
sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti di depan rumah Willem, Rumah yang terlihat oleh Abi bagaikan istana.
Rumah dua lantai milik Willem jauh lebih mewah di dibandingkan Rumah Devan.
"Ayo masuk ini rumah kakek." ucap Willem yang melirik Abi yang terkesima melihat Rumah mewahnya.
Devan yang keluar lebih dulu segera mengendong Abi, ia berjalan masuk kedalam rumah Willem.
"Ayah Abi bisa jalan sendiri." ucap Abi.
"Ayah akan mengandung sampai masuk kedalam rumah." sahut Devan sambil terus berjalan memasuki rumah orang tuanya.
"Abi hanya tidak mau menambah rasa leleh Ayah, dari pagi Ayah sudah mengerjakan semua yang Abi minta." sahut Abi dengan suara cemprengnya.
setelah sampai di ruang tamu Devan segera menurunkan Abi dan menundukkan di sebuah sofa ruang tamu.
sementara Willem naik ke tangga menuju lantai dua untuk memanggil sang istri.
dengan perlahan Wellem membuka pintu, ia takut jika menganggu istri mudanya sedang istirahat.
Marcella segera membuka matanya setelah mendengar suara pintu terbuka.
"Mas ada apa kamu pulang cepat?" tanya Marcella pada suaminya.
"Aku tadi mengunjunggi Devan dan tak di sangka bertemu dengan cucu laki-laki kita jadi aku mengajaknya kemari." jelas Willem sambil duduk di tepi kasur.
"Apa, dia ada di sini?" tanya Marcella dengan raut wajah senang.
"ya, mereka ada di ruang tamu saat ini." Sahut Willem sambil manatap wajah istrinya yang masih terlihat cantik di usia yang sudah tak muda lagi.
"jika begitu cepat kita temui mereka aku tak sabar melihat cucu laki-laki kita ."Ucap Marcella.
suami istri itu berjalan ke ruang tamu untuk menemui Abi dan Devan.
sesampainya di ruang tamu, Abi segera menyapa neneknya sambil tersenyum manis.
"nenek wajah nenek sangat cantik!" ucap Abi memuji.
Marcella tersipu malu karena ucapan manis Abi.
"jangan memuji nenek-nenek berlebihan nak nanti dia besar kepala." ucap Devan datar tangannya bergerak membuka kaleng soda untuk ia minum.
Marcella menatap Abi yang tersenyum manis padanya.
tiba-tiba saja, raut wajah Marcella berubah setelah menatap bola mata Abi.
Desiran darah mengalir dengan derasnya begitu pula detak jantung Marscella semakin cepat.
Siapa anak ini sebenarnya, pertanda apakah ini batin Marcella.
"Ayah tolong lihatlah punggung belakang Abi tiba-tiba seperti ada binatang yang merayap." ucap Abi.
Devan segera membuka baju Abi di bagian punggungnya.
mata Marcella masih saja memperhatikan Abi, ia penasaran dengan cucu laki-laki Willem yang membuat detak jantungnya seperti sedang mengadakan konser dadakan.
ketika baju Abi dilepas oleh Devan terlihatlah seekor semut merah sedang merayap di punggung Abi .
pada saat bersamaan Marcella menutup matanya dan segera pergi menjauh dengan alasan membuatkan minum.
setelah mengambil semut dan membuang semut itu Devan segera memakaikan kembali baju Abi.
"terima kasih Ayah." ucap Abi sambil tersenyum.
Devan membelai kepala Abi sambil menganggukkan kepalanya.
Abi menyandarkan badannya di sofa sedangkan Devan melihat membaca berita di sosial media melalui ponselnya.
Rasa kantuk menyerang Abi secara tiba-tiba ia pun terlelap sambil bersandar pada sofa.
Didalam bawah sadarnya ia bertemu dengan seekor rubah berwana putih.
"Abi sudah waktunya kamu belajar banyak ilmu pengetahuan aku akan menjaga dan membantumu semampuku." ucap Rubah putih itu berbicara.
"apa kamu yang berbicara padaku Rubah?" tanya Abi penasaran.
"ya Anda benar sekali tuan, disini hanya ada kau dan Aku" sahut Rubah putih sambil memainkan kedua kakinya.
Abi aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu.
"menyampaikan sesuatu apa?" tanya Abi.
berhati-hatilah nak, masuklah ke ruang Rahasia milik Marcello orlando mintalah Ayahmu mengajari ilmu kedokterannya.
"maksudmu Laboratorium itu?" tanya Abi.
"Ya semakin cepat kamu belajar semakin bagus." ucap Rubah itu.
"Baiklah nanti aku akan memintanya. tapi siapa kamu sebenarnya?" tanya Abi.
"aku adalah orang yang sudah di pilih untuk mendampinggi kamu dan menjagamu dari musuh-musuh kamu terutama dari gangguan orang yang menghabisi nyawa kakek Marcello orlando." jelas Rubah.
"Musuh bagaimana kau tau aku akan memiliki musuh?" tanya Abi penasaran.
"itu karena aku memiliki kemampuan yang sama seperti kakekmu, aku dapat melihat massa depanmu yang akan kamu jalani." cerita Rubah putih.
"bangunlah Abi, suatu saat jika waktunya telah tiba kita akan bertemu." ucap Rubah itu lalu pergi.
"hei tunggu." panggil Abi.
"kembalilah dan bangunlah dari tidurmu Abi. jika kamu ragu memakan dan meminum minuman yang ada dirumah kakekmu ini maka jangan kau minum." ucapnya memberi tau.
Abi terdiam mencerna apa yang diucapkam oleh si Rubah.
Abi membuka matanya dan terkejut mendapati dirinya tertidur di sofa rumah kakeknya.
"Ayah kenapa tidak membangunkan Abi?" tanyanya.
"tidak papa nak Ayah tau kamu leleh seharian mengawasi dan membatu Ayah." sahut Devan sambil memandang raut wajah ngantuk Abi.
Willem datang menghampiri setelah mandi dan mengganti bajunya.
"apa kamu mengantuk Abi?" tanya Willem yang melihat mata merah Abi dan wajah mengantuk.
"Bukan mengantuk saja Dad Abi baru saja terbagun dari tidur." ungkap Defavan.
bawlah Abi kekamar milikmu dan ajaklah istirahat di sana.
"tidak perlu kek, setelah dari sini Abi akan langsung pulang saja." tolak Abi.
setelah mengobrol setengah jam Abi dan Devan pamit undur diri dari hadapan Willem.
Abi diantar oleh Devan ke rumah orang Yusuf. meski dengan hati yang berat Devan melangkah pergi dari rumah keluarga Yusuf.
Abi yang kelelahan segera membersihkan dirinya kemudian beristirahat didalam kamarnya.
Abi memikirkan kembali ucapan dari Rubah putih yang masuk kedalam mimpinya.
apa aku akan menjadi orang yang hebat suatu hari nanti, hingga aku memiliki musuh seperti tuan Adam batin Abi.
"dia bilang kakek Marcello di habisi oleh seseorang, itu artinya kakek di bunuh bukan meninggal karena kecelakaan seperti yang diceritakan Ayah Yusuf" ucap Abi dalam hati.
apa orang itu iri pada kakek yang menjadi seorang ilmuan terkenal di seluruh dunia. batin Abi.
tapi dengan apa orang itu membunuh kakek, bukankah menurut rubah itu kakek bisa melihat massa depan. Abi masih termenung seorang diri didalam kamarnya.
sementara di tempat lain Devan sedang memainkan piano kesayangannya dari kecil.
musik sedih mengalun indah di sebuah ruang musik di rumah milik Devan.
Meski leleh Devan merasa senang seharian bersama Abi, Devan ingin waktu yang lebih banyak bersama sang putra. namun apa boleh di kata ia sudah berjanji akan memulangkan Abi kerumahnya setelah satu malam menginap dirumahnya
"aku harus bisa membawa Abi tinggal bersamaku, lama-lama dengan banyaknya pekerjaanku di kantor Aku yakin Abi mau dijaga oleh pembantu atau pengasuh." gumamnya dalam hati.