
Dewi teratai kecil itu akhirnya memilih memanjat sebuah pohon yang berada tidak jauh dari pohon beringin kembar yang memiliki farmasi pelindung.
Dewi yang kini sudah duduk di salah satu dahan pohon matanya terus mengawasi ke arah pohon beringin kembar ia yakin pasti ada sesuatu di dalam pohon tersebut dari aura yang jelas terasa saat ia mendapati pohon tersebut padahal sudah ada farmasi pelindung tetap saja auranya bocor keluar. entah binatang siluman atau apa Dewi tidak dapat memastikan untuk itulah ia berjaga di atas pohon. Dewi tidak mau melewatkannya begitu saja mengingat ucapan dari Kakek Han jika di dalam hutan banyak terdapat Sumbar daya yang bisa meningkatkan kemampuan seni bila diri Meraka semua.
"aku akan menunggu disini sampai besok pagi jika didalam ada binatang roh tentu ia akan merasakan lapar dan keluar dari persembunyian mencari makan begitu pula siluman. namun jika didalamnya adalah sebuah senjata tingkat tinggi tentu aku harus menghancurkan farmasi pelindung terlebih dalu guna mendapatkan nya." batin Dewi sembari mata tatap mengawasi Pohon kembar.
Di sisi lain Zahra juga menyadari bila ia terpisah dari teman-temannya sudah berkali-kali ia memanggil temanya namun tidak orang yang ia panggil menjawab apalagi mengatakan di mana posisi mereka.
"Semua ini pasti bukanlah kebetulan saja aku yakin ini adalah rencana dari Kakek pemilik gubuk apa kekek itu benar'-benar ingin memberikan bekal? tau ia ingin satu persatu kami binasa di hutan ini...?" pertanyaan itu tidak mampu ia jawab sendiri saat ini. sembari melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi ke hutan. untuk melihat Zahra mengunakan energi Qi miliknya.
Dengan terpisah seperti saat ini mereka semua benar-benar di tuntut mandiri melindungi diri mereka sendiri dari berbagai macam bahaya yang terdapat di sana. tidak hanya kekuatan yang di latih tatapi juga tingkat kewaspadaan mereka di uji akankah mereka mampu melewati segala macam bahaya ataukah mereka justru binasa karena otak yang tumpul dan kekuatan yang lemah.
"Bagaimana jika Kakek Han adalah salah satu antek-antek dari iblis itu, jika demikian hutan ini pasti sangatlah berbahaya." ucap Zahra lirih.
"Zahra mengeluarkan pil yang katanya bisa memulihkan energi Qi. apa benar ini pil pemulih energi?" keraguan di hati Zahra kembali terbesit
"sebaiknya aku tidak memakannya. Aku juga tidak bisa membedakan obat ini asli atau hanya tipuannya saja"
"di hutan ini pasti ada buah yang bisa dimakan sebaiknya aku bergegas mencari sebelum cacing-cacing di perut kecil ku berdemo." ucapnya seraya pergi mengunakan jurus meringankan tubuh yang di ajarkan oleh Dewi Sekar Arum padanya tujuannya agar lebih cepat jika hanya berjalan kaki pasti akan membutuhkan waktu yang lama.
Di hutan yang sama Mars membuka matanya sesat sebelumnya ia tak sadarkan diri akibat terjatuh kedalam jurang untung saja nyawanya masih selamat.
Mars melihat sekeliling ia lantas teringat kejadian ia berakhir di dalam jurang yang gelap itu.
"Sial Lelaki tua pemilik gubuk itu pasti anak buah iblis itu lihat saja dia sengaja memisah kami agar tidak salih bahu membahu dalam mengahadapi segala bahaya di hutan ini." gerutu Mars dengan wajah kesal.
"Seingat Ku, aku mengikuti Abi yang berada di depanku tapi tiba-tiba saja kabut menyelimuti pandanganku aku yang berpikir di depan hanya tanah yang rata tiba-tiba saja dengan langkah pasti berjalan maju tidak taunya aku justru terjatuh karena itu adalah sisi jurang.
Mars memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut akibat benturan yang pasti cukup keras untung saja umurnya masih ada hingga ia masih bisa ikut membantu Abi menjalankan takdir yang tertulis untuknya.
"sebaiknya aku melakukan meditasi terlebih dahulu guna memulihkan diri, semoga di dasar jurang ini ada tempat untukku beristirahat dan mencari makan guna mengganjal perutku" kemudian Mars segera mencari tempat yang nyaman untuknya melakukan meditasi.
"aneh jurang ini tidak ada berkabut sedikitpun hanya gelap dan terasa angker aku harus lebih berhati-hati dalam melangkah bisa saja Si Kakek tua menyediakan banyak jebakan di hutan ini untuk membunuh kami semua." pikir Mars.
tidak memerlukan waktu lama mars melihat sebuah goa yang di depannya penuh dengan lumut.
di lihat dari banyaknya batu yang berlumur di depan goa sepertinya tempat ini cukup aman untuk ku jadikan tempat istirahat batin Mars seraya berjalan mendekati pintu masuk goa.
Mars mengambil satu ranting untuk membatunya mengais dedaunan kering di sekitar mulut gua. mengingat ular bisa saja bersembunyi di bawah daun-daun kering mars sangat takut ia menginjak ular yang bersembunyi itu.pengalaman mengajarkannya untuk lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya.
langkah demi langkah membuat ia semakin dekat dekat jalan masuk kedalam goa namun sebuah suara menggantikan langkahnya.
telinga Mars mendengar suara ranting pohon yang patah secara bersamaan entah apa penyebabnya.
siapa di sana apa ada orang selain aku apa salah satu temanku batin Mars melihat sekeliling ia tidak menemukan siapapun selain dirinya sendiri.
"jangan-jangan setan." cicitnya bergidik nyeri.
memikirkan itu membuat Mars mempercepat langkahnya memasuki goa ia berpikir di dalam goa ia pasti lebih aman.
semakin ia masuk kedalam goa itu semakin gelap tidak ada penerangan sedikitpun membuat Mars harus memperlambat langkahnya.
bagaimana ini aku tidak bisa melihat dalam gelap begini. tiba-tiba ia teringat dengan ponsel miliknya yang sebelumnya ia masukan ke saku lengan bajunya.
dengan cepat Mars mengambil ponsel dan menyalakannya sinyal baginya baterai ponsel miliknya lemah
aku harus memikirkan cara sebelum ponsel ini kehabisan daya.
Mars teringat dengan metode batu yang bisa menghasilkan Api jika digesek secara bersamaan ia segera mencari di dalam goa batu kecil yang bisa ia gunakan untuk memperaktekan motode tersebut.
dengan mengukan senter di ponsel miliknya Mars dapat menemukan batu kecil yang diperkirakan Mars batu itu pasti dari batu dinding goa sepertinya pernah mengalami goncangan kuat hingga banyak sekali batu berserakan di sana.
Mars dikejutkan dengan adanya bintang yang seperti sedang tertidur di sebuah batu hitam besar sebagai alasnya.
"harimau." ucapnya pelan.
"sebaiknya aku jangan mengganggu harimau itu atau aku akan jadi santapannya." batinnya segera berbalik arah.
dengan langkah pelan Mars kembali menuju depan namun tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkan.
"anak muda marilah...!! seru suara itu.
Mars berbalik melihat ke arah harimau yang masih memejamkan matanya tanpa bergerak sedikitpun membuatnya mengernyit penasaran sekalian bingung berasal dari mana suara itu.