Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Sedia payung


Sinta melayani pelangan toko dengan ramah sekali ia terseyum.


Abi memperhatikan dari kasir wanita yang menjadi pelanggan toko roti milik bundanya ini terlihat aneh menurut pandangan Abi wanita itu tak hanya sekedar membeli roti tapi juga memperhatikan semua benda yang ada di toko milik Bundanya entah untuk tujuan apa.


"Aku ambil semua jenis roti disini satu-satu." ucapnya datar.


"baik bu akan saya bungkus semua yang ibu mau." sahut Sinta sambil mengembil semua jenis kue dan memasukannya kedalam keranjang lantas membawanya kekasir.


"Apa masih ada yang ibu mau tambahkan?" tanya Sinta ramah dari balik meja kasir.


"tidak itu saja, jika nanti ponakan saya menyukainya setiap hari saya akan detang membeli kue dksini." tukasnya dengan wajah datar.


Sinta segera mengitung semua kue dan memberitaukan nominal angka yang harus dibayar oleh pelanggannya.


"Bisa pakai kartu saya tidak membawa uang ces?" ujar pelanggan


"Bisa bu." sahut Sinta sopan.


"Heiiii nak kenapa kau memperhatikanku seperti itu ?"tanyanya pada Abi.


"Apa dia Anakmu nona?" tanya pelanggan itu sambil melirik Sinta.


"Bukan, dia ponaksn saya." sahut Sinta mulai janggah dengan obrolan pelanggan kali ini.


"kau terlihat tampan nak?" ucapnya sambil menyerigai ke arah Abi.


Sinta menyerahkan kurtu Dabbet yag sudah selesai ia gunakan pada lelanggannya.


"ini kuenya bu." ucap Sinta sambil menyerahkan satu kantung penuh kue.


setelah mengambil kue yang ia beli palanggan itu segera pergi.


"Aneh." gumam Sinta.


"Tante Sinta harus waspada." celetok Abi.


"Apa orang itu punya niat jahat?" tanya Sinta.


Entahlah, alangkah lebih baiknya kita waspada.


"Abi periksa di depan meja kasir bagian bawah." Kata Rubah putih melalui telepati dan itu terdenger jelas di teliga Abi.


Abi segera memeriksa dan benar saja ia menemukan alat perekam suara dibawah meja kasir.


Abi segera melepas dan menginjak benda itu hingga hancur.


"Abi apa orang tadi yang meletakan alat penyadap itu?" tanya Sinta dengan nada ketus.


Abi tersenyum miring sambil mengangguk.


"Jika besok dia kembali lagi maka ikuti saja permainannya." tegas Abi.


baiklah kau akan tau akibatnya berani mengusik ketengan kami batin Sinta marah.


"tutup saja tokonya Tente. kuenya hanya sisa sedikit nanti biar Abi berikan pada anak-anak panti." perintah Abi.


"sesuai perintahmu tuan muda." sahut Sinta sambil tersenyum kemudian berjalan ke arah pintu lalu membalik tulisan buka menjadi tutup.


"Sinta kenapa cepat sekali tutup bukankah belum jam tutup?" tanya Laura menatap Sinta.


"perintah dari Tuan muda." Sahut sinta datar.


"Tente Laura Tente sinta kemarilah." ucap Abi.


Sinta dan Laura saling lirik detik berikutnya mereka berjalan menghampiri Abi.


"Apa tujuan mereka sebenarnya?" tanya Laura sambil berpikir.


"jika hanya menargetkan keluarmu atau salah satu dari keluargamu kenapa penduduk yang tak tau manahu masalahnya juga harus terkena dempaknya. ucap Sinta binggung.


"Abi rasa orang itu ingin menunjukan kekuasaannya pada dunia. membuat kekacauan. Orang itu perlahan menyelasaikan wabah bersikap dermawan serta rendah hati tentu akan mencuri hati masyarat." terang Abi.


" tidak bisa dibiarkan jika dia menjadi pemimpin maka dunia akan hancur." tukas Laura.


"bisakah kamu tidak memanggil kita tente, kami masih 20 tahun lebih kamu bisa memanggil kami kaka!" pinta Laura sambil tersenyum.


"baiklah tidak masalah." sahut Abi mengangguk setuju.


"kak Laura dan Kak Sinta perlu tau orang yang kita hadapi bukan orang sembarangan mereka bisa mengunakan kekuatan supranatural untuk menghabisi musuh agar tak di temukan jejaknya." pangkas Abi.


"jika begitu akan sulit bagi kita mencari tempat untuk bersembunyi." ujar Laura.


"tenang saja ka carilah tempat yang mongkin tidak terjamah tangan-tangan manusia seperti di hutan yang terlaharang mongkin." saran Abi.


Laura dan Sinta berbikir apa ada di kota ini hutan yang tak terjamah tangan manusia.


"Bagaimana dengan jurang." ucap Abi memberi ide.


"maksudmu kita akan membuat markas di dasar jurang." tanya Sinta


"Aku setuju." ucap Laura.


"Apa maksudmu Laura bagaimana bisa hidup didalam jurang?" tanya Sinta.


"gunakan otakmu Laura kita bisa mebuat jalan untuk turun naik kedasar jurang." tukas Laura.


"kenapa tidak mencari bagunan yang sudah jadi saja mongkin area persawahan petani pasti mau menjual tanah serta pondoknya jika kita menawarkan harga yang tinggi." ucap Sinta.


"tidak ka Sinta tempat itu akan mudah ditemukan." tolak Abi.


"Abi benar kita hurus mencari tampat yang tak terpikirkan oleh mereka." kata Laura.


"siapa yang mau membagunkan rumah disana, sudah pasti para pekerja bagunan merasa takut dan ngeri jika berada dalam jurang yang gelap." ujar Sinta.


"masalah itu kita pikirkan nanti yang terpenting kaka cari dulu tempatnya, nanti jika sudah dapat kabari Abi." ucap Abi sambil memerikan kartu namanya.


sinta menerima kartu nama pemberian dari Abi sembil tersenyum.


"anak sultan mah enak masih sekolah sudah punya kartu nama." gumam Laura.


"hehehehee, semua orang bisa bikin kartu nama ka, tidak perduli kaya atau miskin cuman kertas bertuliskan nama dan henpon juga bisa jadi kartu nama tanpa perlu nama perusahan." ucap Abi santai.


Di Rumah mewah Defvan.


Defvan sedang duduk di sofa kamarnya sambil memainkan ponsel miliknya.


"Mars aku tak mengerti kenapa kamu mau menghabiskan cuti ditempat seperti itu, tak ada yang menarik sama sekali." gumam Defvan.


aku harus bisa mengalanggi niat Yusuf dan Clarissa memasukan Abi pesantren, bagamanapun juga Aku ini Ayahnya aku lebih berhak atas Abi dibandingkan Yusuf. Ungkap Defvan bermonalog.


Abi harus masuk kesekolah bertarap internasional ia adalah calon pewarisku meneruskan perusahan milikku dan milik Ayah untuk itu ia perlu pendidikan yang berkualitas. Batin Defvan.


belajar Agama disekolah juga diajarkan jadi aku rasa tak perlu sampai masuk pesantren hanya membuang waktu saja. fikir Defvan.


contohnya Aku ini dari kecil aku hanya belajar disekolah terbaik begitu pula kuliyahku di Universitas ternama dan terbukti Aku mempu meneruskan serta meng-oprasikan perusahan Ayah dengan baik. gumam Defvan sambil memandanggi fotonya bersama Abi di layar ponsel.


Mars kenapa kau bilang ada kekuatan jahat mengincar Anakku, kau pasti bercanda padaku Mars, jika memang adapun aku tak akan membirkan orang itu menyentuh Abi meski hanya sehelai rambut. ungkap Defvan sambil bersandar di sofa.


Aku harus mempekerjakan seseorang untuk terus mengawasi Abi dimanapun ia berada. ucap Defvan bangkit dari tempatnya duduk