melihat Wisnu.
"benar kata Ayah, Kakek tidak mati meski berkali-kali ditembak. kakek mempelajari ajian yang bisa membuatnya hidup kembali meski berkali- kali ditembak." jelas Abi.
"hahahahaha, benar sekali nak, Ki Wongso sudah menurunkan seluruh kesaktiannya padaku." ungkap William.
Kakek sehurusnya bertanya kenapa Ki Wongso memberikan kesaktiannya padahal Kakek belum lama menjadi muridnya. tandas Abi.
"Tentu saja karena aku berbakat, aku dengan mudah menerima semua ilmu yang di ajarkannya tak seperti murid yang lain belajar satu ilmu saja hampir satu bulan. Sedangkan aku dalam sehari bisa mempelajari tiga bahkan empat ajian sakti." tandasnya bangga
"Ini kantor posisi bukan mimbar masjid Nak sadarlah." sahut William sembari tertawa.
"William tidak ada takutnya kamu dengan kami disini kamu berbicara menghina mengancam bahkan menantang tanpa gentar?" tanya Wisnu
"Takut, oh tidak, yang membedakan kita hanya seragam, penghasilanku jauh lebih banyak dari kamu tandas William.
"William jika ingin menyombongkan pendapatan aku rasa Abi lebih pantas menyombongkan diri." sahut Yusuf.
"anak ini, apa yang bisa di sombongkan oleh Abimanyu ilmu agama." hahahahaha tawa William kembali terdengar ditelinga semua orang.
"Tentu saja pendapatnya perbulan, kamu ingin tau William akan ku beri sedikit bocoran pendapatnya 6,5.m itu baru yang ada didalam negeri belum lagi penghasilan usahanya diluar negeri. Kau tau William cucumu ini di pesantren selalu keluar setiap selesai sholat malam, ia mencari anak jalanan bahkan panti jompo untuk diberi bekal ilmu, cucumu ini mengajari karya seni pada banyak anak-anak jalanan. Kau tau hasil hanya seni anak-anak jalanan itu dipasarkan hingga keluar negeri. Baru sedikit yang aku beri tau padamu Willem, Abi juga seorang arsitek yang hebat beberapa orang yang meminta jasanya selalu dibuat puas oleh hasil kerjanya." Ungkap Yusuf kemudian ia melempar sebuah kain berwana putih arah William. Kain itu mengikat badan William dengan erat.
"Kurang ajar kamu Kakek tua berani sekali bersembunyi dalam tubuhnya." bentak William sembari mencoba melepaskan diri tapi tidak bisa.
"Bawa dia kedalam tahanan Wisnu, jangan dilepas ikatan itu jika ingin memberi makan lebih baik disuapi saja." pesan Yusuf
"Terimakasih pak yusuf." Ujar Komandan Wisnu.
"Saya benar-benar merasa tidak berguna sebagai polisi." ungkap Wisnu selanjutnya.
"Memang kamu dan anak buahmu tidak berguna Wisnu. jika bukan karena sorban Kakek tua ini, kau tidak akan pernah bisa memenjarakan aku apalagi melukai aku." tukas William.
William di giring oleh dua orang petugas ke sel tahanan.
"Kakek tua tunggu pembalasan dariku. Ingatlah itu." teriak William.
"aku akan menunggu dengan senang hati William." kata Yusuf nada suaranya begitu berwibawa.
"Kakek Abi harap Kakek merenung menyesali perbuatan Kakek jika tidak maaf Abi tidak akan segan lagi." ujar Abi sambil melihat William yang sudah berada dalam penjara.
"Anak seperti kamu berani mengancam aku!! Kamu liat saja apa yang aku lakukan nanti, coba kamu cari ibumu apa dia masih baik-baik saja di rumah?" kata William sembari menyeringai penuh Arti.
Abi berbalik ia berjalan meninggalkan kantor polisi mengikuti Yusuf yang terlebih dalu berada di depan mobil menunggu sang putra.
Di tempat lain Devan dan Mars sedang mengobrol serius.
"Dev setelah apa yang kamu lihat dan dengar kamu masih saja mempercayai Ayahmu? Bodoh." Seru Mars
"Dia adalah ayahku satu-satu keluarga yang menyayangiku tanpa meminta imbalan. Walau kamu memperlihatkan rekaman pengakuannya di kantor polisi aku tetap menyayanginya sebagai mana ia menyayangi aku sewaktu kecil. Walau aku nakal ia tetap penuh kasih memberiku uang tempat tinggal dan makan." sahut Devan.
"Ayahmu yang sekarang tidak seperti dulu saat kamu kecil, Sekarang Ayahmu mempelajari ilmu hitam. Jalannya salah Dev, jangan mengikuti dan mendukungnya." tutur Mars berusaha pemberi pengertian.
"Sudahlah Mars aku tidak tertarik membahas ini lagi ayo lanjutkan perjalanan atar aku pulang." Perintah Devan.