Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
perjanjian iblis.


satu jam di kantor polisi Abi, serta Gio Risa selesai diintrogasi. ketiganya pulang bersama sedang Yusuf dan Arya sudah pulang lebih dulu karena harus bekerja di rumah sakit.


Sesampainya di rumah ketiganya sambut oleh umi dan juga Ratih.


"Assalamualaikum." ucap Risa dan Abi.


"Walaikum salam." Sahut Umi dan Ratih bersamaan.


"Risa bagaimana apa kata polisi?" tanya Ratih begitu melihat Risa duduk di ruang keluarga.


"sabar Bu, beri kami minum dan makan dulu untuk bercerita kami perlu tenaga." ucap Risa.


*baiklah maafkan ibu nak ibu terlalu penasaran." sahut Ratih sambil beranjak pergi ke dapur.


Di dapur Gio membuat air minum sendiri.


"Gio buatkan untuk Kakak dan Ponakanmu ibu akan memanaskan makanan."perintah Ratih pada sang putra.


"tidak perlu dipanaskan Gio sudah menghubungi seorang karyawan Gio untuk mengatakan makanan dari restoran kemari tunggu saja sebentar lagi." ujar Gio.


"Terimakasih nak." ucap Ratih.


"Sama-sama Bu, kemaren Abi bilang sama Gio katanya bundanya pengen makan Nasi kuning khas Kalimantan jadi kami berdua membuat bumbu sore kemaren dan dimasak hari ini karena ikannya gabus tidak ada kemaren." jelas Gio.


"Pantas saja kemaren sore tidak mau ibu ajak main ke Toko kue ternyata ada janji sama kamu." tukas Ratih sembari mengambil air es di dalam kulkas.


"lho kenapa air es saja Bu tidak esnya sekalian?" Gio bertanya karena heran.


Tidak baik bagi ibu hamil terlalu banyak mengonsumsi es batu."


"hah! massa Gio baru tau emang kenapa?"


"Katakan bayi cepat besar." sahut Ratih.


"Kata siapa Bu?"


"kata orang tua jaman dulu."


"hahahaha, itu cuma mitos Bu jawab Gio sambil tertawa mengejek.


"kamu ini dikasih tau orang tua malah ditertawakan." omel Ratih.


"maaf Bu. minumnya buat Kaka dan Abi biar Gio yang bawa ke depan." sahut Gio sambil berjalan meninggalkan Ratih.


Ratih geleng kepala melihat sang putra yang menganggap remeh petuah orang tua jaman dulu.


Risa bersandar di kursi disampingnya Abi sedang memainkan ponsel pintarnya.


"Bunda selesai tiga hari Kakek Abi bolehkah tinggal di pesantren ya." rengek Abi.


"Nanti Bunda tanya Ayah dulu nak, semoga saja pelaku yang sengaja meracuni Kakek tertangkap, Bunda bisa tenang melepaskan tinggal di pesantren." ujar Risa sambil memindah cenel di televisi.


"Hhmmmm, tenanglah Bunda Abi akan baik-baik saja di sana ada Kyai yang menjaga Abi lagi pula di sana tak sembarang orang bisa masuk." tukas Abi.


"Ibumu benar Abi lebih baik selesaikan dulu urusan kakek Nanti Om sendiri di yang akan mengantar ke sana." Ucap Gio menimpali.


"terserah saja, Abi mau istirahat dulu capek." kata Abi sambil berdiri dan melangkah pergi menuju kamarnya


Abi jangan merajuk nanti kita bicara sama Ayah seru Risa sambil melihat punggung sang putra semakin menjauh.


"tidak usah dipikirkan Bun." sahut Abi berteriak.


"Ka mungkin Abi memang capek dan butuh istirahatlah." ujar Gio menenangkan Risa yang jelas terlihat raut wajah sedih.


"Gio kamu bantu ibu masak Ya, Kakak mual mencium bau bawang. semoga setelah makan mood Abi kembali membaik" ujar Risa.


"Tidak perlu ka sebentar lagi makanan dari restoran datang kemari."


"kau meminta karyawanmu membawa makanan kemari merepotkan sekali. kamu harus memberinya uang tambahan gajih padanya kasihan panas begini diluar." omel Risa.


"kakak tenang saja aku akan membayar jasanya." sahut Gio.


setelah berbasa basi dan mengucap salam Abi bertanya tentang keadaan Devan.


"Om bagaimana Ayah?" tanya Abi melalui telpon yang tersambung dangan Mars.


"Devan keadaan semakin membaik. kemungkinan besok sudah boleh pulang." sahut Mars.


"Alhamdulillah Abi senang dengarnya om." jawab Abi.


"Ayah mu membaik tapi tidak dengan Kakekmu sikapnya terlihat aneh ia bahkan terkadang berbicara sendiri." ujar Mars.


"Om sebaiknya om datang malam ini ke rumah Abi tahlilan kakek nanti kita bisa saling bertukar cerita." tukas Abi.


"baiklah insyaallah nanti malam Om akan datang." sahut Mars.


"Terimakasih om Abi tutup dulu Assalamualaikum." ucap Abi.


"Waalaikum salam." Sahut Mars sambil menekan tombol merah mengakhiri panggilan.


Di Pesantren Kyai Hasan dan Kyai Ahmad meminta ustadz Akbar untuk mengawasi santri dan santriwati semantara mereka akan pergi ke rumah Yusuf mengikuti acara tahlilan.


Zahra terkejut mendengar berita duka dari keluarga Abi pasalnya dalam penglihatan saat Abi berada dirumahnya ia melihat raut kesedihan menghiasi wajah Abi tapi tidak jelas apa masalah yang ia hadapi. kini terjawab sudah pertanyaan itu.


Abunya bisakah Zahra ikut kyai. rengek Zahra.


Kyai Ahmad tersenyum menatap mata putri Sahabatnya.


"Tidak papa Akbar zahra pasti bisa membawa diri jagan takut kami akan mengawasinya." ucap Kyai Ahmad.


"baiklah Zahra tapi ingat jangan merepotkan nak." Pesan Ustadz Akbar.


"siap Abuya tenang saja." sahut Zahra penuh semangat dibalik cadarnya ia tersenyum manis.


Ketiganya berpamitan dengan ustadz Akbar mengucap salam dan berlalu meninggalkan pesantren.


Di tempat lain Putri Arum dan Willem sedang membaca mantra untuk memangil raja Iblis.


lima belas menit berlalu sebuah suara gaib menyapa kedua.


"untuk apa kalian menganggu istirahatku." sang raja Iblis.


Willem dan putri Arum membuka matanya perlahan keduanya tertekan oleh aura di keluarkan oleh Raja Iblis.


"rajaku Aku membutuhkan bantuan darimu untuk mematahkan kutukan yang menahanku." minta Putri Arum.


"Apa yang akan aku dapatkan jika membantumu." sahut Raja Jin diiringi dengan munculnya gumpalan Asap hitam meski tak terlihat wajahnya aura cukup kuat.


"Aku bersedia menjadi istrimu." ucap putri Arum dan abdimu asal raja membantuku." sahut putri Arum.


"Hahahhahaha Memang kamu pandai merayuku putri Arum kecantikanmu sungguh membuat siapa saja terpana tapi ingat sahu hal jika kau berhianat padaku aku sendiri yang mengurungmu kembali kedalam batu." sahut Raja Iblis.


"Aku tidak akan berani melakukan itu paduka bisa pegang." ucapanku Sahut Putri Arum penuh keyakinan.


"katakan kapan aku harus membantumu?"


"saat malam purnama besok paduka raja harus membuat ragaku terlapas dari kutukan walau tidak bisa lama aku akan memanfaatkannya dengan baik." jawab putri Arum.


"Kau hanya punya waktu bulan purnama penuh jika bulan itu tertutup oleh awan walau sedikit kau akan ditarik paksa kembali menjadi batu." ujar Raja Iblis.


"Maka dari itu aku akan mengunakan dengan baik yang kau berikan padaku."


"ingat janjimu aku menunggumu hahahhahaha." kata raja Iblis kemudian suaranya tak lagi terdengar.


Willem bisa bernapas dengan lega setelah asap hitam dan suara Raja Iblis menghilang. dadanya tak lagi terasa sesak seperti di tindih oleh beban berat.


"Tuan putri kau benar-benar menyerahkan tubuhmu untuk Raja Iblis?" tanya Willem.


"haiiii jin kecil sepertimu tidak perlu banyak tanya kau siapkan saja apa yang sudah kita sepakati sebelumnya." ketus putri Arum.