
"Bunda Oma dalam bahaya ayo kita tolong" Ujar Abi segera beranjak meninggalkan Risa yang diam mematung.
Ada apa dengan Abi batin Risa lantas mengikuti Abi segera meninggalkan toko.
sesampainya di rumah sakit Risa dan Abi bertemu dengan Ratih yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Bu bagaimana? apa kata dokter?". tanya Risa.
"Yusuf dan bebrapa perawat ada didalam belum keluar sejak tadi nak." Sahut Ratih cemas.
"Oma pasti bisa melewati massa kritisnya." Celetok Abi dengan wajah seih.
Risa dan Ratih saling pandang seakan berbicara tanpa kata lantas kedua mengangkat bahu tak mengerti.
"Nenek itu sakit kanker Rahim. Ayah sejak dulu membuatkan obat kerbal hingga Oma perlahan membaik tak mengeluh sakit, tapi sepertinya obat yang di minum oleh Umi sudah tidak lagi cocok cerita Abi." cerita Abi
"Dari mana kamu tau Abi itu?" Tanya Risa.
"Ayah yang kasih tau Abi." Sahut Abi singkat.
"ibu, apa Umi suka mengeluh sakit pada perut?" tanya Risa.
"iya satu minggu ini hampir setiap malam Umi meringis menahan sakit. Saat ibu tanya katanya cuma sakit perut biasa setelah minum obat akan sembuh." sahut Ratih.
Risa menarik napasnya dan menghebuskannya perlahan. "semoga tidak terjadi hal yang buruk pada Umi." Ucapnya.
"Amin." Sahut Abi dan Ratih bersamaan.
Sekian lama menununggu akhirnya pintu ruang rawat Umi di buka oleh Yusuf nampak sekali raut sedih dan leleh di wajahnya
Risa dan Ratih segera menghapiri lantas bertanya.
"Bagaimna keadaan Umi mas?" tanya Risa dengan wajah cemas.
Yusuf menghela nafasnya sebelum menjawab pertayaan sang Istri.
Umi harus dirawat di sini semantara waktu kanker Rahim Umi masuk sadium tiga" ucap Yusuf dengan raut wajah sedih.
"Ayah kita akan membuatkan kembali obat untuk Oma Abi janji akan bantu Ayah sebisa Abi." ujar Abi sambil menatap sang Yusuf.
"Bu, selum sering mengeluh sakit? apa tadi Umi ada makan sesuatu yang mongkin membuat perutnya sakit?" tanya Yusuf sambil melihat wajah martuanya.
"Seperti biasa Umi memakan bubur Ayam yang Abi dan Risa belikan dan di kirim lewat layanan onlane." ucap Ratih.
mata Abi dan Risa seketika membolat sempurna mendengar Ia dan Anaknya membelikan Bubur untuk Umi nyatanya tidak pernah sama sekali.
"tidak Ayah Bunda dan Abi tidak pernah membelikan bubur dan dikirim lewat aplikasi onlane." ucap Abi sambil melirik Risa yang mengangukan kepala.
Yusuf mengangguk paham dengan apa yang terjadi pada ibunya.
"sudah berapa kali Umi menerima Bubur dari layanan Aplikasi onlane itu?" tanya Yusuf pada mertuanya.
"sudah tinga hari ini nak." sahut Ratih jujur ia pun merasa terkejut dengan keyataan jika Risa dan Abi tidak pernah membelikan Umi bubur.
"Apa dirumah masih ada bekas bungkus bubur yang Umi makan?" tanya Yusuf.
Abi dengan cepat melakukan panggilan pada pembatu rumah Umi.
"Ayah ini telponnya Bibi sudah di angkat." ucap Abi.
"Bibi tolong ambil kembali pelastik bekas bungkus bubur yang tadi Umi makan." perintah Yusuf melalui ponsel Abi.
"baik Den, akan saya ambil dan simpan tempat makan bubur Umi juga belum Bibi cuci Den Yusuf apa itu dibutuhkan juga." tanya Bibi.
"Ayo kita bicara di ruanganku saja." ucap Yusuf mengajak keluarga kecilnya.
Risa, Umi dan Abi mengikuti dari belakang sampai tiba di ruang kerja Yusuf.
"apa yang benarnya terjadi nak?" tanya Ratih cemas.
"sepertinya ada seseorang yang segaja menyirami sel kanker Umi dengan cairan tertentu membuat Sel kangker itu kembali hidup." ucap Yusuf.
"Astaga Jahat sekali." sahut Ratih sambil menutup mulutnya dengan mengunakan tangan.
"ini peringatan bagi kita semua jagan asal menerima makan dari luar, meski mengatasnakan Abi,Risa atau siapapun itu." ucap Yusuf memperingatkan.
Ratih, Risa dan Abi menganguk setuju.
"apa tujuan orang itu." tanya Risa binggung.
"yang jelas bukan sesuatu yang baik." ucap Abi dan Yusuf kompak.
"Ayah apa cairan yang masuk itu tidak bisa di keluarkan?" tanya Abi.
"cairan itu menyatu dengan makanan yang sudah Umi konsumsi, cara satu-satunya adalah kembali melakukan oprasi untuk membersikan sel kangkar yang tumbuh." jelas Yusuf.
"apa mas akan melakukan oprasi itu?" tanya Risa terkejut.
"Aku menunggu hasil Lap keluar dulu, jika memang harus maka tak ada pilihan bagiku kecuali melakukan itu untuk menyelamatkan Umi." Sahut Yusuf dengan raut wajah sedih dan cemas.
"kami semua akan selalu mendukungmu nak jagan merasa sendiri berbagilah pada kami, kami akan senantiasa berdo'a untuk Umi. lepaskanlah semua beban yang kamu pikirkan agar tidak menganggumu saat melakuakan pekerjaanmu nanti." nasehat Ratih.
Di lain temapat sekelompok orang sedang melakukan pertemuan mereka bersorak gembira menyambut kedatangan sang ketua kelompok.
"selamat malam semuanya bagaimana apa kalian sudah siap." ucap Cella sambil tersenyum.
"tentu saja ketua kami sudah menunggu anda sejak sore." ucap salah seorang di atantra mereka.
"bagus, ayo naik kita memulai dengan Berkenalan dengan lima orang anggota baru." ucap Cella
setelah memperkenalkan diri lima orang itu lantas Cella meminta mereka menjalankan tugas untuk mematai-matai seseorang dan melaporkan padanya jika ia suka dengan hasil kerja mereka maka mereka boleh bergabung dengan kelompok Cella.
"kalian lanjutkan saja aku akan bebicara pada Tuan terlebih dalu." ucap Cella lantas meningalkan mereka semua menuju ruangan Khusus dimana sebuah batu dialam kotak berwarna emas berada disana memancarkan uara panas, bau bunga semerbak wangi saat pintu kamar di buka Cella.
sesampainya didalam Cella membuka kain yang menutupi sebuah kaca besar setinggi badannya.
saat mata Cella menadang cermin didepan nya mulutnya kumat kamit entah apa yang ia ucapkan beberpa detik kemudian ia melihat nanyangan diri dicermin tua bongkuk dan keriput di mana-mana. rambut putih seluruhnya.
"nenek Cella sungguh jelek sekali wajahmu." ucapnya.
"Itulah kenyataan yang harus kamu terima Cella, kau itu sudah nenek." Sahut nenek Cella yang ada dalam cermin.
"cehh sampai kapanpun aku tidak sudi menjadi tua sepeti dirimu." ucapnya Cella ketus.
"hahahhahahahaha.....Cella, jika kau mau hidupmu Abadi selamanya, kau harus membunuh anak itu dan menghisap darahnya sebelum dia berumur 17 tahun." ucap nenek Cella dari dalam cermin.
"bagaimana aku melakukanya sedang aku merasa panas saat berada di dekatnya." sahut Cella.
"kau punya banyak anak buah maafaatkan mereka jika tidak berguna leyapkan." ucap Nek Cella menyerigai pada Cella.
"tentu aku memiliki banyak anak buah tapi aku tidak bisa bertidak ceroboh bisa-bisa aku tertangkap." ucap Cella.
"Anak itu berbahaya dia bisa menghacurkanmu di kemudian hari jika kamu tidak lenyapkan sekarang perintah Nek Cella.
Cella berbicara pada bayangannya di cermin nek Cella adalah pantulan dirinya sendiri.