
Disebuah rumah di kawasan sepi penududuk nampak sebuah rumah besar dan mewah bernuansa putih. itulah Rumah milik Marcella yang ia pergunakan untuk bertemu dangan para abdinya.
Didalam sebuah kamar di rumah tersebut marcella melakukan Ritual.
Di depan pintu kamar dua orang kepercayaan Marcella benar-benar menjaga pintu dengan waspada.
"Bukalah matamu" ucap sebuah suara menyapa Marcella.
Marcella membuka perlahan kedua matanya dan melihat seorang wanita cantik sedang duduk diatas sebuah batu.
"aku sudah tau tujuannya pergilah ke gunung kembar dan bertapa di dalam Goa yang ada disana selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti jika kau berhasil maka dan Raja Jin julkarnain menemuimu. Mintalah mustika miliknya untukku dan bawalah tusuk konde emasku ini agar dia mempercayaimu." ucap Putri Arum membalanggi Marcella dan melempar tusuk kondenya hingga menacam di antara kami milik Marcella.
"tak sampai disitu saja Marcella jika kau juga harus bertapa di air terjun pelangi untuk bertemu Putra dari raja Iblis dan meminjam mustika merah delima miliknya. berikanlah Cicin ini padanya ia pasti tau jika akulah yang memerlukan Mustika merah itu." lanjut Putri Arum sambil menjentikan jarinya hingga cincin itu melayang di udara dan jatuh di samping Marcella
"maaf Tuan putri jika boleh saya tau apa kegunaan dari dua mustika itu begitu penting?" tanya Marcella dengan hati-hati sambari mengambil Cincin yang diberika padanaya
"tentu saja Marcella dua mustika itu akan membatu menarik rohku agar bisa masuk kebadan gadis yang sudah kau siapkan untukku." sahut Putri Arum.
"sebelum kau bertapa lakukan puasa putih." tutur Putri Arum yang masih setia membelakanggi Marcella.
"apa yang saya bisa dapatkan jika nanti saya bisa mendapatkan dua mustika itu?" tanya Marcella tak mau rugi.
"tentu saja wajah yang semakin bersinar cantik dan muda." kata Putri Arum.
"Jika demikian saya melaksanakan sesuai petunjuk Anda Tuan putri. tapi berapa lama saya melakukan tapa di air terjun pelangi?". tanya Marcella.
"sampai Raja Iblis berkenan menemuimu." ujar Putri Arum.
"aku juga perlu darah keturunan orang yang mengutukku." jelas Putri Arum.
"sa-ya tidak tau dimana keturunan dari orang yang sudah mengutuk Anda Tuan Putri." ujar Marcella tertunduk sedih.
"suamimu adalah salah satu keturunan dari Petapa itu." jelas Putria Arum.
A-apa maksud Tuan putri Willem Alexsander?" Marcella bertanya dengan Eksprsi wajah terkejut.
"Namanya Willem Orlando Marcella." pungkas Putri Arum.
"aku tidak mengerti?" tanya Marcella sambil mengangkat kedua alisnya bingung.
"Dasar bodoh." Ejek Putri Arum sambil tersenyum miring.
Marcella semakin dibuat binggung ia bahkan memukul kepala agar otaknya dapat mengerti dengan cepat ucapan Tuan putri yang di pujanya.
"pergilah!! segera lakukan tugasmu." perintah Putri Arum tak terbantahkan.
"tugasku?" Ujar Marcella mengulang ucapan Putri Arum.
"ternyata Kau tak hanya bodoh Marcella tapi otakmu juga tidak berpungsi." tandas Putri Arum.
"pergilah cepat bertapa aku ingin cepat keluar dari sini." tegas Putri Arum Sambil berbelik menatap tajam Marcella
Marcella yang baru saja melihat wajah cantik milik Putri Arum terkesima. wajah mulus putih bersih tanpa cela bagai seorang dewi membuat Marcella iri dan ingin memiliki hal yang sama.
"Dasar manusia tak tau diri, berani sakali kamu menginginkan kecantinkan yang sama seperti ku." herdik Putri Arum.
"Maaf-kan sa-ya Tuan putri." Minta Marcella terbata.
Takpa mejawab Putri Arum mengibaskan tangannya hingga roh Marcella derdorong keluar dari dalam Batu tempat Putri Arum Berada.
Marcella masuk kembali kedalam tubuhnya tak lama kemudian ia membuka matanya mendapati tusuk konde terbuat dari emas beserta dengan selendang berwana merah darah.
Di bawah langit yang sama seorang Ayah dan Anak nampak sedang mengobrol sesekali mereka tertawa riang.
"Abi obat yang kamu berikan pada Ayah benar-benar terbukti mujarab liatlah badan Ayah tak lagi lesu dan lelah Ayah juga tidak merasakan sakit pada luka Ayah." ungkap Yusuf sambil tersenyum mendang wajah sang putra dengan bangga.
"Ya, Ayah Vitamin yang Abi buat juga untuk menambah stamina untuk Ayah." jelas Abi.
"Ya Ayah bisa merasakan itu nak, bahkan badan Ayah terasa ringan saat di gerakan Ayah merasa badan Ayah lebih sehat dari sebelumnya." cerita Yusuf.
"Asslamulaikum." Sapa Risa pada dua orang laki-laki yang asyik mengobrol hingga kedatangannya tanpa di sadari.
keduanya tersendak dengan cepat menoleh dan menjawaban salam Risa.
"Walaikum Salam Bunda." sahut kedunya serempak.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Risa.
"kami terkejut Bunda datang tanpa mengatok pintu." jelas Abi.
"hehhehe tadi Bunda segaja membuka pintu perlahan takut Ayah dan Abi tertidur kenyatanya tidak, terus Bunda masuk dan menyapa kalian." jelas Risa.
"Bunda udang bikin kita kanget tadi, kalo ada yang kena penyakit jantung Bunda." Ujar Abi.
"maaf Sayang." ucap Risa sambil mendakati Abi dan megelus rambutnya.
"Mas bagaimana kadaanmu?" tanya Risa lembut.
"sudah jauh labih baik mongkin besok Ayah sudah boleh pulang." sahut dengan wajah serius.
"Bunda bawakan makanan kesukan Ayah dan Abi ini." ucap Risa sambil memperlihatkan rantang yang ia Bawa.
"Terimamasih Bunda." Sahut Abi dan Yusuf hampir bersamaan.
Risa tersenyum melihat kekompakan Anak dan Ayah didepannya tangannya segera membuka isi Rantang dan membaginya menjadi dua lalu menyerahkan untuk dua orang tersanyangnya.
"etttt tidak jadi!! biar Bunda saja yang menyuapi kalian berdua bergantian. itung-itung Bunda benggong liat kalian makan gak ada kerjaan." tutur Risa.
aaaaaaa Yusuf dan Abi membuka mulut mereka bersamaan memita Risa segera memasukan makanan kemulut mereka.
"Ataga!! tadi Bunda kan bilangnya bergantian bukan samaan Abi, Ayah." Seru Risa.
Abi dan Yusuf memasang muka cemberut didepan Risa.
Risa segera menyendok nasi dan lauk pauknya lalu menyuapi Abi dan Yusuf bergantian. sambil tersenyum senag berharap kebersamaan ini tak cepat berlallu.
setelah selesai menyuapi Yusuf dan Abi Risa pamit kekamar rawat Umi.
"Ayah ini Abi msih ada satu botol kecil lagi vitaminnya mau tidak?" tanya Abi.
"sebenarnya Ayah sudah merasa baikkan tapi karna itu hanya Vitamin tak apalah tapi seperu saja nak." sahut Yusuf, ia tak mau membuat Abi kecewa.
Abi dengan perlahan memasukan obat ke jerum suntik dan setelah selesai ia menusukan ke dalam kedalam selang impus yang terhubung ke tangan Yusuf.
"selesai." teriaknya germbira.
"Ayah pasti akan mengantuk setelah obat ini bereaksi. sebaiknya kamu juga Istirahat nak." tutur Yusuf
"tentu saja Ayah Abi akan istrahat setelah memastikan Ayah terlelap." jawab Abi sambil tersenyum manis.