Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Mendukung dari belakang


Lasmi berjalan menuju kamarnya sambil bernyanyi riang ia terlihat senang sekali tanpa peduli pelayanan yang ketakutan saat dilewati olehnya.


Berbagai pertanyaan tidak tejawab dari para pelayan termasuk Devan. Dengan perlahan ia mencoba bengun dan menghubungi Putri Arum sayangnya nomornya tidak aktif membuat Devan semakin marah.


"Aku harus menemui Daddy dan mencaritan apa yang di lakukan Lasmi. Aku berharap Daddy bisa membatuku." batin Devan.


"Kunci Lasmi dikamarnya jangan biarkan keluar." perintah Devan pada pelayanan dirumahnya ia pergi menuju ruang kerjanya dengan suasana hati yang buruk.


Di waktu yang sama Yusuf sedang mengobrol dengan putri bungsunya.


"Ayah tenanglah tidak akan terjadi apapun denganku." ujar Dewi menenagkan.


Bukan ayah tidak percaya padamu nak tapi resekonya begitu besar Ayah baru saja kehilangan seorang pehlawan yang menjaga Ayah tanpa mengeluh dari kecil. Dan Ayah tidak bisa membayangkan bila kamu juga meninggalkan Ayah, jujur saja akulah salah satu orang membuat Ayah kuat dan mampu melewati semuanya ungkap Yusuf.


Sebelumnya Dewi sudah memberi tau Ayahnya tentang Rencananya, yang ingin menggantikan tugas Kaka nya untuk melenyapkan dua orang pemilik Ajian Rawarontek, Dewi sengaja datang ke raboratorium tempat Yusuf membuat bermacam-macam pemula obat untuk mengutarakan keinginannya, besar harapannya sang Ayah menyetujui keinginannya, ternyata Yusuf justru menolaknya membuatnya bersedih hati.


"Maafkan Ayah nak untuk peinginanmu ini ayah tetap tidak setuju." tegas Yusuf.


"Aku ingin berguna untuk kalian Ayah bilapun Aku tidak bisa bertahan setidaknya aku sudah berusaha dan tidak akan menyesal karena diberi kesempatan." Ucap Dewi penuh harap.


Yusuf menghentikan aktivitasnya ia mendekati sang putri yang sejak tadi memperhatikannya.


" Kamu adalah putri Ayah, Ayah begitu menyanggimu nak bila ada yang harus menggantikan tugas Kakamu karena ia tidak mampu maka Ayahlah orangnya. Tidak peduli siapa yang harus ayah Hadapi nanti Ayah akan berdiri dan maju tanpa rasa takut, ketakutan Ayah yang paling besar adalah kehilangan kalian semua nak. Seorang Ayah akan sangat merasa tidak berguna bila mana tidak mampu melindungi keluarganya." ungkap Yusuf panjang lebar.


Dewi berkaca-kaca mendengar ucapan Yusuf ia tanpa ragu segera memeluk sang Ayah.


" Terimakasih Ayah karena menyayangi Dewi dengan tulus Dewi janji tidak akan membuat Ayah kecewa telah memberikan cinta dan kasih sayang untuk Dewi." cicit Dewi teratai dalam pelukan Yusuf.


DI kehidupanku sebelumnya aku tidak merasaka kasih sayang seorang Ayah dan Ibu, aku anak yang kehadiran tidak pernah inginkan oleh mereka hingga setiap hari hanya perkataan pedas dan perlakuan kasar yang aku terima meski aku berkali kali menunjukan prestasiku. mereka tetap menutup mata tanpa memperdulikan aku yang sudah di cap sebagai pembawa petaka untuk kehidupan mereka. Mungkin terlalu bayak Derita yang aku hadapi dulu hingga aku memiliki kesampat hidup yang kedua meski di alam yang berbeda dan harus menyelesaikan tugas di sini sebagai janjiku. Batin Dewi larut dalam lamunannya.


Yusuf membelai kepala sang putri ia pikir putri kecilnya itu mengetuk jadi terus mengusap kepala sang putri.


Andai aku memiliki kesempatan aku ingin kali menujukan diriku pada kedua orang tuaku bila aku bukanlah pembawa petaka, aku Mampu menjadi seorang Dewi bunga berkat kegigihan dan usahaku, aku bisa bermacam ilmu beladiri berkat ketekunanku. Dulu aku berambisi sekali ingin membuat kalian membanggakan aku hingga aku terus-menerus belajar tanpa mengenal lelah tapi sayangnya sebelum aku menunjukan segudang prestasiku hingga mampu menjadi seorang Dewi tinggal Atas seseorang sahabat mengiatiku dan membunuhku. Dewi mengingat kembali kejadian yang ia alami dikegidupan pertamanya, sambil memejamkan kedua matanya tidak lama ia tertidur.


DI Markas Abi dan Mars terlihat berbicara serius.


"bagaimana Om Mars apa benar Marcella sudah bisa terbebas dari batu yang mengurungnya?" tanya Abi ditengah perbincangan mereka.


"Aku belum bisa memastikan itu, sebab tidak ada terlihat aktivitas di rumah William maupun Devan yang mengarah padanya." Jawab Mars yang sekarang menyamar mendi orang kampung dan bekerja dirumah William menjadi Tupir pribadi. Semua bisa dilakukan berkat bantuan Dewi teratai yang mampu menutupi auranya dengan Matra khusus.


"Bagaimana dengan William dan putri Arum?"


"Semua baik-baik saja mereka terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing." Sahut Mars.


Hanya Putri Lasmi yang terus-menerus memuat olah bahkan saya dengar ada salah satu pelayan yang bekerja di rumah Devan meninggal karena perbuatan Putri Lasmi.


"Lalu apa yang terjadi setalah orang itu meninggal apa ada yang aneh terlihat dalam Diri Putri Lasmi."


"Lasmi semakin kuat dan badannya tubuh lebih cepat." ujar Mars menjelaskan.


"Anak itu mencari tumbal manusia untuk menjadi sakti." tukas Abi membuat Mars terkejut.


"Berhati - hatilah jangan terlalu dekat dengan Lasmi aku takut dia mampu Melihat auramu yang disembunyikan Dewi teratai." Nasehat Abi.


"Baiklah aku akan selalu waspada." jawab Mars.


"Aku harus pergi nanti kita bicara lagi." ujar Mars pemit sembari mengucapkan salam kemudian berlalu meninggalkan Abi yang termenung dalam lamunannya.


"Abi teringat dengan wajah Devan ayah kandungannya bagaimana pun kamu membenci aku aku tetap tidak akan balas membencimu Ayah karena kamulah aku bisa terlahir kedunia ini meski itu hanya di anggap sebagai kesalahan." Gumam Abi.


"Lasmi seperti perbuatanmu tidak bisa dibiarkan terus menerus aku harus bertindak sebelum banyak korban karena olahnya." Lagi-lagi Abi berbicara sendiri tanpa disadarinya Dewi mendengar setiap ucapannya.


"Lakukan saja aku akan mendukungmu dari Belakangan, tapi jika Kaka terlalu lama karena terlalu bayak pertimbangan aku akan membereskannya untukmu." Batin Dewi segera pergi dari tempatnya menguping obrolan Kakaknya dan Mars.


Abi masuk kedalam ruang perpustakaan Ayahnya mencari buku bacaan untuk menambah Wawasannya.


"Meski ilmuku belum sepenuhnya kembali aku tidak boleh mengecewakan mereka yang berharap banyak padaku." batin Abi sembari memilih buku untuk ia baca.


Ting pesan masuk di ponsel Abi membuatnya menghentikan aktivitasnya sementara.


Pesan Zahra:


"Assalamualaikum Abi, bisakah kita bertemu ada yang ingin aku dan Abuya bicarakan?"


Abi Segera mengetik pasang balas untuk Zahra.


"Walaikum salam Zahra, nanti sore kita bertemu di markas." balas Abi.


Abi memesukan ponselnya kembali kedalam. Saku celana. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.


"Apa Om Mars juga menceritakan perbuatan Lasmi yang membunuh salah satu pelayan pada Abuya dan Zahra." ucap Abi berbicara sendiri.


Begitu menemukan buku bacaan yang cocok Abi duduk di sofa yang ada di sana sambil membaca.


"Aduh kenapa tiba tiba aku memikirkan nenek Marcella apa yang akan terjadi dengan apa mungkin William di bantu oleh Tuan yang mereka sembah untuk menolong Nenenk Marcella." batin Abi menutup kembali buku yang ia baca karena tidak bisa fokus dan kini ia larut dalam fikirannya