Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Usil


Abi dan Dewi sudah masuk kedalam air, Dewi yang menyadari sang Kaka tidak bisa bernapas lama di air segera mengambil satu kelopak bunga teratai dan dengan paksa memasukan kemulut Abi begitu Abi keluar dari permukaan air.


"Apa yang kamu lakukan kamu bisa membunuhku." bentak Abi.


"Hey Ka aku ini tidak tuli, pelankan suara Kaka." sahut Dewi sambil memegang kedua kupingnya.


"Berhenti memanggilku Kaka, Kau bukan adikku mana mungkin Adikku seperti kamu." ketus Abi.


"coba lihat sekeliling Kaka disini bunga teratai Ka. Siapa yang bisa menumbuhkannya dalam waktu sekejap, bila bukan Aku akulah pemilik semua tumbuhan air ini."


"Sombong sekali. Aku semakin yakin kamu bukan adikku." Abi masih saja tidak mau percaya bila wanita cantik didepannya adalah Dewi teratai emas.


Dewi berdecak kesal, Abi tidak mau percaya ucapannya. Ia kemudian punya ide untuk membuat kakaknya itu percaya dengan ucapannya.


" Apa yang paling membuat Kaka Ragu bila Aku Dewi teratai?" tanya Dewi.


Abi terdiam ia nampak perpikir sambil melihat Tanaman teratai yang memenuhi kolam ranjang.


"Pertama Dewi tidak mungkin memiliki wajah pertimu, dua Dewi tidak pernah bertindak kasar padaku terlebih ingin membunuhku seperti yang kau lakukan, ketiga Dewi bukan anak yang sombong." jawab Abi mantap.


"Bila bukan Aku dimana Dewi yang Kaka maksud? "


"Dia tidur di bersama kedua orang tuaku." penuh percaya diri.


Dewi tersenyum masam, ingin sekali Dewi menertawakan kakanya


"coba Kaka lihat sendiri apa ada adik Kaka di Kamar Ayah dan Bunda." tantang Dewi.


pikiran Abi tiba-tiba tidak tenang ia takut wanita yang bersama saat ini mencalakai adiknya.


"Apa suaraku juga sangat berubah sampai sedikitpun Kaka tidak percaya denganku?" melihat Abi yang berenang ketepi kolam.


"Waspada memang perlu, tapi jangan sampai buta Kaka!!" Seru Dewi yang masih berada di tengah kolam.


Abi tidak menghiraukan tujuan adalah memastikan adiknya ada dikamar orang tuanya.


Begitu sampai di tepian kolam renang Abi naik dan berlalu begitu saja meninggalkan Dewi yang hanya bisa menatap punggung sang Kaka yang semakin menjauh.


Sementara menunggu Kaka ya Dewi kembali masuk kedalam air ia berlatih disana tanpa ada yang tau.


DI pesantren tepatnya di asrama Putra.


"Aku harus bertamu dengan Dewi dna Abi menceritakan mimpiku yang di temui oleh Kakek Ahamd Halim tadi malam." gumam Mars.


Tanpa membuang Waktu Mars berjalan kerumah Kyai Ahmad ia meminta ijin untuk menemui Abi dan Dewi.


Awalnya Kyai Ahmad Heran karena baru kemaren malam mereka bersama-sama berkumpul dengan Abi.


Mars pun menceritakan perihal mimpinya yang di temui oleh Kakek Ahmad Halim dan memintanya menyampaikan pesan pada Dewi serta Abi. Kyai Ahmad akhirnya mengerti dan mengujinkan Mars kerumah Yusuf ia ia juga berpesan agar Mars membatu keluarga Abi menyiapkan Acara tahlil malam ini.


dengan senang Mars setuju dan akan menunggu Kyai Ahmad beserta yang lain datang nanti malam.


Mars berpamitan dan pergi mengunakan taksi onlane untuk mengambil motornya yang saat itu ada di bengkel lalu kerumah Abi.


Abi yang melamun didalam kamarnya sambil melihat wajah kecil Dewi yang tertidur di kasur yang tidak terlalu jauh dari letak kasur miliknya. Selit bagi Abi menerima kenyataan bila wanita yang terlihat begitu cantik tadi malam adalah Adiknya yang saat ini tertidur di kamarnya.


Teringat kembali bagaimana ia menuduhnya membuat adiknya tidak ada dirumah maupun di Markas.


Namun saat mendengar telepati dari Kakeknya Raden Mas yang menyatakan bila yang didepann itu memanglah Dewi teratai adiknya membuat Abi begitu terkejut dengan kenyataan dihadapannya.


Mengingat Kakeknya tidak pernah berbohong padanya Abi mau tidak mau percaya dengan ucapan Kakek bunyutnya itu.


Ada apa kenapa Kaka melihat Dewi begitu apa wajah kecilku ini terlihat begitu imut dimata Kaka? Sentak Dewi membuat Abi terkejut buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Andai aku bukan Adikmu akan kupertimbangkan perasaan Kaka yang begitu menyukai aku ledek Dewi sambil duduk di tepi ranjang dan mengubah bentuknya menjadi remaja dengan wajah aslinya.


Abi berdecak kesal melihat sang adek mengubah bentuknya sesuka hati.


"Dewi cepat kembali menjadi seperti semula jangan sampai ada yang melihatmu dan berpikiran yang tidak-tidak padaku." kesal Abimanyu.


"Hehehehe, tapi kau menikmatinya bukan" celetuk Dewi.


"Apa maksudmu?" melihat ke arah Dewi.


"Menikmati wajahku yang cantik ini." tawa Dewi mengejek Abi.


"Kau_"


Dewi berlalu kekamar mandi sembil mencolek wajah sang Kaka. Saat yang sama darah Abi berdesir mendapat sentuhan tangan halus dari wanita secantik Dewi.


Begitu suara putu kamar mandi tertutup Abi terperanjat kanget sambil berucap.


"Ada apa denganmu Abi tidak mungkin kamu menyukai wanita itu, Ingat Abi dia itu adikmu."?monalog nya.


Dewi tertawa lepas dikamar mandi membuat Abi waspada. "jangan-jangan dia mendengar aku bicara apa suaraku keras sampai didalam kamar mandi bisa terdengar." batin Abi.


Tenang saja ka aku akan membalas rasa sukamu tapi maaf hanya sebatas sebagai adik tidak bisa lebih teriak Dewi ia tau Kaka nya belum keluar dari kamar.


Abi semaki dibuat kesal ia tanpa menjawab pergi dari kamar dengan membanting pintu.


Kembali Dewi terkikik geli. Selesai mandi ia segera turun kebawah untuk makan.


Eh anak gedis Bunda sudah bangun sapa Risa sambil menyusun piring yang baru selesai ia cuci.


"Bunda kenapa tidak membangunkan Dewi untung saja belum azan zuhur." protes Dewi.


"Sepertinya kamu kelelahan makanya Bunda dan Kaka biarkan, Rencananya selesai mencuci piring ini bunda akan membangunkan kamu nak." Jawab Risa.


"Dewi lapar bunda." regek Dewi dengan ekspresi wajah lucu.


Bunda sudah siapkan makanan enak untuk putri kecil Bunda jawab Risa sembari mengendung Dewi yang sudah mengubah bentuknya menjadi anak berusia Empat tahun.


Risa mendudukkan Dewi di kursi meja makan. Kemudian mengambilkan makanan untuk putri tercintanya.


"Dewi teringat kembali saat ia bertemu dengan Kakek ahmad Halim dalam mimpinya. Ia memintaku untuk segera bertemu Mars. Jadi penasaran?" gumamnya.


"Ada apa nak?" tanya Risa yang mendengar Dewi berbicara sendiri namun tidak terlalu jelas, Risa meletakkan makanan untuk putrinya Di meja makan.


"Tidak ada Bunda, ohnya apa nanti malam om Mars akan datang?" Dewi balik bertanya sambil mengambil sendok di piring.


"Bunda tidak tau tadi malam tidak bertanya" jawab Risa.


"Ayo nikmati makananmu Bunda mau keluar sebentar." ucap Risa.


"Dewi aku masuk ya?" ujar Rubah Putih.


Ya masuklah aku hanya sendiri di dapur Sahut Dewi melalui telepatinya.


"Ada kabar buruk patug batu Marcella menghilang dari tempatnya." lapor rubah.


Bonus Visual Abi