Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Wajah iblis putri Raja Jin


Dari atas sebuah batu Kyai Hasan duduk bersila ia melihat semua yang terjadi tanpa di ketahui sinta Kyai Hasan membatu dengan caranya.


Makhluk peliharaan dua dukun itu tidak dapat menyentuh sinta karena kyai Hasan yang memberikan dinding pembatas pada tubuh Sinta tanpa di ketahui oleh dua dukun tersebut. Karena pertolongan sang pemilik alamlah segela sesuatu yang mustahil dapat terjadi.


Dua dukun itu tewas tanpa disentuh oleh sinta sedikit serangan maut keduanya berbalik menyerang mereka sendiri karena dorongan angin kencang yang datang bertepatan dengan serangan itu menuju ke arah sinta.


Dangan mata kepala sendiri ia melihat kedua orang itu sekarat lalu menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata melotot dan mulut terbuka.


Kyai Hasan berjalan menghampiri sinta dan bertanya.


"Nak apa kamu baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa kyai." sahut Sinta.


"Istirahatlah pulihkan tenagamu." perintah Kyai Hasan.


Sinta mengangguk namun suara seseorang membuatnya berbalik dan melihat.


"Hai lawanmu masih berdiri disini!" seru seorang dukun paruh baya.


"Bisakah kamu memberiku waktu sebentar saja untuk beristirahat." jawab Sinta sambil menatap sang dukun.


Dukun paruh baya itu menatap tidak suka atas jawaban sinta.


"Aku beristirahat atau tidak toh pada akhirnya aku akan tetap melawanmu yang ilmu kanuragannya jauh lebih tinggi dariku, anggap saja ini adalah permintaan terakhir dari wanita lemah ini." Sinta berbicara dengan wajah sendu.


Dukun parah baya itu terlihat berpikir mungkin ia bimbang membari kesempatan atau tidak.


" Baiklah toh pada akhirnya aku juga yang akan menang berbaik hati sedikit tidak masah." ujarnya sambil membayangkan kemenangan yang akan ia raih nantinya.


Tanpa Sinta tau Dukun itu tidak bisa melihat kyai Hasan yang berdiri di belakangnya.


"Ayo nak sinta cari tempat untukmu memulihkan tenaga." kata Kyai Hasan sambil berjalan menuju kerah sebuah butu.


Sinta mengikuti ia melihat ada sebuah sejarah di atas batu besar dengan segera Sinta mendekat kakinya terasa dingin menyentuh air yang dangkal berjalan selangkah demi selangkah hingga sampai di atas batu yang terdapat sejarah di atasnya.


"Sebaiknya aku sholat saja disini, selagi Allah masih memberiku nafas aku harus menggunakannya dengan baik." batin sinta seraya mencuci kedua kakinya lalu berwudhu di air yang terdapat di bawah air terjun tempatnya kini berada.


Kyai Hasan duduk danĀ  berzikir di atas sebuah batu tidak jauh dari tempat sinta yang kini sedang melaksanakan sholat taubat.


Di tempat lain Risa dan Zahra sedang melawan Putri Lasmi.


"Sebaiknya kalian berdua menyerah saja tidak ada gunanya lagi kalian melawan dengan tubuh lemah itu hanya akan mengentarkan kalian kepada kematian lebih cepat." tutur Putri Lasmi sambil menatap Risa dan zahra yang tersungkur di tanah akibat serangannya.


"Selama kami masih bernafas kami tidak akan menyerah lalu tunduk kepadamu." sahut Risa sambil berusaha berdiri di bantu Zahra.


Prukkkk.... Prukkkk... Lasmi memberi tepuk tangan untuk jawaban Risa. Dengan senyum mengejek ia lalu berucap.


"Aku bersaksi bahwa kau tidak akan mampu mematahkan satu jari kami pun bila itu tidak di kehendaki oleh yang telah menciptakan kami dan alam semesta ini." tukas Zahra lantang.


"Oh ya benarkah? Kenapa saat kalian terkena seranganku tidak ada bantuan dari pencipta kalian?" Lasmi bertanya dengan wajah dibuat seolah sedang serius.


Zahra dan Risa pandang tanpa mau menjawab pertanyaan Lasmi.


"Coba kalian serangan aku sekarang aku tidak membalasnya ayo maju berdua sekalian." lagi-lagi Lasmi menentang sembari menyumbangkan ngkan diri sendri.


"Lasmi kau yakin meminta mereka menyerang tanpa perlawanan? " tanya seorang siluman kalajengking merah.


"Hahahahaha, tentu Saja putri cantiknya mereka tidak memiliki kekuatan apapun, kecuali kekuatan otot dan sedikit ilmu bela diri. Mereka tidak akan menang meski aku tidak melakukan perlawanan." jelas Lasmi.


" Kau lihat tubuh-tubuh lemah penuh luka itu padahal aku baru melakukan pemanasan bukan penyerangan mereka sudah penuh dengan tato darah." Ejak Lasmi lebih lanjut.


Ratu kalajengking merah yang bernama Putri cantika itu melihat kearah Zahra dan Risa yang untuk berdiri saja mereka terlihat kesusahan seluas senyum terbit dibibir sang Ratu kelajengking tersebut.


Percayalah dan berpasrahlah serta di iringi dengan usaha keduanya mengumpulkan tenaga yang masih tersisa. Sambil memejamkan mata Risa mengingat orang-orang yang begitu menyangginya termasuk sang putra. atas nama sang pencipta Risa bersumpah dalam hatinya tidak akan pernah tunduk dibawah perintah iblis dan Jin dan dengan tekad yang kuat ia iklhas bila hidupnya harus berakhir setidaknya ia sudah berusaha membantu putra dan putrinya.


Zahra memejamkan matanya berdoa dan mengingat pesan almarhum ibunya untuk selalu berada dijalan benar dan menolong orang untuk melawan kebatilan di atas muka bumi. Demi kecintaannya kepada sang pencipta Zahra akhirnya mempu membangkitkan kekuatan yang terdiam dalam dirinya.


Wajahnya tampak putih bersih dan matanya bersinar cerah Risa yang juga sudah memiliki kekuatan Cintanya kepada sang buah hati berlari dan siap nerjang Lasmi bertepatan dengan itu Lasmi berdiri tegak siap menerima serangan.


bammmmmmmmmm kaki Zahra menghantam kepala Lasmi sedang Risa menendang Dada Lasmi dengan tepat dan Akurat akibatnya Lasmi terhuyung kebelakang lalu memuntahkan darah hitam.


Harimau putih yang bernama Ki maong tiba-tiba muncul membawa sebuah keris kecil dan memberikan untuk Zahra.


Dalam hati Zahra bertanya siapa yang dilukai oleh keris berlafas huruf Arab tersebut karena ada darah seger yang masih terlihat.


Seperti tau apa yang dipikirkan Zahra Dewi teratai muncul dan membawa kabar bila keris itu sudah berhasil melukai Willim.


Kau bagaimana bisa kekuatanmu kembali kata Lasmi menatap tidak percaya melihat Dewi muncul Melalui portal gaib.


"Kau salah lihat Lasmi portal gaib itu bukan aku yang membukanya tapi Ki Maog." kata Dewi mengelak.


"Sesakti apa harimau itu hingga mampu membuka portal gaib." Sahut Lasmi sambil berusaha berdiri tegak memegak dadanya yang terasa berdenyut.


Aku tidak tau kau bisa bertanya langsung padanya. Dewi berucap sambil mendekati sang Bunda dan menggenggam tangannya seketika tubuh Risa terasa dialiri oleh arus listrik yang memulihkan segela luka dalamnya dengan cepat dan cepat.


Risa menatap sang putri dan Dewi balas menetap seakan bertanya jawab lewat tatapan mata.


Yusuf datang bersama dengan Abi membawa serta kepala Willim yang masih meneteskan darah segar.


Melihat Kepala Willim yang menetaskan darah segar jiwa iblis Lasmi berontak ia mengecap dan menelan silva dengan susah taring dari kedua giginya memenjang dan meski menahan sekuat tenaga ia tidak mampu hingga wajah sang anak Raja jin itu berubah kebentuk aslinya.