Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Tongkat


Selesai makan Abi dan Dewi kecil masuk kedalam kamar sedang ratu teratai menemui Raden Mas.


"Kaka apa sudah yakin dengan keputusan yang ambil?" tanya Dewi teratai kecil.


"Aku sangat yakin Dewi semua harus cepat di selesaikan karena jujur kaka tidak tau apakah kekuatan supranatural Kaka ini akan kembali selamanya atau nanti akan hilang kembali jadi selagi masih ada Kaka akan mengunakannya untuk melumpuhkan musuh." tutur Abi.


"Bunda setuju sekali Abi." sahut Risa tiba-tiba masuk tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.


"Bunda harus mendengar dulu versi lengkapnya jangan asal setuju saja." protes Dewi kecil.


"Versi lengkap?"


"Kaka Abi ingin pergi ke kerajaan raja Iblis dan menyerang putri Arum disana. Bukankah itu sama saja kaka masuk kedalam lubang buaya untuk mengantar nyawa." jelas Dewi teratai kecil dengan wajah cemberut.


"Kakamu paati sudah memperhitungkan segelanya Dewi tenanglah Bunda parcaya padamu Abi." ucap Risa sambil mengelus rambut sang Putra.


Terimasih Bunda Abi minta doanya saja sahut Abi Risa mengangguk cepat.


"Jangan khawatir Nak Doa Bunda tidak pernah terputus untukmu." jawab Risa seraya tersenyum.


Dewi kecil menatap sang Kaka dengan wajah sedih.


"Kaka akan kembali Dewi tanang saja tugasmu menjaga Bunda dengan baik." kata Abi sembari menatap sukma sang Adik.


"Entahlah aku sendiri tidak yakin karena aku hanya sukma tanpa raga." sahut Dewi kecil.


"Ragamu akan segera menjadi milikmu seutuhnya Dewi, aku sudah meminta ratu tertai untuk mengantarkan tongkat sang Ratu bidadari secepatnya." Jelas Abi.


"Apa ratu teratai tidak akan kembali lagi kemari?" tanya Risa.


"Tidak ada jalan untuknya kembali sama seperti Ayah Yusuf yang kini berada di istana langit kecuali terlahir kembali." Cetus Abi.


"Apa jadi Mas Yusuf ada di istana langit?"


"Iya Bunda, Ayah adalah ornag baik raja Alam atas sangat senang dan suka pada Ayah hingga ia berkesempatan hidup lagi di istana langait bagit." Jelas Dewi kecil.


"Apa Bunda bisa bertemu dengan Ayahmu Nak?" tanya Risa berkaca-kaca.


"Tentu saja Bunda Nanti setelah urusanku selesai aku akan mengantar Bunda bertemu Ayah." tagas Abi.


"Terimakasih Nak akan Bunda tunggu kamu menepati janji." sahut Risa.


Abi kemudian mencium tangan sang ibu. Setelah itu ia pamit pergi ke markas miliknya.


Setelah kepergian sang putra Risa duduk di sofa seraya melihat album fotonya bersama sang suami.


Dewi kecil sudah masuk kedalam ruang Demensi milik kakaknya ia juga tidak mau ketinggalan dalam misi membantu sang kaka.


Sementara Ratu teratai sudah mencaritakan keinginan Abi yang akan menyerang Putri Arum di kerajaan raja Iblis pada Raden Mas.


"Bila itu memang sudah keinginan Abi aku akan mendukungnya dan membantunya." sahut Raden Mas.


"Tapi bagaimana--"


"itu sudah resiko yang harus saya tanggung." jawab Raden Mas tanpa Ekspresi.


"Sebaiknya kamu capat ambil dan kembalikan tongkat milik ratu Bidadari sebelum semua menjadi kacau." perintah Reden Mas.


Ratu teratai segera pamit. Ia bergagas menemui Kyai Ahmad untuk mengambil tongkat milik sang Ratu.


hanya dalam waktu beberapa detik saja Ratu teratai sudah muncul di area pesantren dengan mengunakan pintu kemana saja ia bisa menghemat waktu mencapai tujuannya.


Dewi berjalan menuju rumah Kyai Ahmad yang ternyata sudah di tunggu oleh sang Kyai.


"Walaikum salam nak masuk Sudah saya tunggu dari tadi." jawab Kyai Ahmad.


Ratu teratai duduk di sofa dan di meja sudaj tersedia minuman dan beberapa kue kering untuknya.


"Silahkan di minuman dan cemilannya dimakan." ujar Kyai Ahmad.


"Begini kyai maksud kedatangan saya kemari ingin-" ucap Dewi terpotong oleh Kyai.


"Saya sudah tau dan Saya sudah siapkan semuanya Nak." sahut Kyai Ahmad membuat Ratu teratai terdiam.


"Minumlah dulu, semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari Nanti Nak, pesan saya jangan pernah melupakan ajaran agama yang sudah kamu dapatkan jadilah pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Terimasih kamu sudah banyak menolong kami selama ini." tukas Kyai Ahmad.


"Saya juga berterima kasih karena kalian sudah semua menerima saya dengan baik dan memberikan kasih sayang serta cinta untuk saya meski saya bukan bagian dari keluarga kalian. Maaf saya tidak tega berpamitan dengan yang lain saya harap kyai yang sudah tau dapat menjelaskannya nanti." minta Ratu teratai dengan mata berkaca-kaca.


Insyaallah akan saya sampaikan nanti.


"Ayo diminum dulu nak." minta kyai Ahmad.


Ratu teratai meminum air putih yang terasa seger dan manis padahal tanpa di campuran apa-apa oleh Kyai.


Bagaimana sudah enakan tanya Kyai.


"Alhamdulillah Kyai badan saya terasa enteng." ujar Ratu teratai ia segera keluar dari raga Dewi kecil.


"Raga itu bukan milikmu Nak sudah saatnya dikembalikan pada pemilknya sesuai janjimu kau harus kembali bila waktunya tiba saat inilah waktu yang di janjikan tiba, ayo saya antar." ajak kyai Ahmad beranjak dari tempatnya duduk.


Ratu teratai tersadar ia tidak boleh egois mempertahankan raga yang bukan miliknya, sekali lagi ia mentap raga Dewi teratai kecil kemudian berlalu mengikuti kyai Ahmad.


Kyai Ahmad berjalan masuk kedalam kamar khusus untuknya beribadah dan melatakan banyak buku kitab-kitab disana. Ia mempersilahkan Ratu teratai duduk di di sebuah karpet putih bersih.


Duduklah akan ku ambilkan tongkat yang harus kamu antarkan. Perintah kyai Ahmad.


Tanpa menjawab Ratu teratai duduk bersila di karpet putih itu.


Tak perlu waktu lama Kyai Ahmad sudah kembali membawa tongkat Sang ratu. Tongkat itu dililit dengan sorban putih oleh Kyai.


"Ini nak penganglah tongkat ini dan pejamkan matamu aku hanya bisa mengantarmu tanpa bisa ikut denganmu." ucap kyai Ahmad.


Ratu teratai segera mengikuti perintah ia memejamkan matanya.


Kyai Ahmad berdoa meminta pertolongan hingga tanpa di sadari oleh Ratu teratai ia sudah tertarik oleh seuah cahaya putih dan menghilang dari rumah Kyai Ahmad.


Alhamdulillah gumam Kyai Ahmad ia kemudian pergi keruang tamu berniat ingin mengantarkan raga Dewi teratai kecil kerumah Risa.


Risa mundar mandir di dalam kamarnya tidak tenang memikirkan sang putra sampai suara ketokan pintu mengagetkannya.


"Bu Risa." panggil pembatu rumah sambil mengetuk pintu kamar.


"Iya bi ada apa?" tanya Risa seraya membuka pintu.


"Di ruang tamu ada pa Kyai sama Non Dewi pingsan Bu." ucap sang pembatu panik.


"Pingsan?" tanya Risa dengan wajah bingung


"Ya sudah makasih Bi." Risa segera berlalu menuju ruang tamu di lantai bawah.


Sang pembatu segera ke dapur untuk membuatkan minuman tuk tamu majikannya.


Sesampainya Risa di ruang tamu ia melihat Dewi terbaring di kursi Sofa tanpa bergerak.


"Assalamualaikum Kyai." sapa Risa seraya melihat Dewi yang ternyata sukma milik Ratu teratai sudah tidak berada dalam raga putrinya.