
Risa duduk di sofa matanya tak lepas menatap raga sang putri yang terbaring di atas sofa.
"Mungkin Nak Risa sudah tau Raga Dewi saat ini tanpa sukma, maksud kedatangan saya adalah mengembalikan Raga ini kepada sang pemiliknya." tutur Kyai Ahmad.
"Terimakasih Kyai sudah mau repot mengatar Raga putri saya, tapi bukankah seharusnya raga ini masih di pakai Ratu tereratai untuk menyelesaikan semua urusannya di dunia ini?" Tanya Risa binggung.
"Sudah tidak ada lagi yang perlu di selesaikan tugas terahirnya sudah ia jalankan tanpa harus memakai Raga putrimu Nak." sahut Kyai Ahmad menjelaskan.
"Maksudnya gimana Kyai? di mana ratu Teratai sekarang?"
"Dia saat ini sedang berada di istana ratu Bidadari menyerahkan tongkat sang ratu sesuai janjinya dialah yang harus mengembalikan tongkat itu pada sang ratu dan setelah itu dia kembali ketampatnya." tutur Kyai Ahmad.
"Tempatnya maksud kyai Ratu teratai tidak kembali lagi dan pergi untuk selamanya....?" tanya Risa dengan mata berkaca-kaca.
"Iya nak rohnya lenyap begitu tugasnya selesai." Jelas Kyai.
Bulir bening menetis meski bukan anak kandungnya Ratu tertai sudah melewati banyak hari bersama Risa dan keluarga tawa dan tanggis suka duka mereka lewati bersama membuat Risa sangat sedih.
"Sabar Nak Risa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Semua sudah sesuai kehendaknya. Terimalah dengan lapang dada." nasehat Kyai Ahmad.
"Saya sudah menganggap Ratu teratai bagian dari keluarga saya Kyai, dia mengejari banyak hal pada saya dia selalu menghibur saya saat-saat saya terpuruk ditinggalkan oleh Mas Yusuf dan Umi." tutur Risa.
"Saya mengerti Nak, namun inilah kenyataan yang harus kamu terima. Ratu teratai juga berat meninggalkan kita semua Nak, dia mengucapkan banyak terimakasih karena kita semua menerima dan memberikan dia kasih sayang yang tidak di dapat olehnya di kehidupannya sebelumnya." Ungkap Kyai Ahmad menginggat pesan Ratu teratai.
"Semoga kita semua di tertemukan lagi di Kahidupan yang kekal dan Abadi nanti." Doa kyai Ahmad di amini Oleh Risa.
"Dimana Abi nak Risa?"
"Abi di markas miliknya Kyai. Dia meminta ijin pada saya pergi ke kerajaan raja iblis untuk menghentikan semua kejahatan yang di lakukan Putri Arum." jawab Risa.
"Maksud Nak Risa menghilangnya gadis perawan dan perjaka ada hubungannya dengan putri Arum.....?"
"Iya kyai menurut Dewi sekar saudaranya itu mengandung anak Raja iblis dan memerlukan darah perjaka dan energi wanita perawan untuk menjadi santapannya hingga bayi-bayi itu terlahir." cerita Risa.
"Pantas saja aku merasakan pirasat buruk ternyata ini ulah wanita itu lagi." cicit Kyai.
"Kalau bagitu saya harus membantu dan menjaga raga Abi selama rohnya masuk kealam raja iblis." gumam Kyai Ahmad.
"Abi pergi tanpa Raganya Kyai ....?" Risa terkejut karena Abi tidak menjelaskan padanya kalau hanya sukmanya yang pergi ke kerajaan raja iblis itu.
"Iya Raga manusianya tidak akan diterima disana oleh Raja iblis terkecuali raja itu sendiri yang membawa seperti halnya putri Arum barulah bisa." tutur Kyai.
"Astga bila begitu pasti sangat berbahaya untuk Abi ia tidak mampu bergerak leluarsa dengan sukma itu." pekik Risa cemas.
"Tenanglah Nak Risa saya dan yang lain pasti akan membatu Abi secara bergantian saya akan menyelurkan tenaga dalam saya kedalam raga Abi agar ia bisa bertahan sampai sukamanya kembali kedalam raganya nanti."
"Bila begitu saya ikut kyai." Ucap Risa.
"Jangan sekarang Nak kamu tunggu Zahra ia pasti akan datang kemari untuk menolong Abi juga. sekarang jaga dulu raga putrimu ini jangan sampai di masuki oleh sukma lain selain anakmu." kata Kyai sembari tersenyum tulus.
"Baik Kyai." sahut Risa sembari membalas senyum kyai Ahmad.
Setelah itu kyai Ahmad pamit untuk menyusul Abi. Risa mengantar sampai dapan rumahnya. Dalam hati ia bersyukur karena banyak orang mau membantu meringankan tugas sang putra.
Saat sedang berzikir tiba-tiba saja sukmanya tertarik kesuatu tempat yang gelap saking gelapnya ia tidak dapat melihat kaki tangannya sendiri.
"Kenapa aku ada disini apa lagi yang ingin engkau tunjukkan pada hambamu yang lemah ini." gumam Zahra.
Dalam kegelapan Zahra barjalan sambil meraba ia berharap ada cahya yang bisa menerangi kegalapan di tempat tersebut.
Dari jarak yang cukup jauh Zahra melihat setitik cahaya putih ia berusaha mempercepat langkahnya meski dengan susah payah ahirnya zahra sampai ke titik cahaya putih yang ternyata sebuah pintu.
Bergegas Zahra membuka hingga ia tersedot masuk kedalam pintu tersebut.
Usai masuk Zahra terkejut kala melihat sebuah tempat asing yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya.
"Selamat datang anakku....!" sapa seorang lelaki tua dari arah berlakang Zahra.
Zahra tersentak dengan gerakan cepat ia menoleh kebelakang matanya membulat kala melihat lelaki tua dengan baju putih juga jenggot putih yang terlihat panjang.
"Siapa namamu nak?" tanya kekek tua tersebut.
"Siapa kamu? dan dimana aku sekaramg?" bukan menjawab Zahra justru tanya balik.
"Kamu berada di kampung tempat tinggalku Nak" sahut kakek tua sambil terkekeh.
"Kamu keturunanku sudah selayaknya kamu singgah ke mari." lanjut kakek berjenggot putih malihat Zahra hanya memperhatikan sebuah desa yang terlihat seperti desa jaman dulu.
Zahra semakin binggung dengan maksud dari lelaki tua yang masih berdiri sembari tersenyum.
"Kamu berada di alam gaib nak, aku adalah leluhurmu. Sebagai keturunanku sudah selayaknya kamu mendapatkan ilmu dariku untuk bisa membantu dan menjaga keluargamu." ucap lelaki tua tersebut.
"Leluhurku jangan bercanda Kek, mana ada manusia hidup hingga ribuan tahun, kamu pasti hanya jin yang menyerupai " ketus Zahra.
"Ya aku memang jin Qurin yang mengikuti lelehurmu hingga ia meninggal." jelas Kakek tua.
"Ayo ikuti saya kedalam gubuk..." ajak kakek tua sedikit ketus.
"Untuk apa...?Aku ingin pulang." tolak Zahra.
"Ya kau bisa pulang setelah meyerap semua ilmu yang di tinggakan leluhurnu padaku." jawab Kakek tua.
Meski dengan langkah ragu Zahra mengikuti langkah Kakek tua yang berjalan menuju gubuk tua yang berada di tengah sawah.
Sesampai di depan pintu sang Kakek membuka pintu dan mempersilahkan Zahra masuk.
Dengan langkah pelan dan waspada Zahra masuk ia melihat isi didalam gubuk tidak ada yang aneh barang-barang yang ada di dalam gubuk juga tidak ada yang aneh sama sekali.
"Duduklah sekarang aku akan mewariskan ilmu yang aku miliki untukmu." ucap sang Kakek.
"Ilmu apa Kek..? Aku tidak menerima bila ilmu sesat yang akan di masukan kedalam tubuhku." tukas Zahra dengan wajah serius.
"Tenang Nak, kau adalah keturunanku. Agamaku islam sama seperti kamu. Ilmuku adalah aliran putih bukan hitam nak. Aku ingin kamu mewarisinya." ucap sang Kakek dengan wajah tak kalah serius.