
Mars melangkahkan kakinya menjauh dari tempat pemandian janazah, ia mencari tempat duduk untuk menunggu Janazah temannya. Mars berniat ikut serta mensholatkan hingga memakamkan janazah. selain itu Mars juga penasaran dengan yang ia lihat saat ustazd memandikan janazah temannya.
aku harus bisa mendapat sadikit informasi dari ustazd itu, bagaimana bisa tanda biru kehitaman di dada Raka bisa hilang hanya dengan di bacakan do'a, seperti tak masuk akal tapi ini nyata. batin Mars.
Mars melihat kebeberapa orang mengangkat janazah Raka yang sudah terbalut kain kapan.
Mars mendekati untuk melihat kembali jasad Raka yang sudah terbalut kain kapan, mata Mars melihat dengan teliti dari ujung kaki sampai ujung kepala yang sudah tebalut kain kapan putih, wajah Raka terlihat jauh lebih bersih dari sebelumnya.
tangan Mars tiba-tiba disentuh oleh seseorang yang memberitahukan janazah akan disholatkan setelahnya akan di makamkan.
mendengar itu Mars segara mundur dari tempatnya berdiri ia mempersilahkan beberapa orang untuk membawa janazah temannya menuju mshola untuk di sholatkan, tanpa banyak kata Mars mengikuti dibelakang.
Selesai di sholatkan, mereka membawa ketempat janazah akan di semayamkan. Mars masih setia mengikuti sampai proses selesai, hinggga tiba saatnya ustazd membacakan do'a, dengan meneteskan air mata Bu Rini mengantar sang putra ke pembaringan terahirnya.
saat semua orang sudah meninggalkan kubur termasuk bu Rini yang tak sanggup berlama-lama di sana, Bu Rini bergegas pulang untuk menyiapkan acara tahlilan. tak lupa ia berpamitan pada Mars yang masih setia melihat tanah makam yang masih basah bertabur aneka bunga.
Setelah semua orang pergi kecuali Mars, Ustazd Akbar penepuk pundak Mars membuat Mars tersentak kaget. ia ingat betul Ustazd Akbar sudah pamit sebelumnya lalu mengapa tiba-tiba ada di belangnya.
"jangan takut nak, Ayo kita selamatkan temanmu." ucapnya seraya mengajak pergi dari tempat pemakaman.
Mars mengikuti laki-laki berbaju serba putih itu kerumahnya yang tak jauh dari sebuah pesantren. dengan tersenyum ramah ia mempersilahkan Mars masuk dan duduk.
Mars mengikuti karna ia juga ingin menanyakan suatu yang janggal menurutnya.
kita tak benyak waktu nak, pejamkan matamu jagan lepas gengaman tangan saya ucapnya sambil memengang tangan kanan Mars.
seperti di kerbau di cocok lubang hidungnya Mars menurut tanpa benyak tanya.
"sekarang buka matamu selamatkan temanmu." ucap Ustazd Akbar.
Mars membuka matanya ia memandang kesisi kanan kiri penuh api dan di depannya ia melihar Raka di ikat dengan rantai api yang yang besar dan panjang.
"pakailah ini untuk menutupi badanmu masuklah kedalam sana lepaskan Raka dari belenggu yang mengikatnya." perintah Ustazd dengan wajah serius sambil menyerahkan sorban putih miliknya ketangan Mars.
dengan cepat Mars menerima tanpa banyak tanya mulutnya seakan enggan untuk mengucap walau hanya satu kata.
Mars membalut dirinya dengan selembar kain sorban milik Ustazd Akbar dan masuk kedalam kobaran Api yang terlihat panas.
di sisi lain Ustazd Akbar membaca sebuah Ayat pendek dan Do'a lalu melemparkan tasbihnya tepat menganai rantai yang membelenggu Raka seketika rantai yang menyala itu padam lalu putus.
melihat ratai putus. Mars cepat membatu Raka berjalan menuju ke tempat Ustazd Akbar berada, tidak lupa ia juga berbagi kain sorban pada Raka agar ia tak merasakan sakit dan panas saat melewati api yang mengelilingi mereka.
tanpa berbicara Ustazd Akbar memengang pundak Raka dan Mars membawanya pergi dari tempat itu.
nak Raka di sinilah tempatmu yang sebenarnya, menyebranglah ke jembatan bambu itu, maaf kami hanya bisa mengantarmu sampai ke sini"" ucap Ustazd Akbar sambil menunjuk ke Arah sebuah jembatan yang terbuat dari bambu.
"terimaksih Ustazd telah membatu saya lepas dari belenggu itu." sahut Raka sambil tersenyum.
"sama-sama sampaikanlah pesanmu pada temanmu tak perlu ragu." ucap Ustazd Akbar sambil menetap lekat mata Raka.
"Mars aku ingin berterimakasih padamu karna sudah menolongku tadi, tolong sampaikan ke Ibu ambillah uang tabunganku, untuk membuat warung makan kecil-kecilan. dan sampaikan maafku karna tak bisa lagi menjadi tulang pungung keluaraga. Mars bisakah kamu menegok ibu ku jika kamu mempunyai waktu luang, aku takut penyakit asma ibu kambuh secara tiba-tiba tanpa ada yang tau."minta Raka.
"Raka kamu adalah teman terbaikku aku tau bagaimana ibu dan adik-adik perempuanmu aku berjanji akan membatu mewujudkan mimpimu sewaktu kuliah dulu. adik-adik dan ibumu pantas mendapatkannya." ucap Mars dengan yakin.
"terimaksih Mars aku akan menjegamu semampuku dari sekelompok orang itu". Rahut Raka sambil menatap barbagai tanaman di depannya. hati kecilnya tak sabar ingin memetik buah-buahan segar
"maksudmu?" tanya Mars.
"orang yang meleyapkan Reyna keylen dan orang meleyapkan Raka adalah orang yang sama mereka tak hanya satu tapi satu kelompok." ucap Usatzd Akbar menyela.
"Berhati-hatilah Mars sebaiknya jangan kamu teruskan mengungkap kasus kematian Rayna keylen saat ini, kau bisa saja bernasip sama denganku." ucap Raka.
"nak Raka benar, tunggulah Anak itu, berusia 15 tahun kita akan bergabung mengungkap kasus kematian rayna keylen, Marsello orlado, dan kedua orang tuanya." ucap Ustazd Akbar penuh misteri.
"anak siapa?" tanya Mars dengan wajah binggung.
"Abimanyu Alfarizi." ucap Ustzd Akbar Maulana singkat
"maksud ustazd Ahli Kimia dunia bernama Marsello itu meninggal karna dibunuh?" tanya Mars dengan raut wajah tak percaya.
"Ya sekelompok orang-orang itu membunuh dengan mengirim banaspati pada Marsello, dan entah bagimana mobil itu meledak.Tetapi anak dan Istri dari Marsello itu sampat selamat tanpa mereka ketahui." cerita Ustazd Akbar.
"jadi mereka melakukan pembunuhan dengan ilmu perdukunan?" tanya Mars.
"Ya karna itu satu-satu cara yang bisa mereka lakukan untuk mengabisi marsello saat itu."
"Mars sampaikan pesanku pada Abi jika aku, kyai Hasan, dan Kyai Ahmad menunggunya di padepokan sesuai pesan dari Marsello kami harus membimbing dan mengajari Abi ilmu Agama katakan saja pada dokter Yusuf dan Umi salamah kami bertinga Adalah sahabat dari Marsello."
"ayo Mars, kita tidak bisa berlama-lama di sini sudah waktunya kita pulang. dan nak Raka jalanlah lewati jembatan itu." tukas Ustazd Akbar.
Mars terkejut saat membuka matanya ia berada di dalam mobil sedang bersadar pada kursi kemudi.
"Apa ini? apa semua yang tadi kualami hanya mimpi belaka?" tanya Mars pada dirinya sendiri.
Mars meliat kiri kanan ternyataya mobilnya masih berada di pemakaman ia segara menjalankan mobilnya untuk menemui Defvan.