
Abi menatap Mars menantikan jawaban dari pertanyaannya.
"Secara khusus. Devan memintaku terus mengawasi dan siap sedia melindungi kamu." jawab Mars.
Abi menghela napas lega, itu artinya ia memiliki banyak waktu bersama Mars.
Gio berjalan terburu-buru. selesai mendapat panggilan dari pihak kepolisan ia di minta untuk datang secepatnya.
Gio ke dapur. mencari Ratih untuk berpamitan.
"Bu, Gio harus kekantor polisi Sekarang." ucapnya setelah menemukan Ratih yang berada di dapur.
"Kantor Polisi?." Ulang Ratih.
"Ia Bu, ini tentang Khusus Ayah." jawab Gio sambil menatap wajah wanita yang sudah melahirkannya di depannya.
"Baiklah, hati-hati nak." jawab Ratih, kemudian menghela napas.
Gio lantas mencium tangan ibunya berpamitan kemudian mengucap salam dan meninggalkan dapur.
"Abi, kak Yusuf Om Gio pamit ada yang harus om Gio urus." ucapnya sesampainya di ruang tamu.
"hmmm, perlu Abi bantu." sahut Abi menawarkan diri.
"Tidak usah Abi, terimakasih tawarannya." ujar Gio lantas mencap salam dan pamit pada semua yang berada ruang tamu.
"bagaimana Om Mars, apa yang om dapatkan?" Abi bertanya dengan wajah serius.
"Maaf aku hanya mendapatkan sedikit informasi dari biodata akte kelahirannya dia bukan orang indo melainkan transmigrasi dari negara tetangga." ujar Mars.
"Jelas semua itu palsu." bantah Yusuf.
semua yang ada diruang tamu menatap Yusuf penuh tanya.
"bagaimana kamu tau nak?" tanya Kyai Hasan.
Yusuf tersenyum kecut ia menarik nafas perlahan dan membuang kasar.
"Aku pernah memeriksa kartu keluarganya saat aku menjadi karyawan magang di sebuah puskesmas desa."
"Apa ada yang berbeda dan jelas terlihat?" tanya Mars penasaran.
"Mungkin ia bisa membohongi pihak puskesmas di desa itu. tapi tidak denganku." sahut Yusuf
"saat aku di minta mengantarkan data-data milik Willem aku tak sengaja menjatuhkannya hingga berserakan dilantai.aku memunguti satu persatu membaca kartu keluarganya. di sana tertulis ia anak dari Husain dan istrinya bernama Maryam yang berkebangsaan Arab." jelas Yusuf sambil mengingat kembali kejadian yang telah berlalu.
Yusuf menatap semua mata yang masih tertuju padanya, berharap ia melanjutkan ceritanya.
"selesai kuliah ibu memintaku untuk belajar dan memperdalam agama aku mengikuti keinginannya.saat menuntut ilmu aku memiliki seorang teman bernama Hasan bin Husin. iseng-iseng aku bertanya siapa nama ibumu?, ia menjawab Maryam. Aku lanjut bertanya apa kamu memiliki seorang Kakak?, ia menjawab tidak aku hanya memiliki Adik bernama Siti hawa." ujarnya.
"ah, mungkin nama Husin itu tak satu di Arab, begitu pikirku saat itu. namun ada hal yang membuatku tertarik saat Hasan berucap. "Aku tidak akan pernah merelakan seorang memakai nama keluargaku untuk menutupi sesuatu." ujarnya
"Apa maksudmu Hasan?" tanyaku saat itu.
"Ada orang lain yang mengaku bagian dari keluargaku." jawabannya cepat.
"Kami sudah melaporkannya, tapi sampai hari ini pihak kepolisian belum memberi kami kabar." jelas Hasan kala itu.
"jadi menurut dokter yusuf, Willem Alexander itu orang memakai keluarga Hasan?" tanya Mars.
"iya benar Mars, coba kamu periksa lagi." sahut Yusuf.
"Saat ini Willem memiliki kebiasaan baru ia akan hilang saat tepat jam 12 siang dan Jam 6 sore saat aku mencoba mengikuti kemana ia pergi mobilnya melaju perkampungan kumuh sesampainya di sebuah rumah kecil bertingkat dan cat warna hitam ia menghilang." cerita Mars.
"apa, itu tempat perkumpulan tersembunyi sakti sesat tanya Abi?"
"Aku tidak tau saat aku mencari sendiri rumah itu dilain waktu. aku tidak melihat rumah itu sama sekali berkali-kali aku berputar tetap saja aku tidak menemukannya." Tukas Mars.
"jelas ini ada yang tidak beres." monolog Abi dapat di dengar oleh semua yang berada didekatnya.
Hasan menutup mata jahirnya lalu membuka mata batinnya menjelajah mencari keberadaan Rumah yang dimaksud oleh Mars.
beberapa detik berikutnya ia membuka mata sambil menatap Kyai Hasan Kaka seperguruannya.
"Rumah itu sengaja ditutupi dengan ilmu gaib. hanya berkepentingan dan tertentu bisa melihat rumah tersebut." ujar Kyai Hasan menjelaskan.
"Itu artinya Willem memiliki tujuan tersendiri masuk kedalam rumah itu." gumam Mars.
"Benar rumah itu auratnya begitu kuat dan sangat jelas jika aura itu adalah aura hitam yang jahat." lanjut Kyai Hasan.
"Saat ini Willem menjadi pengikut perempuan iblis raganya dikuasi oleh seorang jin. mungkin ia Belem menyadari akan hal itu." ujar Kyai Ahmad ikut bicara.
"itulah yang membuatnya membenci Abi dan tak mengijinkan untuk saling bertemu." jelas Kyai Ahmad.
"semoga Devan tidak ikut terpengaruh olehnya." Doa Kyai Hasan.
"Amin." sahut Yusuf dan Abi bersamaan di ikuti oleh Mars dan juga kyai Ahmad.
Di tempat lain Gio sedang berada di kantor polisi bersama mang Antok.
Mang Antok yang menyamar menjadi satpam mengganti Hermawan di perusahan Adi Wijaya mampu mengorek sedikit keterangan dari karyawan di perusahaan tersebut.
"jadi kesimpulannya adalah, kamu mencurigai Tono dan istri sengaja mengundang Hernawan makan dirumahnya, dengan alasan merayakan ulang tahun pernikahan. kemudian menceritakan berbagai hal hingga membuat korban terkena serangan jantung." tanya petugas.
"iya pak untuk lebih jelasnya bapak bisa melakukan penyelidikan terhadap dua orang tersebut." kata Mang Antok.
"Antok dua orang itu mempelajari ilmu hitam pada seorang dukun yang dikenal dengan nama Ki Wongso jauh harus berhati-hati jangan gegabah takutnya petugas polisi menjadi korban selanjutnya." telepati Ki Maung
Antok mengangguk mengerti.ia kemudian berucap.
"pak polisi, biar saya, dan Nak Abi yang turun tangan untuk mencari bukti. Dua orang ini tidak bisa diremehkan mereka memiliki ilmu bela diri yang cukup tinggi maka dari itu ia berhasil melarikan diri saat di rumah sakit tanpa jejek." Ungkap Mang Antok.
"jangan mang Antok itu terlalu berbahaya setidaknya bawa beberapa petugas polisi." ujar Gio ikut menyela.
"pak Gio mohon bapak tunggu sebentar saya akan berbicara pada pak Antok terlebih dahulu." usir Komandan polisi halus.
Gio melangkah meninggalkan mang Antok berdua dengan komandan polisi.
komandan polisi kembali bertanya "bagaimana anda tau dua orang yang anda curigai itu memiliki ilmu beladiri tinggi?".
"menurut logika saja pak. coba anda banyangkan bagaimana mungkin ia cepat sekali menghilang dan mampu melewati pagar rumah sakit dan melompat melalui jendela tanpa terluka jika dia bukan seorang ahli beladiri." tutur mang Antok.
logika Anda masuk akal. baiklah saya setuju kamu dan Abimanyu mencari bukti tapi di dampingi oleh dua orang anggota polisi yang akan menyamar menjadi rakyat Baisa tukas Komandan Polisi.
"Terimakasih pak, saya akan berusaha semampu saya mencari bukti" sahut Mang Antok.
"baiklah kamu bisa tunggu diluar nanti saya yang akan menjelaskan pada Gio serta keluarga Abi." usir komandan.
"Baik pak." sahut mang Antok ia segera berlari menjabat tangan petugas kemudian berlalu meninggalkan ruang intogasi.
Gio menerima setelah mendengar penjelasan Polisi bagaimanapun juga ia berharap kasus menggalnya sang Ayah cepat selesai. tak dipungkiri ia khawatir pada Abi dan Mang Antok.