Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Pemakaman


Hari ini seharusnya akan menjadi pertempuran kembali, manun nyatanya tidak.


Abi dan kawan-kawan kembali ke kota.


Markas terlihat sepi hanya ada Rubah putih yang menjaga rumah tersebut. Pagi-pagi Abi dan yang lain sudah meninggalkan markas mereka.


Risa dan Sinta juga sudah di antar kembali oleh Dewi sekar Arum.


Janazah Yusuf sudah berada di rumah duka begitu pula janazah Ustadz Akbar yang berada di rumah Zahra Dekat dengan pondok pesantren.


Banyak santri dan santriwati yang berbohong bondong datang untuk ikut mendoakan janazah ustadz Akbar serta anak laki-lakinya yang meninggal kecalakan dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Kakak laki-laki Zahra itu terkejut mendengar kabar dari sang Adik Ayahnya koma di rumah sakit. malam itu juga ia berangkat dengan mengunakan mobil anak serta istrinya pun ikut serta di bawa jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka tinggal. Tidak di sangka mereka mengalami kecelakaan tunggal dalam perjalanan. Tidak ada yang atau apa penyebabnya dari kecelakan tersebut.


Saat hendak melakukan mandi janazah tiba-tiba hutan lebat di sertai angin kencang hal yang sama juga terjadi di rumah Yusuf. Dan di saat semua orang sibuk Sukma Dewi teratai dan ratu tertai muncul di samping janazah dewi teratai kecil muncul di samping janazah sang Ayah sedang sukma Ratu teratai muncul di samping janazah Ustadz Akbar entah apa yang mereka lakukan beberapa saat kemudian kedua dukma menghilang dengan senyum tipis di bibirnya.


Risa menanggis tanpa suara air mata itu terus berjatuhan bagai hutan ia tidak menyangka sang suami meninggalkan untuk selamanya Menjadi janda di tinggal mati bukanlah impiannya.


Bunda sudahlah harus kuat dan makan sejak pagi belum ada yang masuk di kedalam perut Bunda bisa sakit ucap Abi sambil mengelus pelan pundak sang ibu.


"Iya Nak kamu harus ikhlas." sela Ratih itu Risa.


"Kaka tidam sendiri kami ada disini kita lewati bersama." ucap ikut menimpali.


Ratih beranjak mengambilkan makanan untuk Risa dan membujuk sang putri agar mau makan.


Jika di tanya apa Abi sedih tentu saja ia sedih namun ia tidak ingin kesedihan itu membuatnya lemah dan lengah Abi tau itu salah satu jalan iblis menjerumaskan manusia. Ia tidak akan membiarkan jalan iblis itu terbuka hingga dirinya tanpa sadar mengikuti inginan sang iblis atau di kendalikan oleh iblis.


Lagi pula semua mahluk pasti pasti mati tua tau muda, cepat atau lamabat, kapan dan dimana tidak ada yang tau itu. Maka ikhlas adalah sesuatu yang wajib di lakukan saat waktu itu tiba.


Dewi Teratai kecil masuk kedalam raganya yang juga sudah berubah menjadi anak kecil.


Ia berjalan menghampiri sang ibundanya.


"Bunda..." panggilnya.


Mendengar ada yang memanggil Risa menoleh.


Dewi kecil segera berlari kecil memeluk sang ibu.


"Bunda jangan nangis lagi Ya, Ayah tidak suka bila Bunda sedih..!!" ucapnya.


"Benar Bunda Ayah tidak suka Bunda menanggis hapus air Bunda Ayo kita bersama-sama mengantarkan Ayah ketempat peristilahan terahirnya." ucap Abi ikut menempali.


"Dewi mau makan nak..?" tanya Ratih saat ia tiba dan melihat sang cucu memeluk Risa.


"Tidak lapar Nek, biar Dewi suapi Bunda...!! cicitnya.


Tidak usah Nak, Bunda akan makan sendri saja kata Risa seraya menghapus air matanya dan mengambil piring yang sudah berisi nasi dari tangan ibunya.


Selesai di mandikan janazah di sholatkan dan segera di bawa ke tempat pemakaman.


Risa, Abi, Dewi, Gio, Sinta dan Devan ikut serta mengantarkan Yusuf ke tempat peristilahan terahirnya.


Di tempat Lain Ustadz Akbar juga sedang di kamakamkan di samping makam sang isteri yang lebih dulu meninggalkannya. sang putra juga di makamkan disana.


Sudah tidak ada lagi air mata yang menetes di kedua mata Zahra yang merah dan bengkak mungkin airmata miliknya sudah kering terlalu banyak menangis.


Banyak para santri yang ikut kepemakaman ustadz Akbar Ada pula Wijaya, kyai Hasan, kyai, Ahmad dan Mars berdiri tidak jauh dari Zahara.


Selesai dimakamkan Kyai Ahamad memimpin Doa dan di amini oleh semua yang hadir disana.


Pandangan matanya tiba-tiba kabur kepala juga terasa berat mungkin itu di sebabkan karena ia leleh dan tidak makan sama sekali sejak mendengar kabar duka.


Brukkkkkkk......


Zahara terjatuh ke samping untung saja Ada mawar di sampingnya hingga ia tidak jatuh ke tanah.


Kyai Hasan segera mengangkat Zahra membawa ke dalam mobil.


Mars mengikuti dari belakang bersama Mawar dan Wijaya.


Kyai hasan meminta mawar menemani Zahara terus sampai keadaannya membaik Mawar menggangguk patuh.


Mereka membawa Zahra kerumah sakit tempat istri dari Kakaknya masih dirawat bersama sang putra yang berumur lima tahun.


Sore harinya Zahra bersikap ingin pulang kerumah ia ingin menghadiri acara doa bersama untuk sang Ayah.


"Zahra kamu yakin mau pulang...?" tanya Mawar.


"Ya tentu saja Mbak, Aku harus ikut Acara tahlilan nya." jawab Zahra.


"Dokter memintamu untuk banyak beristirahat zahra." ucap Mawar.


"Tanang saja aku sudah menghabiskan satu inpus dan tenaga ku sudah kembali terisi." sahut Zahra.


"Tapi makananmu tidak kamu makan...?"Cicit Mawar.


"Aku tidak suka makanan disini." keluh Zahra.


"Kyai bisa marah bila aku mengijinkan kamu pergi dari sini. Ia meminta aku menemani kamu sampai keadaan kamu benar-benar baik." kata Mawar .


"Tanang saja setelah acaranya selesai kita kembali lagi kesini." ujar Zahra sambil menarik paksa jarum inpus di tangannya.


"Zahra apa yang kamu lakukan.." bentak Mawar.


"Sutttttt jangan keras-keras...!!" seru Zahra.


"Aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari kamar ini kecuali kamu makan makanan yang sudah di sediaan di sini termasuk buah-buahan itu." tunjuk Mawar sambil melihat Zahra.


"Hah..... Mbak mau perutku meledak memakan buah-buahan sebanyak itu." jawab Zahra sambil melihat satu keranjang besar buah segar.


"Tidak aku ingin kamu sehat." sahut Mawar sembari tersenyum.


"Zahra tanganmu berdarah, aku panggikan susternya." seru Mawar terlihat khawatir.


"Tidak jangan Mbak tidak apa-apa ini hanya luka kecil tidak akan membuat Zahra mati." ujarnya santai sambil menyuap nasi yang di sediakan pihak rumah sakit.


Mawar enggan mengikuti perintah Zahra ia keluar untuk memanggil suster jaga.


"Aku bukan tidak mengerti Zahra semua aku lakukan untuk kebaikan kamu. Bosok masih ada waktu untukmu ikut acara tahil di panti." batin Mawar.


Ah kesempatan ucap Zahra segera menyelinap keluar kamar namun langkahnya di hentikan olah Mars yang datang membawa makanan.


"Zahara mau kemana....?" Tanya Mars.


"Mau pulang." sahut Zahra santai.


"Jangan Zahra kamu harus istirahat cukup disini lihatlah wajahmu yang pucat tekanan darahmu juga rendah." Aku akan menemanimu Semantara Mawar pulang mandi dan menganti pakaiannya.


"Kenapa kalian menghalangi aku...? aku ingin pulang ikut acara doa bersama saja nanti aku akan kembali." keluh Zahra kepalanya kembali terasa pusing.