Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Pesan Sang Ular


burung-burung berkicau riang menyambut datangnya pagi sang rembulan kini berganti dengan mentari pagi.


Angin berhembus menerpa dedaunan dan tanaman buah serta sayur milik Umi Salamah. Disinilah dua orang insan berbeda usia sedang Asyik memetik buah stroberi sambil sesekali tertawa gembira.


"Bunda Abi mau ambil buah anggur yang di sana ya." tunjuk Abi.


"iya Ambilkan buat ibu juga sepertinya buah-buah segar disini enak dibuat salad dan jus." ujar Risa.


"sekalian Melon juga kalo ada yang matang petik saja nak!" seru Risa yang melihat sang putra melangkah menjauh darinya.


"Iya Bunda." Sahut Abi setengah berteriak.


Abi berjalan hingga sampai di kebun anggur. ia melihat beberapa anggur menggantung dan dibungkus rapi dengan plastik. Abi membuka sedikit plastik dari bawah, untuk melihat apakah anggur sudah matang bisa di petik.


entah dari mana datangnya seekor ular merayap diantara rimbunnya daun Anggur yang berada tepat di samping Abi. Mata ular itu begitu tajam menatap Abi yang sedang membuka plastik bungkus anggur.


Saat Abi bersiap memotong tangkai anggur ular itu bersiap ingin menggigit Abi gerakan tiba-tiba kaku dengan mulut yang terbuka ular itu tak dapat lagi bergerak tertahan di udara.


Abi melirik sekilas kemudian meneruskan aktivitasnya. selesai memasukan anggur kedalam keranjang Abi menatap mata ular itu perlahan tangannya bergerak membelai kepala ular kobra di sampingnya.


jangan menggigitku. Aku mahluk nya Allah. jika kamu berani menggigitku dengan racun yang berada dibawah lidah bercabang milikmu aku bisa mati. kecuali kamu bisa menjamin aku masuk ke surganya Allah maka kau boleh menggigitku. ucap Abi ular itu sudah kembali bisa bergerak saat Abi membelai kepalanya tapi ia tak berani menggigit. ular itu dapat merasakan jika Abi bukanlah manusia yang jahat sebaliknya Abi adalah pemuda yang baik dan tulus.


"maafkan Aku Tuan selama ini aku sering bertemu dengan orang-orang yang hanya ingin menyakitiku atau bahkan membunuhku jika bertemu." ucap sang Ular dengan bahasa binatangnya.


Abi tersentak. ia mendengar dan mengerti bahasa binatang ular yang berada dekat dengannya. bahkan sangat jelas.


"Ya Allah kelebihan lagi yang kau bari padaku terimakasih." batin Abi mengucap Alhamdulillah meski ia tau jika kelebihan yang ia miliki ini pasti ada tujuannya dan harus dipertanggung jawabkan.


"Abi udah belum nak ayo cari buah melon ibu tidak sabar mau membuat mengolahnya." ucap Risa.


Risa mendekati sang putra yang masih berada di dekat ular kobra.


"Hei Kobra jangan kau sakiti anakku." teriak Risa.


"Aku tidak akan menyakiti putramu. Dia adalah teman pangeran Wijayakusuma mana berani aku menggigitnya." ungkap Sang Ular.


"kau mengenal Wijayakusuma?" Abi bertanya antusias.


"Ya, Adiknya putri Larasati adalah sahabatku." ucap Sang Ular menjawab.


bagaimana kamu tau aku mengenal mereka tanya Abi.


"tentu saja ia melihat dari rekaman matamu nak." ujar Risa sambil melirik keranjang buah milik Abi.


Bunda, mengerti bahasa binatang tanya Abi.


"Ya sejak adikmu tubuh di dalam rahim Bunda banyak perubahan yang terjadi di luar nalar." jawab Risa menjelaskan.


"sebaiknya cepat sembunyikan ibumu. semakin besar usia kandungannya semakin kuat aura sang Dewi terpancar dalam dirinya. hal itu dapat membahayakan keselamatannya. Para penganut Ilmu hitam pasti berlomba-lomba untuk menjadikan adikmu sebagai sarana untuk menambah kesaktian. Ilmu sang Dewi tidak bisa disalah gunakan jika adikmu jatuh ditangan yang salah maka bencana akan terjadi." ujar King kobra serius.


"Siapa sebenarnya kamu bagaimana bisa aku percaya dengan ucapanmu apa buktinya?"


"tidak perlu tau siapa aku seperti yang kau lihat aku seekor ular. Apa yang ku ucapkan benar adanya jika kamu tidak percaya buktikan saja." ucapnya. sambil merayap menjauh.


tunggu jika kamu bertemu pangeran Wijayakusuma katakanlah untuk segera bersiap dalam waktu dekat aku akan memanggilnya.


Ular itu menatap Abi sekilas kemudian ia masuk didalam rimbunnya daun anggur.


Risa tersenyum ia membelai kepala sang putra.


"Abimanyu jangan risau. benar atau tidaknya tak ada salahnya kita bersiap seperti kata pepatah sedia payung sebelum hujan." kata Risa.


"Bunda benar tunggulah beberapa hari lagi jika Abi sudah menemukan tempat yang aman maka Bunda harus tinggal di sana sampai adik lahir." minta Abi.


"Bunda setuju. kita harus membicarakan pada Ayah dan nenek juga." tandas sang Ibu.


"tentu saja Bu." sahut Abi sambil kembali melihat beberapa buah anggur didalam plastik.


Di dalam rumah Gio dan Ratih sedang duduk berhadapan di meja makan ada pula Yusuf dan Umi yang sedang sarapan bersama.


"Ka Risa dan Abi gak Makan Mas?" tanya Gio.


"tadi pagi-pagi ngajak Abi kekebun dibelakang rumah Umi belum balik sampai sekarang." sahut Yusuf kemudian memasukan roti selai strawberry kedalam mulutnya.


"Biarkan saja, ibu sudah sisihkan makanan untuk mereka. Yusuf makan yang banyak nak. apa kamu mau bawa bekal." ujar Ratih.


"tidak usah Bu, Hari ini Yusuf pulang siang udah janji sama Risa mau ngantar cek kandungan sama Dokter Agetha." ujar Yusuf.


"Yusuf itu kalo pagi jarang mau makan nasi. dia sukanya roti kaya begitu. mungkin terbiasa saat menuntut ilmu di luar negri." tukas Umi.


Ratih dan Gio mengangguk mengerti.


"Gio gemana khususnya Ayah tersangka sudah diamankan polisi." tanya Yusuf.


Ya sudah Ka, suami istri itu di tangkap tepat jam dua belas tadi malam. siang nanti Gio dimana kekantor polisi.


semoga tersangka dapat hukuman yang setimpal ujar Ratih dan diamini oleh Umi serta Gio.


"Yusuf, hari ini ibu dan Bu Ratih pulang ke ke rumah ibu sudah tiga malam kami menginap disini." ujar Umi mengutarakan maksudnya.


iya Umi, ibu terimakasih sudah membantu kami meyiapkan acara tahlilan selama tiga hari ini ucap Yusuf.


"itu sudah semestinya kewajiban kita sebagai keluarga." ucap Umi sembari tersenyum ramah.


"seharusnya Kamilah yang banyak mengucapkan terimakasih pada mas Yusuf dan Umi." ungkap Gio sambil tersenyum.


"sudah, kita ini satu keluarga. Jagan ada sungkan begitu, jika ada masalah mas harap kamu tidak sungkan meminta bantuan pada kami. insyaallah dengan tangan terbuka kami akan membantumu." Ucap Yusuf kemudian ia meminum teh yang ada di atas meja.


Assalamualaikum ucap Risa dan Abi bersamaan.


Waalaikum salam sahut Gio dan semua orang yang duduk di meja makan.


Abi berjalan ke arah wastafel meletakan keranjang penuh berisi buah.


"Abi biar Nenek yang cuci buahnya. kamu cuci tangan saja terus makan." ujar Ratih mendekati sang Cucu di dekat wastafel.


terimakasih Nek. Abi menjawab sambil mencuci kedua tangannya dengan sabun cuci tangan.


"kamu Juga cuci tangan Risa, terus makan." teriak Ratih.


"Iya Bu hehehehe, cuman duduk bentar menghilangkan sedikit rasa lelah." cicit Risa.