Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
pembagian Tugas.


Saat Abi membawa keduanya kedalam sebuah bangunan yang tak pernah dilihat sebelumnya. pangeran Wijayakusuma serta Adiknya menatap takjub.


"Ayo masuk." ajak Abi ketika sampai didepan pintu.


Belum puas Putri Larasati melihat keindahan diluar rumah, ia dibuat semakin takjub tak kala melihat berbagai perabotan rumah tangga yang tak pernah ada di dunianya.


terutama lampu hias yang menggantung begitu indah menurutnya.


"Assalamualaikum, Ka Laura kenalkan ini dua orang temanku."


Laura melihat kedua orang yang di perkenalkan Abi sambil tersenyum ia menjawab salam Abi. "Alaikum salam."


"Astaga Abi, ini beneran teman kamu, mereka lagi ngapain pakai baju zaman kerajaan begitu kesini.?"


"Beneran, mereka berdua teman Abi keduanya akan menjaga markas kita." ujar Abi menyahut.


"kamu yakin mereka bisa dipercaya." bisik Laura.


"Abi yakin meraka dapat dipercaya. sebaiknya Ka Laura belikan mereka pakaian sementara aku akan menemani mereka disini dan menjelaskan tugas mereka." Perintah Abi.


"kau yakin tidak mau ikut?, jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku." Kata Laura dengan wajah serius.


"tenang saja Ka, mereka orang baik. hanya saja Alam kita dan mereka berdua berbeda pada dasarnya sama-sama makhluk Allah." Tukas Abi.


"berbeda Alam?" ulang Laura bingung.


"Ya, mereka dari alam atas atau bisa disebut berasal dari negeri Awan di sana tempat mereka tinggal sebelumnya. saat ini mereka akan tinggal disini bersama kita menjadi sebuah keluarga." Jelas Abi sambil menuntun untuk kedua temannya untuk duduk di sofa.


Mata Laura membulat sempurna mendengar penjelasan singkat Abi. Sulit baginya untuk percaya, dalam hati ia masih berfikir jika Abi mungkin berbohong entah untuk kepentingan apa.


"sudahlah, Ka Laura belikan keperluan mereka semua. ini pakailah." ucap Abi menyerahkan black card untuk Laura.


Laura menerimanya lantas segera pamit meninggalkan markas.


"Pangeran Wijayakusuma ayo ikut dengan Aku." ajak Abi sambil beranjak dari duduknya.


Wijayakusuma tersenyum sambil berdiri mengikuti perintah Abi begitu pula dengan putri Larasati.


meski bahasa Abi tak mudah dimengerti oleh keduanya namun isyaratnya masih bisa dipahami.


Markas milik Abi memang memiliki fasilitas lengkap termasuk kamar untuk beristirahat juga dibuat di sana.


Abi menjelaskan semua fungsi benda yang ada dalam kamar termasuk cara menghidupkan lampu dan air dikamar mandi. begitu dirasa cukup Abi mengajak ke dapur.


Sesampainya di dapur Abi kembali mengajari keduanya cara memasak makanan untuk dinikmati sebagai pengganjal perut.


"Disini kalian hidup tak perlu mengunakan kekuatan serta tenaga dalam. Tetapi tetap harus berlatih termasuk cara mengunakan senjata. nanti Ka Sinta akan menjadi guru kalian." ujar Abi menjelaskan.


"bagaimana rasanya?" tanya Abi begitu selesai memasak telur dadar dan sayur capcay, ia meminta Larasati menyicipi masakan yang dibuatnya.


Larasati yang baru pertama kali merasakan makanan kaya akan bumbu tak mampu menjawab ia berdecak kagum dengan kemampuan memasak Abi begitu pula rasanya yang nikmat.


"Ayo kita nikmati bersama." ajak Abi sambil membawa masakan Ke meja makan dan juga mengambil nasi putih yang sebelumnya sudah ia masak.


"cucilah tangan kalian dengan sabun seperti yang tadi Abi ajarkan." perintah Abi.


"Aku tidak tinggal disini, kalian akan aku berikan satu-satu ponsel untuk menghubungiku atau ka Laura untuk berkomunikasi." ujar Abi.


"Ponsel apa?" tanya Larasati.


"Alat seperti ini untuk memudahkan kita berkomunikasi dari jarak jauh." sahut Abi memperlihatkan ponsel android miliknya.


"Benda itu bisa untuk berkomunikasi seperti bertelepati?" tanya Wijayakusuma bingung sambil menatap ponsel Abi


"Ka Laura akan mengajari kalian cara mengunakannya nanti. ia seperti telepati tapi tidak perlu berkonsultasi hanya perlu menekan nomor ponsel yang orang yang kalian inginkan." jelas Abi kemudian meminum air putih disampingnya.


meski masih bingung, Wijayakusuma menganggukkan kepalanya. sedang putri Larasati, masih mencoba mencerna semua ucapan Abi di dalam otaknya.


"Aku punya tugas untuk kalian! ujar Abi dengan wajah serius menatap dua orang temannya di meja makan.


"Katakanlah, kami siap menerima perintah." jawab tegas Wijayakusuma diangguki oleh Putri Larasati.


"Pangeran Wijayakusuma, Putri Larasati, maafkan aku jika terlalu cepat memberi tugas hal ini harus kulakukan mengingat lawan sudah mulai bertidak mempersiapkan diri untuk sebuah pertarungan besar nanti. untuk itu pengeran jelajahi hutan ini taklukkan semua binatang didalam hutan ini untuk menjadi pengikut kita. biarkan mereka menjadi penjaga hutan ini agar tidak sembarang orang bisa masuk kemari." perintah Abi.


"baik akan ananda laksanakan." jawab Wijayakusuma. bukan hal yang sulit baginya karena kemampuan yang ia miliki salah satunya mengerti bahasa binatang.


"Untuk Putri Larasati, Ibundaku akan tinggal disini ia sedang mengandung adikku, Aura Dewi teratai emas sangat kuat hingga membuat para penganut Ilmu hitam berlomba-lomba ingin mengambil janin itu guna menambah kesaktian." jelas Abi.


"Apa putri bersedia menjaga dan merawat ibundaku?" Abi bertanya penuh harap.


"Ananda bersedia." sahut Putri Larasati mantap.


"Tuan Abi maaf jika aku baru bisa datang kemari." ujar Seekor rubah putih masuk melalui jendela yang terbuka.


"kau ini mengagetkanku saja, bagaimana keadaan diluar apa semua aman?" tanya Abi.


"Wanita iblis itu berhasil menjadikan Ayahmu Devan sebagai tempatnya memperoleh benih guna membebaskannya dari kutukan." cerita Sang Rubah.


"Aku sudah berusaha semampuku, bahkan dibantu oleh Kyai Hasan untuk menolong Ayah Devan malam itu. gerhana bulan merah membuat kesaktian para jin dan iblis meningkat hingga kami tak mampu menembus dinding gaib yang di ciptakan oleh Raja Jin selalu suami gaib Putri Arum. baru sampai didepan rumah Kakek Willem kami sudah dikepung oleh Jin dan iblis. tak Hanya itu di pesantren puluhan santriwati kesurupan masal membaut kyai Ahmad tak bisa ikut membatu. ustadz Akbar bersama kyai Ahmad harus menolong menjaga Santri serta santriwati." cerita Abi.


"harusnya di pesantren mereka terjaga dengan baik, bagaimana hal itu bisa terjadi?" ujar Sang Rubah mengajukan sebuah pertanyaan.


"Aku tidak tau pasti asal mulanya, yang kudengar dua orang santriwati awalnya keluar dari pondok, dengan alasan ingin membeli keperluan mereka di asrama. beberapa menit setelah kembali keduanya mengaum bagai binatang mendengar suara Santriwati lain membaca ayat suci. tak lama kegaduhan terjadi di sana. dalam waktu singkat santriwati lain ikut bertingkah seperti binatang." jelas Abi.


"iblis betina itu ternyata cerdik juga?" puji Si Rubah.


Iblis itu memang cerdik itulah mengapa banyak orang terpengaruh oleh tipu daya Muslihatnya.


"Tugasmu mengajari mereka membaca, mengunakan ponsel sopan santun, tatakrama, dan lain-lainnya." perintah Abi untuk Rubah.


"itu kecil bagiku semuanya pasti beres." sombong si Rubah.


"Buktikan ucapanmu itu. Bagaimana dengan om Gio apa semua urusan di kantor polisi?" beres tanya Abi sebelumnya Abi diam-diam memerintah Rubah untuk mengikuti Gio.


"Beres Tuan Abi suami istri itu resmi menjadi tahanan." lapor Rubah.


"terimakasih Rubah kau banyak membantu aku." Ujar Abi sambil memberikan satu buah apel utuk si Rubah.