Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Sebuah Rencana


enam orang berbeda usia sedang mengorol disebuah kamar hotel VIP.


"Bunda, Ayah ikutlah dengan kami jalan-jalan sambil melihat pemadangan kota dimalam hari." ajak Abi sambari tersenyum.


"baiklah tapi kita hanya pergi 1 setengah jam, karna angin malam tidak terlalu baik untuk kesehatan." sahut Yusuf.


"jika semua sudah siap mari kita berangkat." ucap Gio sambil berjalan membuka pintu kamar hotel yang ditepati Umi dan Ratih.


meraka semua berjalan kaki malihat pemandangan indah kota paris dimalam hari, sesakali mereka saling mengobrol dan tertawa.


mulut kecil Abi tak henti-hentinya bertanya sesuatu yang ia tak pernah lihat sebelumnya pada Gio, Gio dengan sabar memjawab semua pertayaan Abi.


"Risa liatlah Abi dia sangat akrab dengan Gio hanya dalam hitungan hari." ucap Yusuf


"ia, Abi memang tipe anak yang mudah akrab pada siapapun." sahut Risa.


"dia pesti akan sedih setelah omnya kembali ke jerman." ucap Yusuf yang mengingat jika Abi dan Gio akan berpisah.


"iya aku rasa juga begitu mas." sahut Risa.


"Abi, Gio kita kesana!" Ajak Yusuf yang melihat stand yang menjual khusus janan khas kota paris.


Gio dan Abi meliahat arah telunjuk Yusuf. tak lama kemudian mereka berdua menganggukan kepalanya.


sesampainya disana Yusuf segera membeli beberapa jajanan yang bisa mereka makan.


"Abi,Gio kalian mau ice crem?" tanya Umi.


"tidak oma abi mau minuman saja" sahut mulut kecil Abi.


"sepertinya disana ada milksahke kamu mau?" tanya Gio.


"ya Abi mau Om." sahut Abi dengan mata berbinar.


"ayo kita kesana, sepertinya ada tempat duduk juga untuk kita istirahat." ajak Umi salamah


sesampainya disanan Yusuf segera memesan minuman yang diinginkan Abi. semantara yang lain duduk dikursi yang ada didekat stand penjual aneka ice Bland tersebut.


Gio mendekati ibunya lalu bertanya. "apa ada yang ibu mau?" tanya Gio lembut.


"Iya bu jika ada yang ibu inginkan atau tempat yang ibu mau kunjungi maka katakanlah." ucap Risa menimpali.


"ibu ingin melihat menera effel dan musium yang terkenal dikota ini." Sahut Ratih.


"jika itu ibu tak perlu memintanya, mas Yusuf memang mengajak kita semua berkeliling mengunjunggi tempat wisata dikota ini." jelas Risa sambil memandang Yusuf yang berjalan membawa berapa gelas minuman berbagai rasa.


"iya bu, besok kita akan bekeliling mengunjungi tepat-tempat wisata dikota ini." sahut Yusuf


"terimakasih nak Yusuf." sahut Ratih


"sama-sama bu." ucap Yusuf.


Abi mengambil minumannya dan memberikan satu minuman ice coklat untuk Gio


"terima kasih ponakkanku yang ganteng." ucap Gio.


"sama Om yang baik hati." sahut Abi sambil berjalan kearah grandmanya.


Risa memberikan satu minuman untuk Ratih dan Umi satu-satu lalu kembali ketempat duduknya disamping Yusuf.


berpindah kekota jogyakarta


Defvan sudah berada didepan rumah besar Umi salamah.


Defvan menarik napasnya lalu menghembuskannya secara perlahan.


aku harus tenang bertanya baik-baik pada satpam dirumah ini, untuk menemui Yusuf serta istrinya, aku juga ingin meminta maaf atas kesalahan Yana dan Amira dipesta pernikahan Yusuf. gumam Defvan didalam mobilnya.


Ayo defvan kau pasti Basa. ucapnya mengemangati dirinya sendiri.


beberapa menit setelah merasa tanang Defvan segera turun dari mobilnya dan bertanya pada satpam yang ada dirumah Umi salamah.


satpam yang melihat ada seseaorang mendekat segera membuka pagar.


"Ada perlu apa pak?" tanya satpam dirumah Umi.


"Saya pasien dari Dokter Yusuf apa beliu ada dirumah saya ingin menemuinya." tanya Defvan.


"mohon maaf pa, saat ini Dokter Yusuf beserta keluarga sedang berlibur keluar kota." ucap yogi (Satpam rumah umi) sambil menatap Defvan


sial kenapa aku bisa lupa jika Yusuf baru menikah dia pastin akan berbulan madu bersama. umpet Defvan.


"kapan mereka akan kembali?" tanya Defvan sambil melihat Yogi.


"saya tidak tau tuan." sahut Yogi.


"jika dokter Yusuf sudah kembali, katakan pak Defvan mencarinya." ucap Defvan


"Baiklah pak, nanti akan saya sampaikan pesan anda." ucap Yogi ramah.


"terimaksih." ucap Defvan kemudian beranjak pergi menuju mobilnya.


Defvan segera melajukan mabilnya menuju kantornya.


"apa aku harus menacari Yusuf keluar kota aku benar-benar penasaran dengan anak kecil itu." ucap Defvan berbicara sendiri.


Aku harus secepatnya mecari tau masalah ini. gumam Defvan


Dan jika benar dia putraku maka seluruh harta deddy akan diberikan padaku. aku benar-benar tidak sabar ucap Defvan sambil melihat foto massa kecilnya ia berbicara sendiri diruang kerjanya.


ceklek puntu tiba-tiba dibuka seseorang.


Siapa orang yang taksopan membuka pintu tanpa mengetuk, apa dia seudah bosan bekerj disini. ucap Defvan mengumpat sambil memutar kursi tempatnya duduk.


"Defvan apa yang kau lakukan dengan duduk menghadap kelemari, kau tidak mengerjakan pekerjaanmu." tegur Willem dengan tatapan tajam.


"Deddy." sahut Defvan terkejut karana tak biasanya Willem datang kekantornya.


"kau tak menjawab pertayaanku Defvan?" ucap Willem dengan mata  memandang tajam sang putra.


"Ded aku sedang malihat foto massa kecilku yang ada dilemari." sahut Defvan sambil beranjak dari tempatnya duduk menuju sofa


Willem mengerutkan keningnya tak mengerti. ia berjalan menghapiri sang putra yang tengah duduk disofa.


"tak biasa kau mau meliahat foto massa kecilmu." ucap Willem detar sambil mendaratkan pantatnya disofa.


"tidak apa ded, Aku hanya rindu dengan massa kecilku dulu, sewaktu kecil aku bebas melakukan apapun tanpa memikirkan pekerjaan yang membuat kepalaku pusing." ucap Defvan sambil memijat kepalanya.


"hmmmm waktu terus bajalan Def, kau tak mongkin selamanya kecil, adai bisa menjadi anak kecil terus menerus deddy juga ingin menjadi anak kecil." sahut Willem.


"Aku sudah menarik sahamku di perusahan milik Rajenra, dengan alasan aku ingin membuat cabang usaha baru atas nama Amira." ucap Defvan.


"apa kau benar-benar akan membuat anak cabang untuk orang yang tak ada darahmu sedikitpun ditubuhnya." tanya Willem.


"tentu saja ded aku akan meminta tuan Rajenra menanamkan setegah saham yang ia miliki diperusahan milik cucunya itu." ucap Defvan sambil menyerigai.


"setelah perusahan itu berjalan kau akan memindahkan nama surat kepemilikan perusahan itu atas namamu?" tanya Willem


"hhahahaaa..... tak ku sangka otak deddy yang tua itu masih cukup pintar." ucap Devfan sambil menatap sekilas sang Ayah.


"kau meremehkan otakku Defvan, lihat dirimu itu kau terlahir menjadi pintar itu karna merawarisi otakku." ucap willem ketus.


"santai ded, aku hanya bercanda." ucap Defvan santai.


"Defvan kau harus menyimpan surat- surat berharaga dengan baik, jagan sampai kau lengah karna memikirkan recanamu itu." ucap Willem sambil menatap sang putra.