Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
takjub


Mars apa kamu akan ikut Zahra dan Abi tanya Kyai Ahmad sembari menatap Mars yang diam mematung.


"I....iya Kyai." Sahut Mars Asal.


"Bagus Nak satidaknya kamu sedikit meringatkan beban mereka, tubuhku yang renta ini tidak memungkinkan untuk ikut perjalanan jauh." lanjut Kyai.


"Kyai tenang saya saya juga akan ikut serta." ujar wijayakusuma sembari menatap sang Adik meminta ijin lewat bahasa isyaratnya.


"Bila begitu saya juga akan ikut." celetuk Dewi Larasati.


"Baiklah begitu aku akan menjaga keluarga kalian disini kami akan mendokan selalu kalian." ungkap kyi Ahmad dengan bibir tersenyum tipis.


Raden Mas menatap semua orang dengan tatapan sendu entah apa yang di pikirkan oleh lelaki tua itu.


"Dewi Lasmini lihatlah cucu dan cicitmu mereka berjuang bantulah mereka." batin Raden Mas.


Di istana Dewi sekar Zahra di latih olehnya cara mengunakan dan mengandalikan energi di dalam tubuhnya saat ini Zahra sudah bisa berlari kencang agin dan berpindah pindah tempat dengan snagat cepat.


"Bagus Zahra. Tidak ku sangka secepat ini kamu belajar dulu aku butuh waktu berbulan-bulan untuk menguasainya sedangkan kamu hanya dalam wktu satu mimggu sudah bisa." ungkap Dewi sekar mengenang massa lalu.


Apa nama tehnik berpadah tempat ini tanya Zahra kemudian ia menghilang dan muncul kembali dengan jarak satu mener dari tempatnya semula.


"Namanya tehnik lempit." sahut Dewi sekar seraya muncul di belakang Zahra sembari tersenyum.


Zahra mengumpukan energi putih miliknya di tangan kanannya membentuk sebuah cambuk bercaya


Dewi sekar tercengang ia belum mengajarkan itu tapi Zahra sudah menguasainya.


Zahra membuat ujung cambuk itu menjadi tajam hingga dapat merobek benda apa saja yang terkena cambukan olehnya.


Mereka berdua berlatih di hutan larangan.


Zahra tiba-tiba menghilang mengunakan tehnik lempit dan muncul di cabang pohon kapuk yang lumayan besar ia mencabukan salah satu pohon yang berada di dekatnya hingga daun luruh dan beberapa tangkai pohon patah seketika.


Bagus Zahra kau jenius seru Dewi sekar yang muncul di samping Zahra.


Zahra tersenyum saja menanggapi ucapan Dewi sekar.


zahra coba kamu serang aku perintah Dewi sekar.


Tanpa menjawab Zahra menghilang dari tempatnya berdiri dengan gerakan begitu cepat ia muncul di belakang Dewi sekar sembari menarik rambut milik Dewi sekar namun saat tangan Zahra ingin memotong rambut mengunakan belati ditangannya tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.


Apa kau lakukan Zahra ucap suara wanita yang tidak lain Dewi sekar ia berada di atas pohon.


Zahra terkejut dan melihat wanita yang ada di hadapannya  memiliki wajah dan perawakan sama dengam Dewi sekar sedetik kemudian wanita ituhilang bagai asap.


Zahra melihat ke arah Dewi sekar yang tersenyum padanya.


"Itu hanya bayaganku saja yang terbentuk dari energi di tubuhku, kau juga bisa melakukan hal yang sama." ujar Dewi sekar sembari terbang mendekati Zahra.


"Akan ku ajarkan setelah kita mengisi stamina terlebih dahulu." ayo ajaknya sembari menghilang di ikuti oleh Zahra.


Dewi sekar membawa Zahra ke  sebuah pohon ajaib berdaun perak pohon aneh ini memiliki buah berwana merah bentuknya seperti buah delima.


"Ambil dan makanlah buah itu." perintah Dewi sekar.


"Tidak, buah dari pohon aneh ini bisa saja mengandung racun mematikan. Lebih baik aku menahan lapar dari pada makan sesuatu yang tidak ku tau aman atau tidak untuk di konsumsi" tolak Zahra.


Tanpa ba-bi-bu Dewi sekar mengambil satu buah dan memakannya tidak ada keraguan setidikpun di wajah cantiknya.


"Racun juga perlu waktu saat bekerja tunggu duapuluh sampai tigapuluh menit dulu." cicit Zahra yang tau maksud Dewi untuk membuktikan buah itu aman di konsumsi.


"Buah ini bisa memulihkan energimu yang hilang dan mampu mengobati luka dalam apa saja yang di alami si pemakan.tidak hanya itu enrgimu akan bertahan berkali lipat." jelas Dewi sekar seraya mengigit kembali buah di tangannya.


Buah ini berbuah dalam lima tahun sekali dan saat berbuahpun tidak banyak. Banyak sekali orang yang menginginkan buah ini dengan berbagai alasan pohon ini di jaga oleh seekor singa bermahkota perak. Mereka harus mengalahkan singa itu dulu untuk mendapatkan buah ini.  Kau harusnya beruntung karena aku menawarkan buah ini padamu ungkap Dewi sekar ia kemudian melempar buah ajaib itu untu Lion.


dengan sigap Zahra mengkap ia mengamati buah yang ada di tangannya ia masih ragu untuk memaknnya..


makanlah Zahra aku tidak berbohong padamu tantang buah ini. tidak ada racun sema sekali di dalam buah ini senyum Dewi sekar mengambang tubuhnya sudah merasakan lonjakan energi yang berlimpah.


jika kau sedah memakannya maka kendalikanlah energi itu dengan posisi letus. peritah Dewi sekar ia kemudian duduk di bawah pohon untuk mengendalikan energi didalam tubuhnya.


Dewi sekar sudah memejamkan matanya tanda ia tidak bisa lagi di ganggu.


meski masih ada perayaan yang ingin Zahra tanyakan ia manyimpannya dalam benaknya saja.


"haruskah aku memakam buah aneh ini,...? bagaimana jik terjadi sesuatu aku dan Dewi sekar berbeda dunia akankaj efeknya tetap sama....? di saat bimbang Zahra teringat pasa sang ibu yang sudah lama berpulang pada sang pencinta.


jika kau ragu akan sesuatu maka tanyakan pada hatimu, dan bila masih ragu maka mintalah jawabanya pada Nya yang maha tau dam berpasrah padanya pesan itu masih di ingat dengan jelas oleh Zahra.


Zahra bertanya pada hatinya di panjut berpasrah pada yang maha pencifta karna memungkinkam untuknya untuk sholat istiharoh di sana.


dengan bismillah Zahra mengigit buah di tanganya rasanya manis seperti buah anggur Zahra terus menguyah buah tersebut saat sudah di telan zahra benar-benar merasakan energi besar di dalam tubuhnya ia baru mengigit satu gigitan daja.


tanpa ragu lagi Zahra menghabiskan buah di tangannya kemudian ia menyusul Dewi sekar duduk dengan posisi letus sembari memejamkan matanya.


Di tempat lain Sukama Abi di tarik ke suatu mempat asing yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.


saat membuka mata Abi tercengang ia berada di bukit dengan pemamandngan yang begitu menakjubkan seluh bopoh disana berwana perak.


Abi melihat sekeling herharap bertemu seseorang yang ia tanyai tantang ke anehan tempat tersebut namun ia harus menelan kekecewaan kala matanya tidak menemukan satu orang pun disana bahkan keberadaan binatang pun tidak terlihat sama sekali.


di atas bukit Abi melihat sebuah gubuk kayu yang terlihat kecil sekali dari tampatnya berdri.


"sepertinya aku harus berjalan ke atas bukit itu gubuk itu menadakan bahwa tampat ini ada yang mengurus dan memilikinya." batin Abi.