Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kekuatan Doa


Anakku apa itu benar-benar Abi dia terlihat sangat berbeda dengan baju putra mahkota gumam Devan.


Saat ini tubuh Devan berubah menjadi kurcaci kecil ia berdiri di samping Ular putih ular itu membantu Devan agar tidak terlihat oleh sang Ayah.


Abi berjalan mendekati Dewi yang menyambutnya dengan senyuman manis.


Semantara Willim yang melihat Abi memakai pakaian kerajaan dibuat terkejut dalam pikirannya bertanya mungkinkah Abi adalah pemilik istana megah yang ada dihadapan mereka saat ini. Namun Hati nya menolak keras prasangka dan pertanyaan yang ada dalam benaknya.


Anda benar Tuan Willim Abi pemilik tempat ini." kata Yusuf dengan wajah Datarnya.


"Bagaimana kamu bisa tau apa aku pikirkan?" cicit Willim.


"Tidak perlu terkejut begitu Bukankah kau mengenal suaraku." Sahut Yusuf kembali dengan nada suara yang begitu digenal Oleh Willim.


Wajah Willim berubah pucat pasi ia begitu mengenal suara saudara kembarnya itu dan ia juga begitu benci dengan suara itu mengingatkannya akan kasih sayang kedua orang tuanya terhadap saudara yang berbeda dengannya.


Abi dan Dewi saling pandang lalu mencari tempat yang pas untuk duduk menonton penunjukan. Kedua anak Risa ini memang sudah menyusun rencana sedemikian rupa untuk memberi kejutan pada Willim termasuk mengajari sang Ayah bersandiwara menirukan suara sang Kakek.


"Kanapa Willim, ada apa dimana yang sakit aku akan membantumu." ujar Yusuf dengan wajah sedih dan cewas.


"Tidak ku sangka Ayah punya bakat terpendam." gumam Dewi.


"Sutttttt jangan berisik." tegur Abi.


"Jangan mendekati Aku." ujar Willim beringsut mundur namun naasnya ia justru merasa sakit terkena duri bunga mawar.


"Hati-hati Will kamu sedang terluka berhentilah biar aku obati lukamu." teriak Yusuf dengan menunjukan Wajah cemas..


Memori masa lalu seakan terulang kembali dimana sang Ayah lebih memilih Marcello untuk mempelajari kitab-kitab yang di tinggalkan nenek moyang mereka sebagai penerus generasi selanjutnya.


" Tidak Marcello cukup berhenti disana kau tidak perlu perhatian padaku dan jangan mengasihani aku lagi seperti dulu bila pada tujuannya untuk mengambil hati kedua orang tua kita." pekik Willim dengan suara keras ia seakan lupa dengan rasa sakit di kakinya saat ini sakit hati jauh lebih besar.


" Kau salah paham Will, aku tidak pernah berniat lebih unggul darimu, aku memang cemas dan khawatir ketika kau terluka kita ini bersaudara tentu aku tidak ingin kau terluka." sergah Yusuf dengan memakai Nada suara Marcello.


"Hentikan omong kosongmu, Aku membencimu Marcello kau dan Ayah ibu sama saya kalianlah yang menghancurkan hidupku impianku massa depanku kalian menjadikan aku iblis yang tidak berperasaan, kalianlah orang pantas disalahkan." jerit Willim.


"Maaf Willim kau seharusnya tau bagaimana aku selalu membelamu dan memujimu dihapan kedua orang tua kita, aku juga selalu berusaha menutupi kesalahanmu namun apa dayaku hanya manusia biasa Will, orang tua kita tidak buta ia melihat semua kelakunmu." ujar Yusuf yang entah sadar atau tidak ia seperti terseret ke massa lalu dan melihat semua kejadian yang menimpa sang ayah.


" Kau bohong kau Marcello kau bohong." teriak Willim dengan pandangan mata tertuju kearah Yusuf jelas sekali ia melihat wajah Yusuf berubah menjadi wajah Marcello.


"Kenapa kamu bisa bangkit dari kubur apa dua anak itu yang membantumu." tunjuk Willim tertuju pada Abi dan Dewi.


"Tidak, Mereka tidak ada hubungannya Aku sendri yang diberi kesempatan bertemu denganmu menjelaskan keselah pahaman kita."


"Tidak ada salah paham Marcello semua terlihat jelas dan nyata bukti juga terlihat." Kata Willim lantang.


" Willim mengingat kembali massa lalunya. Itu hanya tipu daya kalian saja agar aku tidak marah dan kecewa." Willim menyahut dengan menunjukan wajah taksukanya.


" Itulah kesalahanmu Willim kamu selalu berfikir buruk tentang orng lain hingga kau memiliki kesimpulan tersendiri tanpa mau mendengar apa kata orang lain."


Abi Dewi dan Devan mendengarkan kuping masing masing-masing tanpa ada yang ingin menyela.


Di tempat lain Sinta melawan dua orang dukun dengan ilmu bila diri yang ia miliki meski berkali kali tersungkur namun tekadnya tidak pernah surut ia bangkit dan melawan lagi dan lagi hingga sampai pada titik terendahnya.


Ka Sinta dunia ini bukan milik kita tubuh juga bukanlah milik kita kakuatan dan kesehatan yang kita miliki semua milik Allah berpasrah dan bertawakal hanya padanya nasehat Abi berputar seperti kaset rusak di kepala Sinta.


Sinta memejamkan matanya mengingat segela dosanya memohon Ampun dan meminta pertolongan dengan hati yang tulus.


Tiba-tiba suara petir terdengar begitu keras disertai angin kencang.


"Apa yang terjadi." kata salah satu dukun ia berpegang kuat pada pohon agar tidak ikut terbang terbawa angin.


"Heiiiii nona siapa kamu sebenarnya?" tanya si dukun berkumis tebal.


Sinta tidak menjawab ia larut dalam doanya.


Kedua dukun itu tidak bisa menyerang Sinta lagi selain lelah tenaga mereka juga terkuras karena menghindari ilmu bila diri Sinta yang ternyata tidak bisa di pandang sebelah mata.


Sinta menarik napasnya dalam membuka matanya perlahan ia melihat Dua dukun itu terpaku di tempat melihat langit berubah gelap awan hitam berkumpul seolah bersiap menurunkan hujan.


Dor....... Dor.....


Dua petir menyambar pohon yang sedang di dekap ekat oleh dukun-dukun itu seketika terbelah menjadi dua bagian dan ambruk.


Kedua dukun itu tidak sempat melarikan diri mereka tertindih oleh pohon dangan susah payah berusaha keluar pohon yang menjepit badan keduanya.


Sinta datang seperti seorang pahlawan dengan mudahnya ia merik pohon tersebut tanpa merasakan berat seakan seperti memindahkan ranting pohon.


Tatajam tajam Sinta membuat dua dukun itu bargidik hujan turun dengan deras namun Sinta tidak beranjak dari tempatnya.


Meski sudah terluka dua dukun itu tidak mau menyerah juga belenggu yang mengikat leher keduanya jauh terasa lebih menyakitkan.


Keduanya menggabungkan kekuatan bersiap melakukan serangan terakhir dan resiko besar harus mereka tanggung bila tidak berhasil.


Hujan tiba-tiba berhenti saakan memberikan jeda untuk kedua dukun itu membentuk sebuah bola api Raksasa dan segera menyerang ke Arah Sinta.


Bukan menghindar Sinta menatap awan hitam yang seakan menjadi payung baginya dengan segenap kerendahan hatinya ia berpasrah hanya padanya penguasa dan sang pemilik kehidupan.