
semilir angin mberhembus lembut menerpa kulit kedua wanita berbeda usia yang sedang asyik bercerita dikebun, menambah kekhusukan Umi Salamah mendengarkan semua cerita perjalanan hidup Risa dan Abi.
tak... tak...!!
suara langkah kaki terdengar mendekat
bibi Irah datang dengan membawakan dua cangkir teh hijau, lalu dia berikan kepada Umi Salamah dan Risa.
"terima kasih bi Irah." ucap Umi Salamah.
setelah bibi Irah pergi, Risa kembali meneruskan kisah hidupnya kepada Umi Salamah.
jika Risa tak di tolong oleh almarhum ustazah Aisah saat hamil entah bagaimana nasibnya.
Risa kemudian menceritakan betapa susahnya dia di tahun-tahun pertamanya bersama Abi,setelah ustazah Aisah meninggal,Risa memutuskan tinggal dipanti untuk tempatnya bernaung dengan bermodal tekad dan uang seadaya ia mencari uang untuk keperluannya sehari-hari.
cobaan demi cobaan Risa hadapi setiap hari, demi membesarkan putra tercinta, Risa rela berkeliling dibawah terik matahari untuk menjajakan kuenya hanya dengan berjalan kaki, tidak jarang Risa terkadang pulang dengan tangan hampa.
jika jualannya tidak laku, Risa dan Abi hanya memakan kue yang tidak laku terjual sebagai pengganjal perut di hari itu.
tidak terasa Risa sudah 7 tahun bersama Abi, usaha dan kerja kerasnya berhasil membesarkan anaknya hingga seperti sekarang.
pantaslah jika Risa sangat sedih mendengar kabar anaknya yang tertembak, dia sudah mempertaruhkan segalanya hanya demi Abi, mulai dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang sudah menanam bibit di rahimnya, kuliah yang harus terhenti, dan yang terakhir dia terpaksa harus angkat kaki dari rumahnya karena diusir ayahnya.
setelah Risa selesai menceritakan semua tentang hidupnya kepada Umi Salamah, keduanya terdiam sejenak.
terdengar suara kicauan burung kutilang yang sangat merdu dari atas pohon yang memecah suasana hening diantara mereka.
Umi Salamah mengangkat cangkir tehnya lalu meminumnya.
"bagaimana keputusan Umi setelah mendengar cerita masa lalu saya dan Abi?" tanya Risa.
Umi Salamah hanya tersenyum sekilas.
"mari ikut saya!" ajak Umi Salamah.
mereka berdua lalu beranjak dari tempat duduk.
"apapun masa lalu kamu itu tetaplah masa lalu, tidak bisa lagi diubah, yang kita jalani adalah masa sekarang jangan pernah menjadikan masa lalu yang sudah kamu lewati merusak hidupmu dimasa depan, apa yang kamu lakukan saat ini sudah sangat bagus, kamu sudah jujur agar Umi bisa mempertimbangkan kembali keputusan untuk menjadikan kamu menantu, jawaban Umi tetaplah sama." ucap Umi Salamah bijak.
"bagaimana dengan mas Yusuf?" tanya Risa hati-hati.
"saya yakin Yusuf juga tidak akan mengubah keputusannya." sahut Umi Salamah sambil menerbitkan senyum dibibirnya.
"terima kasih Umi atas ketulusan dan kebesaram hati Umi yang mau menerima Risa dan Abi menjadi bagian dari keluarga Umi." ucap Risa dengan hati yang lega.
Ditempat lain, sebuah rumah sakit kota kairo mesir.
sudah hampir satu minggu Abi koma, Abi terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena insiden penembakan yang alami.
Ustazd Yusuf selalu menjaga disampingnya siang dan malam, dia tidak putus-putus berdoa agar Abi cepat segera bangun dari koma.
"Abi, bangunlah nak!" ucap ustad Yusuf sambil memegang rambut anak mungil yang sedang memejamkan matanya dan di mulutnya terpasang selang oksigen.
tit... tit... tit...
bunyi mesin detak jantung Abi dengan tempo lambat memecah keheningan suasana diruangan tempat Abi dirawat.
tiba-tiba sebuah aktivitas terlihat, jari tangan kanan Abi bergerak perlahan, ustad Yusuf yang melihat itu langsung bereaksi.
"jika kamu mendengar suara saya, bukalah matamu perlahan-lahan Abi!" seru ustazd Yusuf yang langsung menggenggam tangan Abi.
Abi lalu perlahan membuka matanya, lalu menutupnya kembali Abi masih berusaha menyesuikan cahaya yang masuk kedalam matanya,ia membuka kembli perlahan lahan dan yang pertama dilihatnya wajah rupawan ustad Yusuf ada didepannya.
"Apa kita sudah berada di surga?" ucap Abi dengan nada yang pelan dan tempo yang lambat.
tanpa kata-kata dan aba-aba tubuh ustad Yusuf langsung memeluk Abi.
tok... tok... terdengar pintu perawatan abi di ketok seseorang.
"masuklah" ucap Yusuf
Bara dan Adam masuk dengan rambut yang sudah berantakan kemeja yang ia gunakan pun tak lagi rapi.
Bara bersama adam duduk di sofa, sambil mengatur nafas terlihat jelas diwajah meraka sangatlah lelah.
"bagaimna keadaan Anak itu?" ucap Adam
"saya berhasil melakukan oprasi dan mengeluarkan peluru yang berada dalam tubuhnya, meski sempat kritis tetapi ia berhasil melewatinya dan kedaannya saat ini sudah lebih baik" sahut yusuf
"Bara bagaimana pelakunya apa kamu berhasil menemukannya?" tanya yusuf
"aku akan menceritakannya padamu tapi bisakah kami meminta air putih terlebih dahulu" ucap Bara
yusuf berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil 2 botol meneral untuk adam dan Bara. sebelumnya yusuf memang meminta seorang petugas ruamah sakit untuk membelikannya air meneral 1 Dus
"terimakasih" ucap keduanya
flas back on
setelah berpemitan pada Yusuf bara berjalan mencari petugas yang bertanggung jawab atas keamanan gedung.
sesamapinya di depan pintu keluar Bara bertemu scurity gedung.
"pak maaf mengganggu waktunya sebentar, apa bapak melihat laki-laki kira-kira umur 35 tahun memakai pakaian serba hitam dan wajah tertutup masker keluar dari sini?" tanya Bara
"seingat saya tidak ada, apa Taun mencari pelaku penembakan yang baru beberapa menit lalu terjadi?" Tanya scurity itu
"ia pak benar pak" ucap Bara sambil tersenyum ramah.
"jika ciri-ciri yang anda sebutkan belum ada keluar Tuan" Jelas scurity berbadan gemuk itu.
"Apa bapak tau ruang cctv tolong bantu antarkan saya kesana." Minta Bara
"baiklah tunggu sebentar saya penggil teman saya dulu untuk mengantikan saya semantara." Sahut scyrity didepan Bara ramah
tak lama datang seorang laki-laki menghapiri Bara dan scurity gedung mengantikan scurity yang sedang berbicara pada Bara.
"mari ikutlah dengan saya" Ajak scutiry berbadan gemuk
Bara mengikuti langkah scurity didepannya menuju ruang cctv.
sesampainya disana Bara bertemu dengan Adam, yang juga sedang melakukan pengecekan pada rekaman cctv digedung.
Di dalam rekaman tersebut jelas Bara dan Adam melihat, laki-laki berpakaian serba hitam itu menggunakan masker pada wajahnya, hingga tak dapat dikenali wajahnya. laki-laki itu berdiri jauh dari keruman, bahkan ia berdiri di tempat yang lebih tinggi matanya fokus melihat aktivitas yang ada di tengah pameran. bertepatan dengan Adam mendekat untuk memberikan selamat atas keberhasilan Abi membuat kaligrafi dalam waktu singkat,laki-laki misterius itu mengeluarkan senjatanya ia bersiap menarik pelatuk beberapa detik kemudian terdengar suara.
dor....
suara tembakan yang membuat semua orang panik dan berhaburan
kejadian itu begitu cepat peria misterius itu berlari ke arah timur.
Adam dan Bara segera berpamitan pada petugas yang menjaga cctv di gedung mereka berlari menuju ke arah timur tapi mereka tak menemukan apapun disana
"tidak ada apapun di sini" ucap bara
Adam memandang sekeliling ia melihat kamar kecil umum di sedut kiri. Adam berjalan ke arah kamar kecil itu belum sampai kakinya ke tujan seorang kakek membawa tas ukuran sedang keluar dari salah satu kamar kecil yang ada disana.
"kakek tunggu?" panggil Bara.