Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kebohongan Marcella


Di dalam sebuah kamar kelas VIP Devan terbaring dengan beberapa alat medis melekat di tubuhnya.


Kreekk, suara pintu kamarnya dibuka oleh seseorang.


"selamat malam Devan maaf ibu baru bisa menjenguk sekarang." ucap Marcella sambil mendekat keranjang perawatan Devan


"Aku tidak mengharap kunjunganku." sahut Devan acuh.


"Bagaimanapun aku ibu sambungmu aku juga menghawatirkanmu nak." ujar Marcella.


"hahahaha, oh benarkah. bukankah orang yang begitu mengkuatirkan anaknya seharusnya berada disisinya merawat dan menjaganya. tapi yang kau lakukan menghilang tanpa sama sekali." tandas Devan


" Aku pergi, karena melihat Ayahmu terlebih dahulu mengurus dan membawamu ke rumah sakit ini. Jadi aku pergi mengantar Mawar Kembali ke negara asalnya agar keluarganya bisa merawatnya." jelas Marcella berbohong.


"kau selalu punya alasan untuk membela dirimu." kata Devan datar.


krekkk pintu kembali dibuka oleh Willem.


"Marcella dari mana saja kamu?" ketus Willem.


"Aku mengantar mawar kembali ke negaranya agar keluarganya bisa mengurusnya dengan baik." jelas Marcella.


"Kau lebih mementingkan orang lain dari pada keluargamu sediri dimana akalmu." tandas Willem marah.


"Maafkan Aku Mas, Aku tidak akan mengulangi lagi." sahut Marcella.


dalam hatinya Marcella ingin sekali membuat Willem berlutut dibawah kakinya.


"Devan bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Willem.


"jauh lebih baik Dad, meski terkadang rasa nyari masih datang namun tak sesakit sebelumnya." sahut Devan.


"Daddy dimana ponselku, apa kau menyimpannya?" tanya Devan.


"Ponselmu mungkin tertinggal di Villa aku melupakannya terburu-buru membawamu ke rumah sakit." sahut Willem.


"Ya, seingatku meletakannya di atas nakes sebelum berenang di kolam." ujar Devan sambil mengingat kembali keberadaannya di Villa puncak.


"Boleh aku meminjam ponsel Daddy?" lanjut Devan bertanya.


"Apa yang ingin kau lakukan dengan ponsel Daddy?".


"hanya ingin menelpon Abi, aku ingin sekali mendengar suaranya dan melihat wajahnya jujur saja aku begitu mengkhawatirkannya saat ini." Ungkap Devan.


"tidak, dia punya kaki dan tangan yang sehat, jangan berlebihan memikirkannya. otaknya pintar. biarkan saja tak perlu kau memintanya kemari." ujar Willem.


"Ada apa denganmu Daddy, kau bertingkah seperti orang yang tak menyukai Abi?" Cicit Devan.


"pakai ponsel ibu saja nak." kata Marcella ramah.


"kau tidak menyimpan nomor Abi." ketus Devan.


"Mas apa salahnya Devan menghubungi putranya. jika suasana hatinya bahagia bukankah hal itu akan mempercepat kesembuhannya." bujuk Marcella ia masih berusaha mengambil hati Devan.


"Marcella kau pasti tau alasanku, sebaiknya kau diam saja aku melakukan semua Dami kebaikan Devan." tandas Willem.


"apa maksudnya demi kebaikan ku?" tanya Devan sambil menatap Willem menuntut penjelasan.


"kau ini jangan banyak tanya, Devan kau sedang sakit jangan banyak pikiran." ujar Willem.


"Aku tidak akan berhenti merengek sampai Daddy memberiku penjelasan." sahut Devan keras kepala.


"Saat kau sembuh aku akan menceritakan padamu." kata Willem


"kenapa! saat ini Aku siap mendengar ceritamu Daddy."


Marcella menatap sang suami yang sepertinya sedang menimang-nimang sesuatu.


"Anak itu hanya akan membuatmu bertambah sakit Dev, apa kau mengingat kejadian di villa yang menyebabkan kau terbaring disini adalah putramu sendiri." cerita Willem nampak jelas raut wajahnya begitu membenci Abi.


"Kenyataan begitu Dev, kau hampir kehilangan nyawa karena oleh Anakmu sendri sebaiknya lupakan Dia kau masih bisa mendapatkan seorang putra jika menikah." tandas Willem.


"Aku akan mencarikan wanita yang cantik dan pantas untukmu." ujar Willem.


"Apa bukti dari ucapan Deddy jika tanpa bukti aku tidak akan percaya." tukas Devan.


"saat kau sembuh aku berjanji akan membawamu melihat rekaman cctv kita di Villa."


"Mars bisa mengambilnya ke Villa untukku biar aku menelponnya Dad." ujar Devan.


"Kenapa terburu-buru kau perlu sehat dulu aku takut hal itu memperburuk keadaanmu." kata Willem.


"Daddy dengan laranganmu itu, aku semakin yakin kau hanya memfitnah putraku, Abi tak seburuk itu. ia begitu menyayangiku meski tak tinggal bersamaku aku bisa merasakan kasih sayangnya tulus." ungkap Devan.


"Jangan menjadi bodoh hanya karena ia menyayangimu, lagi pula apa buktinya ia sayang padamu. saat kau membutuhkannya dia tak menampakan batang hidungnya sama sekali apa itu kasih sayang." tukas Willem memprovokasi.


"Mungkin Abi tidak tau Aku sakit saat ini. atau ia sibuk mengurus perpindahannya." sahut Devan membela sang putra.


"Kau benar-benar bodoh Devan entah apa yang sudah diberi anak itu padamu hingga kau begitu setia membelanya." kesal Willem.


"Daddy yang keterlaluan, Abi tidak mungkin melakukan hal yang Daddy katakan. jika ia benar-benar ingin mencalakaiku kenapa baru sekarang sedang waktunya bersamaku tak hanya sekali dua kali." ujar Devan.


"Mas udah biarkan Devan istirahat. ayo keluar saja kita bisa membicarakannya nanti saat Devan sudah sembuh." ujar Marcella membujuk sang suami.


"Kau lihat ibu sambungmu ini Devan, meski dia tak melahirkan mu ia begitu memikirkan kamu kesehatanmu dan segala yang terbaik untukmu. ia yang namanya kasih sayang bukan seperti putramu itu." tandas Willem.


"Dia itu wanita ular berkepala dua. liat saja nanti ia akan menggigitmu saat kau tak lagi berguna untuknya." ucap Devan sarkas.


"Devan berhenti mengatai ibumu."


teriak Willem marah.


"Dia tidak mengandungku tidak pula menyusuiku asal kau tau yang mengurusku sewaktu kecil adalah Bibi. pembantu yang kau pecat saat aku kuliah diluar negri entah karena alasan apa aku tidak mengerti." ungkap Devan.


seorang perawat masuk untuk memeriksa infus dan memberikan obat pada Devan


"Permisi Tuan Willem, maaf pasien harus segera beristirahat ini sudah malam saya harap anda mengerti." ujar perawatan wanita muda itu sopan.


"Ayo Mas kita keluar, biarkan Devan istirahat kata Marcella." membujuk sang suami yang wajahnya terlihat merah menahan amarah.


Willem keluar sambil berjalan ia menendang bak sampah yang di lewati dengan mata merah sambil menggertakkan gigi terus berjalan menuju ruang khusus untuknya dilantai dua.


"Marcella cepat masuk." pekik Willem.


Marcella masuk tanpa sepatah katapun ia duduk di sofa ruang pribadi suaminya.


"Kau jelaskan padaku apa benar tidak mengurus Devan sewaktu ia kecil apa kau menyerahkan tugasmu pada pembantu?".


"Ya saat aku ada yang harus aku kerjakan aku meminta Bibi menjaga Devan. kau bahkan melihatku mengurus anak itu saat berada di rumah." sahut Marcella membela diri.


"Jagan mencoba membela diri Marcella. jika kau berbohong akan tau sendiri akibatnya." ucap Willem mencengkram rahang Marcella dengan kuat.


Mas sakit. jerit Marcella.


"Apa kau mengurus Devan dengan baik sewaktu kecil?" tanya Willem sekali lagi.


"Aku memang memarahinya ketika dia salah, agar dia tau dan bisa belajar dari kesalahannya." sahut Marcella.


"benarkah aku akan mencari bibi Ijah dan meminta keterangan darinya?"


"Cari saja sampai kepalamu botak kau hanya akan menemukan tengkorak didalam kuburnya." batin Marcella tertawa penuh kemenangan.


"Ada gunanya juga aku menghabisi tua bangka itu." ucap Nek Cella.


Marcella mencoba kekuatan barunya dari batu merah delima yang sudah ia buat menjadi batu kalung.


"Akkkkkkkhh." ucap Willem merasa tangannya seperti terbakar oleh api hingga membuatnya melepaskan cengkraman di rahang Marcella yang tersenyum miring.