
"Maksud Nyonya orang Willem Alexander?" ucap Toni menatap tak percaya.
Ya dialah orangnya, Toni jangan menjadi orang bodoh pekalah sedikit dengan orang-orang sekitar, malai saat ini kau harus lebih waspada Toni jangan terlalu tergesa-gesa nikmati saja permainannya.
"baik Yonya sesuai perintah Anda." sahut Toni mantap.
"Bagaimana dengan pengikut ku apakah semakin bertambah?" tanya Marcella.
"tentu saja Nyonya semakin hari orang yang mau dirinya cantik dan awet muda semakin bertambah jumlahnya, mereka berbondong-bondong datang membeli jelly yang terbuat dari darah perawan yang dibekukan itu." Tukas Toni sambil tersenyum tipis.
sepertinya aku perlu memberi mantra pada darah-darah perawan itu agar orang yang memakannya tunduk padaku. ucap Marcella dalam hati.
"tidak Cella jagan saat ini, lebih baik kau mengajak Willem berkerja sama melakukan penjualan organ tubuh di pasar gelap." ucap Nek cella melalui batin Cella.
"benar juga itu terlihat menguntungkan." sahut Marcella.
"Toni aku punya tugas untukmu, kau cari orang di negara E yang menerima penjualan organ tubuh manusia." perintah Marcella.
"Sepertinya Aku tau, nanti akan ku hubungi dia." sahut Toni.
"pastikan orang itu bisa menjaga Rahasia." ucap Marcella.
"tentu saja akan ku pastikan itu semua nyonya." jawab Toni.
"Toni bagaimana jika orang yang bernama Aron itu kita jadikan budak kita. berada di bawah kepemimpinan ku?" tanya Marcella.
"Saya setuju Nyonya, kita memang memerlukan para anggota pembunuh bayaran itu untuk memuluskan jalan kita." sahut Toni mantap.
mata Toni memandang putri dari pengemis yang bernama Mawar masih tak sadarkan diri.
"Nyonya apa wanita ini kita kembalikan ketempat asalnya?" tanya Toni.
"apa wanita ini masih perawan?" tanya marcella.
"sepertinya begitu." sahut Toni.
"Cella jadikan wanita itu sebagai wadah untuk tuan putri Arum." perintah Nek Cella melalui batin Marcella.
"apa Putri Arum bisa di bangkitkan dengan Raga wanita ini?" tanya Marcella melalui pikirannya.
"aku juga tidak terlalu yakin mengingat tuan putri terperangkap didalam batu terkutuk itu." ucap nek Cella tersegut-sengut.
"jika iblis dan jin yang bersekutu dengan Tuan putri Arum mau membatu mungkin kita kan bisa memindahkan rohnya kedalam raga wanita itu." tukas Marcella.
"lebih baik kita mencobanya Cella dengan begitu keinginanmu hidup dengan umur panjang dan awet muda selamanya akan terwujud." ucap Nek cella.
"Ya kamu nek Cella bantu aku melakukan ritual malam ini agar bisa bertemu dengan tuan Putri." batin Marcella.
"Baiklah." jawab Nek cella melalui batin cella.
"Bawa dia kekamar ku malam ini aku akan melakukan ritual aku harap tak ada yang menungguku." ucap Marcella tegas.
"baik Nyonya." ucap Toni segera mengangkat Mawar dan membawanya ke kamar Khusus Marcella.
sementara di jalan tampak pengemis yang di seret oleh Tejo berdiri di samping Tejo sambil menggenggam belati
"cepat lakukan!" perintah Tejo.
Pengemis itu lantas segera menikam Tejo dengan belati ke perut Tejo lalu berlari tak tentu arah.
beberapa orang yang melihat kejadian di jalanan umum dengan sigap membantu Tejo dan sebagian mengejar Pengemis yang menikam Tejo.
polisi datang dengan cepat setelah mendapat laporan dari warga. Pengemis itu segera di bawa kekantor polisi sebelum dihakimi oleh Warga di tempat kejadian perkara.
Tejo dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolangan dengan cepat.
dalam perjalanannya kerumah sakit Tejo mengumpat kesal pada pengemis dan Marcella. "aku tau kau ingin pengemis itu dihukum berat, tapi seharusnya kau memikirkan Aku juga Nyonya." batin Tejo.
"Aku yang bodoh atau nyonya Marcella yang terlalu pintar?" tanyanya dalam hati sambil meringis.
Di kantor polisi Lelaki pengemis itu segera di mintai keterangan tetang kejadian yang sebenarnya dan mengapa sampai menikam korban.
"Pengemis itu menceritakan ia tak memiliki pilihan lain korban memaksa mengambil uang hasilnya mengemis. ia sudah mengatakan jika putrinya membutuhkan uang tapi korban tak mau mendengarkannya, ia tetap bersikeras mengambil uangku hingga aku kesal menikamnya dengan belati yang pernah aku gunakan untuk menikam seorang anak sekolah namun gagal." cerita Pengemis itu dengan wajah tertunduk.
"Dasar wanita iblis andai anakku tak kau tahan aku tak sudi mengarang cerita ini." umpat si pengemis
"kau pernah berniat mencelakai anak sekolah kapan kejadian itu?" tanya Pak Roy.
"Dua hari yang lalu." ucap pengemis itu santai tanpa terasa takut mendekam di balik jeruji besi.
"bawa Pak Devan kemari." perintah pa Roy pada kawannya.
seorang polisi segera menemui Devan dan membawanya ke hadapan pa Roy.
"apa kama kenal pengemis ini pak Devan?" tanya Pak Roy tanpa basa basi.
Devan memandangi wajah laki-laki pengemis di depannya lalu mengingat kejadian yang menimpa Abi saat di sekolahnya.
"Dia orang hendak menikam anak saya pak." ucap Devan tanpa Ragu.
"Rahman masukan laki-laki ini kedalam Sel." perintah pak Roy sambil melirik jam di tangannya.
"nanti setelah makan siang aku akan kembali menginterogasi" ucap Pak Roy tegas.
sementara saat makan siang semua tahanan mendapatkan jatah makan masing masing tak terkecuali tahanan yang mengantar bubur untuk Umi.
Ia memakan dengan rakus jatah makannya entah mengapa rasa makanan jauh lebih nikmat dari biasanya menurut lidahnya.
Seorang wanita yang bertugas mengantar makanan pada Napi di sana tampak tersenyum sambil berlalu pergi.
setengah jam setelah selesai makan tiba-tiba badan laki-laki paruh baya itu Panas tenggorokannya terasa tercekat bahkan untuk meminta air pun ia tak bisa berbicara. ia terduduk lemas sambil memegangi lehernya dangan napas memburu dan Anehnya semua para Napi yang melihat kejadian itu tak ada yang bergeming sedikitpun mereka semua seakan tak perduli hingga Akhirnya laki-laki paruh baya itu lemas dengan mata melotot ia menghembuskan napas terakhirnya.
Di tempat Lain Marcella tersenyum puas.
ia sudah di perlihatkan cara kematian yang dialami laki-laki paruh baya yang bekerja untuknya mengantar bubur untuk Umi saat itu.
Maaf kakek tua aku tak ingin masalah ini tercium oleh banyak pihak jika kau masih hidup tentu ada saja orang yang mencari informasi tentang orang yang menyuruhmu. Dan aku tak tau mulutmu itu bisa di percaya atau tidak. Akan lebih aman Aku melenyapkan mu. ucap Marcela lalu membuang boneka yang ia beri makan dengan racun.
"aku akan menemui dan menjemputmu pulang putraku Devan." ucap Marcella menyeringai lantas terlalu pergi menuju mobilnya terparkir.
kurang lebih tiga puluh menit Marcella sampai ke kantor polisi dan berbicara pada pak Roy.
Kami akan membebaskan pak Devan jika keluarga korban mencabut tuntutannya.ucap Pak Roy.
"Astaga ibu sampai lupa bertemu dengan dokter Yusuf." ucap Marcella.
"kau tunggulah nak ibu akan mengurusnya." lanjut Marcella sambil tersenyum.