Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Rencana


Abi, Risa serta Dewi membuka kado yang diberikan yusuf secara bersamaan.


Abi mendapat sebuah jam tangan mewah dari sang Ayah. ia tersenyum lalu mengucapkan terimakasih. Disusul oleh Dewi teratai yang mendapatkan sebuah kalung berlian yang terlihat cantik.


"Mas apa ini? kamu memberikan ini untukku dan untuk anak-anak terlalu berlebihan." Mas ujar Risa.


"kamu tidak menyuakainya?" tanya Yusuf.


"bakan begitu Mas hadiah-hadiah ini terlalu mahal, sayang uangnya." sahut Risa.


"kalian adalah orang yang aku sayangi aku mencari uang untuk kalian, membuat kalian bahagia adalah tugasku, tolong jangan menolak pemberianku yang tidak seberapa ini. bahkan jika kamu meminta dibelikan hadiah setiap bulan Mas tidak keberatan memberikannya untukmu." tegas Yusuf sambil menatap mata sang istri.


Abi dan Dewi teratai ikut menyiamak tanpa mau menimpali.


Satpam rumah masuk membawa sebuah mobil besar serta ada pula beberapa paperback ditanganya.


Dewi teratai bersorak gembira karena Ayahnya menepati janji membelikannya mobil desney.


"Mas apa lagi ini banyak sekali." Risa masih saja protes.


"untuk kalian semuanya ada untukmu untuk Abi untuk dewi juga." jelas Yusuf.


"Mas terlalu menghamburkan uang lebih baik membangun tempat ibadah ." tandas Risa.


"Tenang saja aku sudah membeli tanahnya untuk mewujudkan mimpimu itu." ujar Yusuf.


"Tanah maksud Mas?"


"tanah untuk membuat tampat ibadah." jawab Yusuf.


"sungguh?" tanya Risa tadak bisa disembunyikan raut wajah senang terpancar jelas.


"Tuntu saja Bunda, Mas tidak akan berbohong soal itu."


"sekarang Mas mau kamu pakai perhiasan pemberian Mas." minta Yusuf.


"tidak Mas untuk apa memakai perhiasan mahal didalam rumah, nanti jika tersangkut lalu putus bagaimana kan sayang." sahut Risa.


Abi yang membatu Dewi teratai memasang kalungnya tertawa bersama begitu pula Yusuf.


"Apa yang lucu?" tanya Risa dengan ekspresi wajah bingngung apa ia salah bicara batinnya.


"Alasanmu yang lucu sayang, bagaimana bisa tersangkut kamu memakai pakaian syar'i lengkap lalu bagaimana bisa tersangkut?"


"Risa tersipu malu. bisa saja kan terkait benang dibaju." ucapnya.


"itu hanya alasan Bunda saja Ayah, pakaikan saja sekarang, yang Bunda tidak mau memasangnya sendri dari itu alasannya banyak" celetuk Abi ikut menimpali.


Yusuf menuruti ucapan Abi memasakangkan kalung, gelang, dan cincin untuk Risa kemudian ia tersenyum. "Besok ulang tahun pernikahan kita Mas harus pergi keluar kota."


"Abi kamu ingat pa Adam beliau sedang sakit parah, keluarganya menghubungi Ayah katanya pa adam ingin bertemu Ayah ada hal penting yang ingin beliu sampaikan." cerita Yusuf.


"berapa lama Ayah disana?" tanya Abi.


"jika sudah selesai Ayah akan segera kembali. Ayah berniat ingin menolongya jika mampu." Jelas Yasuf.


"Ini olah Kakek William Kak." celetuk Dewi teratai tanpa Aba-aba.


"apa William? dia ada disini bagaimana ia melakukannya?" tanya Risa.


Dewi teratai menarik boneka besarnya kemudian duduk disamping Bundanya.


"orang kaya Bunda, dengan uang semua beres." Jawab Dewi santai.


"Maksudmu dia punya kaki tangan disana?" Risa kembali bertanya.


"Bisa dibilang begitu. eh gomong-gomong berlian bunda sangat indah." cicit Dewi teratai sambil tersenyum.


"Kakak ambillah dua kelopak bunga unggu Buat menjadi permula obat aku akan meminumkannya untuk Tuan Adam." tandas Dewi teratai.


"Tidak Dewi barbahaoya kamu pergi sendiri, biar Ayah yang kesana memberikan obatnya." tolak Yusuf.


"Ayah disana ada mahluk tak kasat mata yang Ayah tidak bisa lihat aku takut dia menyelakai Ayah." Tukas Dewi menjelaskan.


"bila seperti itu kamu ikut Ayah, Kakak percayakan keselamatan Ayah padamu jagan bertidak ceroboh." pesan Abi.


"Baiklah kamu boleh ikut, tapi jangan merepotkan Ayah." pesan Risa sembari mengelus puncak kepla sang putri.


"Kakak harus menjaga om Mars Kakak pasti sudah taukan tanpa Dewi jelaskan?"


"Apa lagi ini, apa yang akan terjadi?"


Wanita itu sudah memulai pergerakannya ia ingin menghabisi benteng pertahanan kita Bunda.


"Apa ia mengira kita yang menyebabkan marcella menjadi patung untuk itu ia membalasnya ingin mencelakai Mars?"


"Bisa jadi begitu." sahut Abi.


"Kenpa harus Mars?" Yusuf bertanya.


"karena takut km Mars berhasil menghasut Ayah Devan berbalik menjadi musuh." jelas Abi.


"masuk Akal bila itu alasannya. Di mana Mars sekarang?" Yusuf kembali mengajukan pertanyaan.


"Ada di rumah Ustadz Yusuf." sahut Abi


"Kakak kirimkan orang untuk menjaga Oma." cicit Dewi teratai.


"Kakak ajak tidur disini jaga Oma." sahut Abi segera beranjak meninggalkan ruang tamu.


"Ayah Bunda ayo ikut Dewi." ajaknya sambil berjalan menuju kamar Abi.


Dewi teratai mengusap Dinding sambil memejamkan mata detik berikutnya dinding itu menjadi sebuah layar disana Yusuf dan Risa dan melihat William yang sedang mempersiapkan sesajen untuk keperluannya melakukan Ritual teloh.


Astagfirullah gumam Risa.


"Kakek William benar-benar sudah tidak bisa ditolong hatinya sudah mati. semua nasehat ka Abi tidak lagi bisa ia pikirkan. Ia menganggap ka Abi musuhnya maka dari itu Kakek justru tertantang ingin membuktikan kesaktiannya dengan cara melenyapkan musuhnya."


" Astagfirullah Abi dalam bahaya." cicit Risa.


" Serahkan pada Allah, bantulah Abi dengan Doa." Ujar Yusuf.


"bagaimana jika kita selesaikan secepatnya Bunda, Ayah?"


"bagaimana caranya. jujur saja Ayah juga merasa kesal dengan mereka yang menyerang secara sembunyi-sembunyi?"


"Kita harus berkumpul disini sebagainya boleh di pesantren harus ada yang menjaga tubuh kita disini sementara roh kita akan menyerang Mereka di tempat persembunyian Masing-masing." jelas Dewi teratai.


"Harus seperti itukah?" tanya Risa.


Jika menunggu mereka menyerang secara bersamaan akan lama lebih baik kita yang menyerang ke tempat mereka


"Kakek setuju." ucap seorang kekek tua berpakaian serba putih yaitu Raden Mas.


Risa yang baru pertama melihat Raden Mas takjub wajah bersih Raden Mas membuat siapa saja merasa nyaman dan tenang saat menatapnya.


"Kekek bunyut terimakasih menudukungku." ujar Dewi.


"Sama-sama Dewi, jika menunggu tanpa kepastian seperti sekarang saya juga mereda seperti dipermainkan oleh mereka lebih baik tika serang saja lebih cepat lebih baik." tukas Raden Mas.


"setelah kamu dan Yusuf pulang dari luar negeri kita bicarakan bersama. semoga saja semua mendukung." Doa Raden Mas.


"Iya Kek sementara waktu Dewi akan meminta Kak Abi melakukan persiapan."


"Ada apa persiapan Apa tanya Abi tiba-tiba." masuk ikut menimpali.


Kakek ujar Abi sambil mencium tangan Raden mas.


"Nak Abi saya dan Dewi sepakat akan melakukan penyerangan lebih dulu, menunggu hanya mengulur waktu, saya harap kamu siap kapan itu." jelas Redan mas.


"Hal itu juga sempat terpikirkan oleh Abi, melihat Dewi masih kecil Abi mengurungkannya." jawab Abi.


Raden Mas terkekeh mendengar ucapan Abi.


"Ingin aku beri tau sesuatu." ujar Raden Mas dengan bibir mengulum senyum.


"Tidak Kek jangan belum saatnya." kata Dewi Teratai dengan bibir tersenyum.


Yusuf dan Risa saling pandang tidak mengerti ucapan si bungsu.