Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
petunjuk


willem memerintahkan orang kepeercayaannya untuk mempengaruhi investor diperusahan milik orang tua Yana.


kau berani bermain api denganku rupanya Rajenra Arkam ( ayah Yana) sekarang kau rasakan api itu membakarmu secara perlahan. gumam Willem


siapa yang tak marah jika melihat putranya dijadikan sebagai ladang untuk menumpuk uang walaupun itu menantunya semdiri.


ingatlah hidup terus berjalan maju. sedalam-dalamnya kau mengubur bangaki adakalanya bangkai yang kau kubur menguluarkan bau bosok, yang dapat dicium oleh indra penciuman seseorang.


"kau yang menaman kau pula yang memetik hasilnya Rajenra." gumam Willem Alexsander.


dibawah lagit yang sama keluarga besar Yusuf sudah berada didalam sebuah pesawat.


Abi berada dipangkuan Ratih ia tak henti-henti takjub dengan pemandangan luar yang ia lihat dari kaca jendela pesawat.


"Abi oma bawa buah apa kau mau?" tanya Umi yang duduk bersebelahan dengan Ratih. 


Abi melirik sebentar lalu menganggukan kepalanya.


Umi memberikan buah Apel untuk Abi makan.


"terima kasih Oma." ucap Abi ramah.


Abi menggigit buah apelnya sambil menikmati pemandangan alam yang ia lihat dari dalam pesawat rumah-rumah penduduk tampak sangat kecil sungai dan ladang pun terlihat kecil.


semantara dikursi lain Yusuf dan Risa saling mengobrol.


"menurutku masakan yang dibuat Gio sangat lezat." ucap Yusuf disela obrolan mereka.


"Ya aku rasa juga begitu." sahut Risa.


"Bagaimana jika aku memperkenalkannya dengan sahabatku ia seorang chef internasional yang sekang memiliki lestoran diberbagai negara termasuk dijerman."


"aku yakin jika aku memintanya dia mau menjadikan Gio sebagai asestennya dan mengajari berbagai resep" ucap Yusuf sambil menatap Risa.


"aku baru saja menikah denganmu mas kau sudah banyak membantuku aku tak ingin orang lain berpikaran buruk tetangku nanti." tolak Risa.


"Risa mas sudah menjadi suamimu, itu artinya Gio adek mas juga, jika Gio bisa menjadi seorang chef dan membuka usaha dibidang kuliner mas juga akan ikut senang melihatnya." Yusuf memberi penjelasan agar Risa mengerti maksudnya.


Risa berpikir apa yang dikatakan Yusuf ada benarnya juga, tapi disisi lain ia tak ingin orang lain berpikir ia memanfaatkan suaminya.


"Mas tanyakan pada Gio saja nanti" ucap Risa. ia berharap Gio bisa kenolak dengan halus agar Yusuf tidak tersinggung.


"baiklah nanti akan kutanyakan pada Gio." sahut Yusuf.


waktu terus berjalan maju tak terasa mereka sudah sampai dibandara internasional paris.


Yusuf segera memesan taxi onlane yang bisa mengantarkan mereka kesebuah hotel yang berada di ile de la cite paris.


didalam sebuah taxi, Abi memandang gedung-gedung yang menjulang tinggi ia tak henti-hentinya tersenyum karna maresa senang dan baru pertama kali baginya berlibur ke kota Paris.


Risa melirik Abi yang tersenyum sambil melihat pemandangan diluar melalui kaca mobil.


maafkan ibu nak, baru kali ini bisa mengajakmu berlibur keluar kota, batin Risa.


"Om Gio apa dikota jerman juga seperti ini?" tanya Abi penasaran.


"dikota jerman juga banyak gedung-gedung tinggi bertingkat seperti disini." sahut Gio.


Abi mengganggukan kepalanya mengerti.


Didalam sebuah apertemen mewah dikota jogyakarta.


drett....drettt....drettt


ponsel melik Vania sedang bergetar menandakan sebuah panggilan masuk


Vania yang baru saja selesai mandi melihat ponselnya bergetar segera menghampiri dan mengangkatanya.


"hallo jeck!" sapa Vania melalui sambungan ponselnya.


"Vania aku harus membicarakan sesuatu denganmu bisakah kita bertemu?" tanya Jeck.


"baiklah satu jam lagi, kau kirim saja alamatnya aku akan detang." sahut Vania.


"baikalah kau tunggu saja." ucap Vania lalu mematikan sambungan ponselnya.


jeck sudah berada dibuah restoran berbintang ia sedang menemui Dimas Anggara.


"Adnan, aku dengar istri dari Hermawan sudah meninggalkan rumah apa itu benar?" tanya Dimas.


"ya begitu yang dikatakan oleh Vania padaku." sahut Adnan


"itu artinya kesempatan bagus untuk Vinia mengambil sertipikat rumah orang tuaku, dan membaliknamakannya atas namaku" ucap Dimas dengan tersenyum.


"ya anda benar bos ,tapi pembantu dirumah itu bukan lagi pembatu yang dulu, kurasa Vania harus benar-benar waspada terhadap mereka." sahut jeck


"hmmmm, untuk itu kita harus menyusun renacana bersama Vania." ujar Dimas dengan menatap seorang wanita berjalan kearah mereka sambil tersenyum.


"Hallo tuan Dimas, jeck apa kabar sapa?" Vania ramah.


"seperti yang kau lihat nona Vania kami berdua delam keadaan baik." sahut Jeck.


"tidak biasanya kalian menemuiku bersamaan, apa terjadi sesuatu?" tanya Vania.


"Kita harus menyusun rencana untuk peria tua itu." ujar Jack mewakili Dimas


Vania menatap Dimas dan jack bergantian.


"kita tak boleh gegabah dalam bertindak cukup sekali aku gagal menghancurkannya." ungkap Dimas menerawang massa lalu.


"kau, pernah bertidak sendiri untuk menghancurkan Hermawan?" tanya Vania


"Ya aku menjadikan anak perempuannya sebagai sasaranku." ucap Dimas.


"kenapa harus mengunakan anaknya, tingkat keberhasilan terlalu tipis." sahut Vania.


"aku pikir, Hermawan itu sangat menyayangi keluarganya, jadi aku menjebak anaknya tidur bersama seorang pengusaha muda yang telah menghianati anakku." curhat Dimas.


"jadi kau yang membuat anak dari Hermawan itu hamil tanpa suami?" tanya Vania dengan ekspresi terkejut.


"Ya aku hanya memerintah seseorang untuk melakukan itu." sahut Dimas dengan suara pelan.


"sudahlah itu bukan urusanku, aku hanya penasan saja bertanya, apa yang ingin kalian rencanakan?" tanya Vania.


"jika istrinya sudah tak ada lagi dirumah, kau bisa tinggal disana Vania, untuk menggantikan posisi istrinya." ucap Dimas.


"ya kau benar Dimas, tapi aku tak yakin Hermawan menyimpan semua surat-surat penting itu dirumah." sahut Vania.


jeck mengerutkan keningnya tak mengerti.


Vania yang melihat kening Jeck mengerut segera berucap. "aku pernah bertanya kenapa dia sering sekali tak tidur diruamahnya, apa tidak takut harta seperti surat penting bisa hilang."


Hermawan mengatakan padaku, jika seseorang mencari surat penting dirumahku, itu tidak akan pernah ketemu.


"bagaimana dengan kantornya apa dia menyimpan disana" tanya Jack


"entahlah aku sendiri masih berusaha mengurek sedikit demi sedikit dari mulut peria tua itu." sahut Vania datar.


"baiklah kuberi waktu kau satu minggu mencari informasi diamana ia menyimpan surat berharga itu." ucap Dimas


"hemmm ucap Vania jika begitu aku harus pergi Hermawan sejak tadi menelponku." sahut Vania.


"Adnan, bayarlah semuanya pakai kartu ini, aku harus menemui rekan bisnisku terlebih dahulu." ucap Dimas beranjak pergi.


Dimas dan Jeck tak tau jika sejak tadi Mars mendengar apa yang mereka bicarakan melalui penyadap suara yang dipasang Mars, meja yang diduduki Dimas itu seharusnya diduduki oleh Maya teman kuliah Risa yang diajak oleh Mars bertemu untuk mencari tau informasi mengenai Risa.


saat Mars pergi kekasir untuk memberitaukan jika ada wanita atas nama Maya mencarinya, maka katakanlah ia sudah menunggu di meja no 24.


setelah kembali dari kasir Mars mendapati meja yang ia duduki sebelumnya sudah diduduki oleh Dimas.


karana tak enak Hati mengusirnya, dari meja itu, Mars memilih duduk di tempat lain sambil menunggu Maya.


Tanpa didunga Mars mendapatkan sebuah petunjuk baru.