Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
tanggisan haru


"Bara itu telinganya sangat sensitif jika mendengar uang." tutur Yusuf.


keempat orang itu terus terus saja mengobrol sesakali mereka tertawa, seakan telah melupakan kejadian yang menimpa mereka beberapa hari yang lalu.


drattttt.....drattttt....


ponsel milik Yusuf bergetar didalam saku.


Yusuf segera mengambil ponselnya dan memeriksa siapa yang melakukan panggilan diponselnya.


setelah membaca nama Umi terpampang jelas adilayar ponselnya melakuakan panggilan vidiocall, Yusuf segera mengangkatnya


"Assalamuaikum Umi."


"waalaikumsalam Yusuf."


"kenapa tidak memberi Umi dan Risa kabar ?" tanya Umi saat telpon sudah tersambung.


"maafkan Yusuf Umi, Yusuf lupa, Abi sudah sadar dua jam yang lalu." Yusuf memberitahu.


Yusuf asyik mendengar cerita orang yang menembak Abi dari Bara, sampai lupa memberi kabar." sahut Yusuf sambil memandang wajah Umi dilayar ponselnya.


"Abi sudah sadar" teriak Umi antusias


"Abi lihatlah, Umi ingin melihatmu nak" ucap Yusuf sambil memperliahatkan Umi salamah melalui layar ponsel.


"Assalamuaikum Umi, apa Bunda ada diruamah Umi?" tanya Abi pelan


"iya bundamu Ada didapur sedang membuat kue" sahut Umi


"Apa bunda tetep berjualan saat tau Abi koma.?" tanya Abi


"iya nak, bundamu berjualan dengan tidak bersemangat, setiap hari wajahnya murung, ia juga bekerja sambil melamun." cerita Umi.


"Bundamu pasti senang melihatmu sudah bagun dari koma." pungkas Umi salamah bejalan ke dapur sambil berteriak memanggil Risa.


"Risa...! Risa lihat ini." ucap Umi sambil menyerahkan ponselnya pada Risa.


"hello bunda Abi yang cantik dan manis" ucap anak laki-laki tampan dengan wajah ceria yang gambarnya terlihat jelas diponsel milik Umi.


"Abi kamu sudah sadar nak" ucap Risa setetes air lulus dari matanya.


"bunda....kenapa menanggis? Abi sudah tak sakit lagi? lalu kenapa Bunda menaggis?"


tanya Abi polos


"Bunda sangat senang nak, Bunda bahagia sekali melihatmu sudah bagun dari tidur panjangmu." Risa berbicara sambil terisak.


"Bunda jika Bunda terus menaggis Abi tidak akan pulang, berhentilah menanggis seperti bayi yang kehilangan mainan." ejek Abi


Risa terus saja terisak mendengar suara Abi yang hampir satu minggu tidak didengarnya.


"Abi benar-benar tidak akan pulang menemui Bunda jika Bunda terus saja menanggis." Acam Abi dengan wajah serius.


Risa tersenyum kecut mendengar Acaman sang Putra.


"baiklah Bunda akan berhenti menanggis asalkan Abi cepat pulang. Abi akan membuat kue bersama. Bunda sangat merindukanmu nak." uangkap Risa dengan suara serak yang masih terdenger serak.


Abi tertawa renyah mendengar bundanya yang ingin membuat kue bersamanya.


"tentu saja Bunda merinduakan Abi yang sangat cerewet dan teliti saat membuat kue, karna setiap Bunda melakuakan kesalahan Abi akan mengomel panjang kali lebar."


Risa tertawa lepas mengigat Abi yang bagai seorang guru, Abi terus menagawasi gerak geriknya saat membuat kue.


"kamu benar-benar pengawas yang sangat menyebalkan." sahut Risa sambil mengerucutkan bebirnya.


"menyebalkan, cerewet tetapi saat tak ada Bunda justru merindukannya." heeheehheheh Abi kembali tertawa senang.


"pa ustazd berapa lama lagi Abi baru boleh pulang?" tanya Abi.


"jika keadamu terus membaik kemongkinan dua hari lagi kita akan pulang."


"bunda dengarkan Abi akan pulang dua hari lagi."ucapnya gembira


"apa yang bunda inginkan saat ini sebagai oleh-oleh," Abi terus saja berbicara pada Bundanya


"bunda Abi mengantuk sekali." kata Abi sambil menguap.


"istirahatlah nak, Assalamuaikum."


"walaikum salam," jawab Abi.


setelah panggilan berahir Abi benar-benar tidur hanya dalam hitungan menit.


Adam mendekati Yusuf dan memberikan sebuah cek senilai 700 juta "ini untuk Abi." ucapnya.


"terima kasih pa Adam." Yusuf menyahut sambil menerima cek yang diberikan Adam.


"Anak anda benar-benar anak yang luar biasa, diusia yang masih dini dia sudah bisa membuat karya seni yang sangat mengagumkan.ucap Adam


aku bisa memperkenalkannya pada beberapa pemilik gallery seni mancanegara Agar karya seninya bisa dinikmati oleh berbagai turis asing." lanjut Adam.


"Abi bahkan mongkin akan menjadi seniman karya seni termuda didunia apa kamu tidak tertarik menjadikan Abi orang yang dikenal seluruh dunia." tambah Adam.


Bara mendekati Yusuf dan berbisik, "ayolah Yusuf jangan sia-siakan kesempatan didepan mata."


"maaf pa Adam saat ini Abi masih terlalu kecil ia masih perlu banyak belajar. saya benar-benar ingin Abi fokus menuntut ilmu sebagai bekal dikemudian hari." sahut Yusuf menolak secara halus.


"ya baiklah saya mengerti, tidak perlu terburu-buru pa pikirkanlah lagi, jika anda berubah pikiran maka hubungilah saya ini kartu nama saya." ucap Adam


"terima kasih banyak pa Adam."


tok...tok...tok..


"masuklah." seru Yusuf.


pa Ahmad dan pa Ammar masuk me dalam ruang perawataan Abi sambil tersenyum.


"kebetulan sekali kalian berkumpul disini."


ucap pa Ahmad


"Ada apa pak apa ada masalah ?" tanya Bara cepat


"ini mengenai pelaku penembakan dipameran itu, kami sudah banyak bertanya pada saksi yang meliahat kejadian itu dan ciri-ciri orang yang melakukan bom bunuh diri itu 99 persen sama persis dengan peria paruh baya yang melarikan diri diruang pemeriksaan."


"jadi intinya adalah orang itu orang yang sama." tanya yusuf


"apa tujuannya melakukan bom bunuh diri karna tak ingin kita banyak bertanya siapa dalang dibalik penembakan itu." analisa Adam.


"Ya kami juga berpikir sama dengan Anda." sahut pa Ammar.


"di dalam pesan itu tertulis ada yang mengincar kedudukan anda saat ini yang artinya ada yang ingin mengambil posisi anda sebagai ketua asusiasi seni dunia." ucap Yusuf.


"Orang yang terlihat baik belum tentu baik, dan orang terliahat jahat belum tentu jahat. bisa jadi orang itu menutupi kejahatannya dengan kebaikkan." Ucap Abi yang entah sejak kapan terbagun dan mendengarkan pembicaran mereka berlima.


"iya kamu benar sekali Abi, kau sangat jenius Abi kau berpikir begitu cepat." ucap Bara.


terama kasih pujiannya Om Bara ucap Abi tersenyum manis.


"pa Adam bagaimana jika anda mengundurkan diri dari ketua asusiasi untuk memancing musuh anda muncul ke permukaan." ucap Yusuf.


"ya saya sependapat" sahut pa Ahmad.


Ammar dan Bara mengagguk menyetujui ucapan Yusuf.


"tidak semudah itu" ucap Abi membuat ke lima peria dewasa diruangan itu menatapnya.


"anggap saja saat ini kita sedang bermain catur, jika seorang wasit mengatakan permainan dimulai maka langkah apa yang pertama anda ambil?" tanya Abi.


membuat semua yang ada diruangan itu terdiam dan berpikir.


"tentu saja aku akan memajukan salah satu bidak anak Catur." sahut Bara.


"kenapa bukahkan ada ratu dan mentri ?" tanya Abi


"hanya orang bodoh saja yang akan memajukan ratu di awal permainan, sama saja menagantar nyawa." jawab Bara.


"tepat sekali tuan Bara anda sepertinya sangat paham dengan permainan catur." ucap Abi seperti seorang juri dalam sebuah kompetisi