Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kabar Duka


Marcella berlalu menjauhi Willem ia bergegas pulang untuk menemui Putri Arum.


sambil berjalan ia mengingat ekspresi Willem yang kesakitan saat tangannya terkena kekuatan dari batu merah delima miliknya. Marcella tertawa senang.


Di tempat lain Gio menerima panggilan dari seseorang jika Ayahnya Hermawan terkena serangan jantung dan telah dibawa ke rumah sakit.


Gio segera memberi kabar pada Risa dan juga ibunya yang sedang berada di rumah Umi Salamah.


Ratih mendengar Ayah dari anak-anaknya masuk rumah sakit segara menceritakan pada Umi dan ingin segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk.


"tunggu Ratih, sebaiknya kita pergi bersama-sama Risa dan Yusuf biar aku hubunggi dulu." cegah Umi.


Dengan perasaan gelisah Ratih mengangguk.


Beberapa menit berlalu terdengar suara klakson mobil diluar rumah Umi.


Itu mobil Yusuf, ayo kita bergegas ajak Umi.


tanpa menjawab Ratih yang sudah siap segera berdiri dan berjalan menuju mobil mengikuti Umi.


Didalam perjalan tak ada yang berbicara semua larut dalam pikiran masing-masing hanya suara musik yang terdengar mengiringi perjalanan mereka malam itu.


Ratih terlihat sedih, bagaimanapun juga ia pernah membina rumah tangga bersama Hermawan. walau harta yang dinikmati selama puluhan tahun bukan murni dari hasil kerja kerasnya. terlepas dari itu bagi Ratih Hermawan adalah susuk suami yang perhatian.


Hermawan sudah mengakui perbuatannya dan menerima hukumannya. Namun Ratih yang saat itu kecewa meminta sang suami menjatuhkan talak padanya. Walau terlihat sesekali Hermawan berat mengucapkannya ia tetap memenuhi keinginan sang istri berharap suatu hari Ratih mendapatkan kebahagiaan meski tak bersamanya.


semenjak saat itu ia hanya bertemu sekali dengan Hermawan yaitu saat ia bebas dari penjara. Ratih meminta Gio untuk menyewakan rumah untuk Hermawan bernaung. sedang untuk uang dan pekerjaan Hermawan tak mau dibantu ia ingin mencari sendiri.


sesampainya di rumah sakit Abi yang juga ikut ingin melihat sang Kakek memiliki firasat buruk ia segera berlari keluar dari mobil dan mencari sebuah kamar sesuai penglihatannya.


sesampainya diruang melati Abi mengatur nafasnya dan Membuka perlahan pintu sebuah kamar.


"Berhenti." teriak Abi.


Orang yang memakai seragam suster itu segera berbalik menatap Abi wajahnya mengunakan masker hingga dua berlapis.


Tak perlu banyak kata suster itu melesat pergi secepat angin. segera segera melepas selang infus yang menancap di tangan sang Kakek.


"Abi kenapa kau berlari ada apa nak tanya Yusuf?"


"Ada yang ingin mencelakai Kakek. sahut Abi.


"Sayang sekali orang itu memiliki ilmu beladiri dan sebuah ajian yang mampu berlari secepat kilat hingga aku tak dapat menangkapnya." tukas Abi.


Risa, Ratih, dan juga Umi menatap Ayah dan anak itu yang wajahnya terlihat khawatir.


Gio masuk bersama seorang Dokter.


"maaf bisa tinggalkan saya bersama pasien." ujar sang doktor ramah.


"Baik Dok" ucap Yusuf seperti terhipnotis melihat dokter itu menatap kedua bola matanya.


Semua keluar kecuali dokter yang ingin melakukan pemeriksaan pada Hermawan dalam maskernya sang dokter tersenyum.


Om Gio kenapa om Gio memanggil dokter apa ada yang terjadi dengan Kakek sebelumnya? tanya Abi.


"tadi seorang suster datang memeriksanya begitu selesai ia mengatakan ada yang tidak beres harus segera ditangani dokter. sister itu lantas memintaku memanggil Dokter sementara ia akan menjaga Ayah." jelas Gio.


Abi tak menjawab ia mecoba membuka pintu perawatan kakeknya yang ternyata terkunci dari dalam.


ada yang tidak beres Dokter dan suster tadi sepertinya satu tujuan. batin Abi.


Ayo dobrak Ayah om Gio ada yang tidak beres dengan dokter itu jelas Abi.


seketika Yusuf tersadar dengan cepat ia memeriksa melalui kaca kecil yang terdapat di pintu dan melihat Hermawan kejang-kejang sementara dokter yang tadi berada didalam sudah menghilang.


Abi dan Gio berusaha mendobrak pintu namun tak terbuka.


"biar Ayah dan Gio saja Abi." ujar Yusuf.


Abi berinisiatif meminta bantuan pada staf rumah sakit sedang Yusuf dan Gio mendobrak pintu dengan kuat hingga terbuka.


tepat saat pintu terbuka Abi datang bersama seorang membawa banyak kunci di tangannya.


Saat para lelaki mendobrak pintu Risa berjalan mencari seorang dokter yang bisa segara membantu memeriksa sang Ayah.


Gio Abi Yusuf Ratih dan Umi masuk melihat Hermawan melotot sembari terus kejang-kejang.


Abi dan Yusuf maju mendekati Hermawan dalam kondisi seperti ini keduanya bekerja sama Abi mengambil jarum akupunturnya segera menusuk beberapa bagian tertentu Yusuf melepas kembali infus yang di pasang oleh dokter palsu. ia juga berusaha membatu Hermawan untuk meninggikan bantal agar ia lebih mudah bernafas.


dari Mulut Hermawan mengeluarkan lendir ia tak dapat lagi meneguk air yang di teteskan Gio ke mulutnya.


bertepatan degan itu Dokter datang bersama Risa.


Kondisi benar-benar buruk segera bawa Keluang ICU ucapnya.


Gio dan Yusuf segera menuruti perintah Dokter membawa Hermawan ke ruang ICU.


Ratih menangis tanpa suara langkahnya begitu lambat kepala pusing dan tanpa bisa ditahan ia ambruk kelantai keramik rumah sakit.


Umi dan Risa segera membatu Ratih.


Abi ikut mengiringi Hermawan ke Ruang ICU. ia berpesan pada perawat yang mendampingi dokter melakukan tindakan untuk Hermawan, jika jarum akupuntur di badan Hermawan dilepas tolong disimpan nanti ia akan mengambilnya.


seorang perawat mengiyakannya.


"Tolong selamatkan Ayah saya Dok." ucap Gio.


"kami akan berusaha semampu kami Dek, berdoalah untuk pasien."sahut sang Dokter sambil berlalu.


Abi, Gio dan Yusuf menunggu diruang tunggu sedang Risa dan Umi membatu menyadarkan Ratih.


Gio menghela nafas, wajahnya terlihat kwatir ia memejamkan mata sambil berdoa berharap sang Ayah dapat diselamatkan


Yusuf yang seorang Dokter tantu saja tau tingkat keselamatan Hermawan begitu kecil karena Racun yang diberikan cukup ganas hanya dalam hitungan menit Hermawan sudah merasakan efeknya. Dalam hatinya ia hanya berpasrah pada yang maha kuasanya untuk keselamatan sang mertua.


hampir satu jam berlalu Dokter keluar dengan menghela nafas kasar.


Gio segera berdiri diikuti oleh Yusuf dan yang lainnya.


"Dokter bagaimana keadaan Ayah saya?"


Saya sungguh menyesal atas kelalaian pihak keamanan di rumah sakit ini. pasien tidak dapat kami tolong saya sudah berusaha keras tapi Allah berkehendak lain. ujar Dokter.


seperti disember petir siang bolong


Ratih terduduk lemas


"Kakek maafkan Abi terlambat membatu." gumam Abi.


Gio dan Risa segera berlari masuk untuk memastikan ucapan Dokter.


"Dokter Arya terimakasih. Aku berharap hal seperti ini tidak lagi terjadi di rumah sakit ini. bisakah saya melihat rekaman cctv di rumah sakit ini." ujar Yusuf.


"tentu saja Dokter Yusuf, kami akan mengusut tuntas masalah ini bagaimanpun juga saya selaku penanggung jawab dokter jaga malam ini tidak akan tinggal diam." ujarnya.


"terimakasih kita akan bicara lagi nanti. saya harap dokter Arya tidak keberatan." kata Yusuf.


"Tentu saja, datanglah keruanganku." sahut Dokter Arya Ramah.