Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Hukuman atau balasan


"Hehehehe, maaf Nek aku tidak sengaja menjatuhkannya." kata Dewi teratai dengan memasang wajah sedih.


"Nek aku rasa batu ini bukan milik Nenek lihatlah batunya hancur menjadi serpihan kecil batu ini tidak berguna Nek." lanjut Dewi Teratai.


Marcella mendekati Dewi teratai ia membungkuk untuk memeriksa batu Merah yang sudah hancur menjadi serpihan kecil.


Begitu serpihan batu berada telapak tangannya Marcella ia mendengar suara Raja iblis berteriak marah padanya.


Dewi teratai tersenyum manis sembari menjulurkan lidahnya. "selamat menikmati." ucapnya.


Raja iblis begitu Marah ia mengunakan kekuatannya membuat wajah Marcella terbakar.


Risa menutup matanya melihat kejadian tersebut begitu pula dengan Satpam dirumahnya yang diam terpaku dengan mulut menganga.


hari yang semula cerah tiba-tiba mendung terdengar suara petir mengelegar menyambar Marcella yang berteriak kesakitan.


"Dewi Ayo masuk ini bukan lagi urusan kita Biarkan Nenek menerima hukumannya." kata Abi lantas segera menarik Dewi teratai masuk rumah diikuti Risa. sedangkan Satpam masuk kedalam pos jaga.


Tak sampai disitu badan Marcella yang terkena sambar petir masih bisa berdiri angin kencang membawa daun dan debu menerpa wajahnya membuat Marcella semakin menjerit-jerit merasakan sakit luar biasa. entah dari mana datangnya sebuah batu besar jatuh mengenai Badan Marcella sebelum batu itu jatuh Marcella memanggil Putri Arum, William dan juga Raja iblis. namun tak satupun datang membantunya. Diakhir kalimatnya ia mengutuk Putri Arum dan William.


Batu yang menghantam Marcella menyatu dengan tubuh Marcella kini tubuh wanita itu menjadi batu seutuhnya tanpa bisa digerakkan sedikitpun matanya terbuka begitu pula dengan mulutnya menganga.


"Lihatlah Dek bagaimanapun murkanya Allah pada hambanya yang menyekutukannya." kata Abi.


"iya Kak Abi jujur saja aku sangat senang melihatnya mendapat hukuman atas perbuatannya."


"Abi, Dewi patung Marcella harus kita pindahkan tidak mungkin dia selamanya berdiri di depan pintu gerbang rumah kita." kata Risa.


"kita akan memindahkannya Bunda tenang saja." sahut Abi.


"Astaghfirullah Dek seharusnya kamu prihatin melihat Nenek, jadikan kejadian ini pelajaran untuk kita." ujar Abi.


"Benar kata Kakakmu Nak, kasihan sekali nasibnya, tadi ibu sempat melihat ada rubah begitu batu itu menimpa Marcella."


"Benarkah? pasti dia yang membuat batu itu jatuh menimpa Marcella" ujar Dewi teratai.


Abi melihat kembali kearah Marcella yang menjadi patung melalui kaca begitu pula dengan Dewi teratai sejak masuk rumah Dewi teratai sudah mengintip di sana, rasa penasaran yang cukup tinggi mendorong Risa ikut memperhatikannya Marcella begitu pula dengan Abi.


hujan turun begitu deras. Tanpa ada yang tau Marcella masih hidup tetapi tubuhnya kaku menjadi batu.


"Bukan ini yang aku mau." batin Marcella.


"Aku ingin kulitku mulus dan Cantik." isak Marcella.


Marcella yang menjadi patung sejak tadi merasa tersiksa ia ingin berlari dari hujan namun tidak bisa sama sekali badannya yang menjadi batu begitu berat tidak dapat digerakkan.


itu lebih cocok untukmu ibu, kamu mungkin akan hidup selamanya tetapi tubuhmu menjadi batu, hatimu masih tetap hidup kau juga bisa merasakan sakit, panas, hujan, tak ada bedanya dengan manusia hanya badanmu yang menjadi batu.biar aku beri tau, ada sedikit perubahan di tengah kepalamu ada tanduk, kamu juga memiliki ekor seperti setan yang kamu sembah ibu." kata Rubah dengan suara terdengar jelas ditelinga Marcella.


Marcella tercengang ia begitu mengenal suara orang yang saat ini berbicara padanya, ia berusaha menepisnya, karena menurutnya tidak mungkin orang mati bisa kembali, apalagi ia sendiri yang membunuhnya.


"Suaranya sepertinya memang mirip orang ini pasti sedang memainkan peran." ujar Marcella namun suaranya tidak bisa keluar sama sekali.


"Bukan aku yang melakukan ini bu, jangan marah padaku, aku ini hanya mahluk lemah,seperti katamu aku ini tidak berguna, aku tidak memiliki kekuatan apalagi ilmu sepertimu, sebagai anak Aku hanya terus berdoa untukmu, Rupanya doa'ku dikabulkan saat ini. dengan mata kepala sendiri aku melihat semua hukuman atas perbuatanmu, nikmatilah." kata rubah ia kemudian meninggalkan tempat itu kembali melakukan tugasnya menjaga tanaman obat peninggalan Marcello.


"Benar kata Bunda Abi baru saja melihat rubah ia berada di belakang Nenek sebelumnya. Aku tidak tau apa yang dia lakukan di sana." tukas Abi Abi.


"sudahlah kak, bukan urusan kita, hujan juga belum berhenti bagaimana kita memindahkan patung itu,"


"Ayah dimana Bunda Dewi sangat merindukannya?" tanya Dewi teratai kemudian berjalan menuju sofa.


"belum pulang Beker nak."


minta Ayah berhenti saja Bunda, lebih baik Ayah membuat obat saja ujar Dewi teratai.


"Ayahmu tidak mungkin mau nak berhenti, pekerjaan dokter itu Bunda rasa bagus, Ayahmu bahkan bisa menolong banyak orang." sahut Risa sambil duduk di samping sang putri.


"Bunda Aku lapar." kata Dewi teratai kemudian mengubah bentuknya menjadi anak berumur tiga setengah tahun.


Risa tersenyum kemudian membawa sang putri ke dapur.


sore harinya Yusuf tidak segera pulang kerumahnya, ia mengemudikan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di kotanya. begitu sampai Yusuf dengan cepat mencari beberapa lembar baju,sepatu untuk Abi. sudut bibir membentuk bulan sabit manakala matanya melihat mainan untuk anak perempuan.


"permisi pak ada yang bisa saya bantu?" tanya pramuniaga Mall.


"Eh ya Mbak saya mau cari mobil ces untuk Putri saya." sahut Yusuf.


"Disebelahnya sana pak mari ikut saya." ajak pramuniaga Mall sambil berjalan diikuti Yusuf.


begitu sampai pramuniaga menunjukan berbagai jenis mobil yang dicari Yusuf.


"terimakasih Mbak sepertinya saya ambil mobil warna pink Disney itu saja." ujar Yusuf.


Baik pak, biar nanti kami antar ke kasir. Apa ada lagi yang bapak cari?" tanya pramuniaga sopan.


"boneka beruang yang paling besar Mbak untuk Warnanya samakan dengan mobilnya." ujar Yusuf.


"Baik pak jawab pramuniaga ramah." sembari tersenyum.


"oh iya mbak boneka saya minta di bungkus kado bisakan?"


"iya pak bisa."


setelah mengucapkan terimakasih Yusuf meninggalkan pramuniaga yang sudah membantunya.


Sekarang tinggal hadiah untukmu sayang batin Yusuf sambil berjalan kesebuah toko perhiasan.


"Mbak saya mau liat koleksi berlian medel terbaru bulan ini." ujar Yusuf pada penjaga toko berlian.


Sang penjaga toko segera memenuhi keinginan pelanggannya.


"ini pak, bulan ini ada tiga model beru." jelas pegawai toko berlian sembari menunjukan tiga set berlian di atas etalase.


"Saya mau yang ini mbak."


"oh iya mbak kalung untuk anak umur tiga tahun, ada?" tanya Yusuf.


"Ada pak, yang satu set juga ada." sahut pegawainya toko sambil tersenyum ramah.


Bagitu melihat jenis kalung berlian yang ditunjukan pegawai toko Yusuf tertarik dengan kalung berlian bermata biru bentuknya sederhana terlihat sangat cantik.


selesai berbelanja Yusuf segera mengemudikan mobilnya menuju rumah.


"Yusuf kamu harus siapkan kuping istrimu pasti akan menceramahi kamu terlalu banyak mengeluarkan uang." batin Yusuf.