Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
mimpi Abi


seorang anak laki-laki tersenyum sangat manis ia berjalan mendekati seorang pemuda yang ia panggil Om Gio lalu berucap.


"kita semua akan pergi bosokkan Om?" tanya Abi.


"ya, kenapa Abi? apa kamu mau Om membantumu mempersiapkan pakaian yang kau bawa?" tanya Gio.


"tau aja om Gio sahut Abi." sambil nyengir.


Risa tersenyum melihat Abi yang mudah sekali Akrab dengan Gio padahal mereka baru sekali bertemu.


"Abi, ayah harus memeriksa bahumu terlebih dahulu, apa masih terasa myeri?" tanya Yusuf.


"tidak, Ayah semua aman terkendali." sahut Abi dengan bibir tersenyum.


"Ayah tetep harus memastikannya sayang." sahut Yusuf sambil mengendong tubuh kecil Abi membawanya keruang Rahasia milik Ayahnya.


"Bu Ratih jika leleh istirahatlah, ayo kekamar saya tidurlah bersama saya, kita bisa mengobrol dan bercerita." Ajak Umi.


Ratih tersenyum beberapa saat kemuadian ia menganggukan kepalanya.


Ratih berdiri dari duduknya ikuti oleh Umi yang berada didekatnya mereka berjalan bersama menuju kamar Umi.


Risa dan Gio masih duduk diruang tamu.


"Gio, kamu berhutang cerita pada kakak." ucap Risa sambil melirik Gio yang duduk disofa sambil memindah cenel telivisi.


"hmmmm, Gio pergi dari rumah karna kecewa dengan tidakan ibu dan Ayah yang tak bisa berfikir dewasa dalam menyelesaikan masalah keluarga." sahut Gio singkat dan jelas.


"semua manusia tidak luput dari salah, anggap saja mereka saat itu melakukan sebuah kesalahan." Risa berbicara sambil melihat tanyangan ditelevisi.


Gio hendak menjawab ucapan kakak tapi Risa terlebih dahulu menjutkan ucapannya.


"untukmu dan untuk kakak sendiri kesalahan yang dibuat Ayah dan Ibu bisa kita jadikan pembelajaran." nasehat Risa.


"Ya sudah kakak mau melihat Abi terlebih dahulu, kau istirahatlah." ucap Risa sembari beranjak pergi.


"oya Gio, masakanmu enak" ucap Risa sedikit berteriak karna ia sudah jauh dari tempat Gio duduk.


sementara Abi dan Yusuf kini sedang berbicara.


Setelah selesai memeriksa Abi Yusuf meminta Abi untuk berecerita sesuatu yang ia sembunyikan.


sebulum grandma kemari, Abi bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki setegah tua diruangan ini, orang itu mempraktikan cara mengunakan jarum emas dan memberitaukan titik-titik yang berhubungan dengam urat saraf serta organ-oragan tubuh yang lain, ia juga memberitaukan dimana ia menyimpan jarum itu.


"satu lagi Ayah coba ayah angakat lukisan bunga lili itu !!" seru Abi meminta.


Yusuf berdiri lalu memindahkan lukisan bunga lili itu keatas meja.


"tak ada apapun disini." ucap Yusuf.


"gendong Abi." minta Abi.


Yusuf segera menuruti permintaan Abi.


Abi menarik dua paku yang menjadi penyangga lukisan bunga Lili yang dipindahkan Yusuf, setelah ditarik oleh Abi terbukalah sebuah pintu kecil yang didalamnya terlihat ada alat kecil berbentuk kalkulatur, Abi menekan beberapa angka disana.


dinding yang berada disamping Yusuf dan Abi berdiri tampak bergeser kesamping terliahatlah sebuah pintu menuju kesuatu tempat.


ruang apa ini kenapa ayah tidak pernah memberi tauku. ucap Yusuf dalam hati.


"Ayo kita masuk Ayah." ajak Abi


Yusuf melangakahkan kakinya masuk kedalam dengan membawa Abi dalam gendongannya.


mata Yusuf membulat sempurna melihat apa yang ada didepanya.


semua tanaman obat ada disana, bahkan tanaman yang sekarang sangat langka ada disana, hamparan tanaman obat yang tumbuh subur membuat mata Yusuf tak dapat berkedep.


"tentu saja bisa Ayah seorang Ahli kimia dan Fisika akan membuat sebuah alat yang bisa membuat tanaman ini mampu menyerap energi matahari dan air walau dia didalam sebuah ruangan." ucap Abi sambil melihat sekeliling


"Abi lihat didepan ada beberapa pipa air berukuran besar mengarah ke kaca yang Ada dibelang kita, pipa itu memantulkan cahaya matahari. dan pipa yang ada di sudut-sudut dinding itu mengarah kedalam tanah itu artinya pipa itu mengirimkan air kedalam tanah." Abi berbicara sambil meliahat sebuah keran air yang berada dibelang meraka.


"untuk memastikan ada tidaknya air coba Ayah putar keran yang ada disana ucap abi menujuk kesalah satu pipa kecil yang berada belakang meraka."


Yusuf menurunkan Abi, lalu berjalan kearah keran air lalu membuka kerannya, benar saja air bersih keluar dari dengan sangat deras.


"sebaiknya kita keluar dari sini Ayah sebulum yang lain mencari kita." ucap Abi mengajak pergi.


"baiklah dilain waktu kita akan kemari lagi." sahut Yusuf tersenyum.


Abi dan Yusuf beranjak pergi menuju pintu mereka masuk.


seokor rubah bermata merah tampak memperhatian Abi dari hamparan tanaman obat sejak ia masuk, setelah Abi dan Yusuf pergi rubah itu masuk kembali ketempat persembunyiannya.


keluarnga besar Umi salamah sudah siap dengan koper masing-masing.


Abi dan Gio dan yusuf memakai baju warna yang sama mereka terlihat tampan dan gagah.


Risa juga telihat sangat berbeda ia memekai pakaian berwarna putih tulang dengan kepala tertutup hijab membuatnya terlihat sangat cantik.setelah menikah dengan ustazd Yusuf Risa memutuskan menutup auratnya.


tentu saja perubahan positif yang ditunjukan Risa didukung oleh sang suami, Umi dan Ratih mereka terlihat sangat senang.


mang dadang dan Bara sudah siap mengantar keluarga Yusuf kebandara.


Bara berbisik diteliga Yusuf


"Buatlah yang banyak Yusuf gas full aku tunggu kabar bahagianya." ucapnya.


Yusuf hanya melirik sebentar dengan eksprsi datar.


Bara mencibirkan mulutnya melihat Yusuf tak menanggapinya.


Abi menjulurkan lidahnya mengejek Bara.


"Ayo om Bara nanti Abi ketinggalan pesawat." ucap mulut kecil Abi.


"Yayaya." sahut Bara kemudian masuk kedalam mobil.


dam 25 menit mereka sudah sampai dibandara.


Yusuf membeli air meneral sambil menunggu pesawat lepas landas.


sementara dikediaman Willem sedang duduk dengan santai dibelakang rumah ditemani oleh Defvan.


"jadi wanita itu bersama keluarga menjadiakanmu sebagai ladang uang?" tanya Willem.


"iya ded, menurut laporan dari Mars Yana juga sering berkencan dan mengahbiskan malam dengan Gigolo." ucap Defvan.


"kau tak marah?" tanya Willem yang melihat Defvan tanpa emosi.


hahhahahahaha, Defvan justru tertawa menaggapi ucapan Ayahnya.


"ada yang lucu?" tanya Willem sambil menatap Defvan.


Defvan menarik napasnya dan menghembuskan secara perlahan.


"deddy sedang tidak bercanda Defvan." ucap Willem dengan nada naik satu oktap.


"sorry ded, sejak dulu aku tak pernah menyukai Yana, aku hanya menuruti keinginan kalian menikahinya, aku tidak perduli dia berkencan dengan siapa, sejak Amira lahir aku tak pernah menyentuhnya." jelas Defvan sambil menyandarkan puggungnya dikursi tempatnya duduk.


"tarik semua sahammu yang kau tanam diperusahan Ayahnya, dan pengaruhi semua imvestor yang bekerja sama dengannya untuk tidak lagi bekerja sama dengan peria tua bajinggan itu." ucap Willem dengan marah.


"aku akan menarik sahamku dirisana, tapi urusan imvestor kuserahkan padamu ded terserah kau mau apakan, aku akan mengurus surat gugatan cerai untuk Yana" ucap Defvan dengan wajah serius.