
Hujan turun membasahi bumi Defvan dan Willem menatap rintik hunjan melalui jendela di ruang kerja Defvan.
"Def Apa kau sedang menyukai seseorang?" desak Willem.
"Entahlah Aku terus memikirkannya sejak pertemuanku hari itu, walau aku berusaha menepisnya bayangan wajahnya selalu menghantuiku setiap saat." ujar Devan.
"Jika ia wanita singel tak ada salahnya kau mendekatinya. pesanku kau harus mengetahui dulu asal usulnya jadikan masa lalu sebagai pelajaran" Nasehat Raden Mas.
"Baik Dad. sepertinya itu khayalanku saja." kata Defvan.
"Kau yakin?" sambil melihat mata sang putra
"Ya semoga saja, mungkin otakku terlalu lelah memikirkan tumpukan pekerjaan hingga berkhayal." ujar Devan.
"bagaimana kerjasamamu dengan perusahan di turki, apa semua lancar?" willem mengalihkan pembicaraan.
"Lancar Dad, mereka menyetujui kerjasamanya!" ungkap Devan sembari tersenyum.
"Bagus Aku berharap perusahan akan semakin maju dibawah kepemimpinanmu." ujar Willem penuh harap.
"Aku akan berusaha semampuku Dad, semua demi massa depan anakku sahut." Devan sambil membayangkan Abi.
"Sudah lama aku tak bertemu cucuku itu, jika kau bertemu dengannya ajaklah ke rumah kakeknya." minta Willem.
"Akhir-akhir ini aku sibuk belum sempat bertemu dengannya, aku juga merindukannya besok aku akan mengajaknya jalan." tukas Devan sambil tersenyum simpul.
"Boleh aku ikut, kemana kau akan mengajaknya?"
"ke Villa Dad, Abi pasti senang." Devan tersenyum membayangkan Abi bermain seharian di Villa yang berada tak jauh dari pantai.
"Kami akan menyusulmu ke sana jika tak ada pekerjaan?" ujar Willem.
"Kami Daddy ingin mengajak wanita ular dan juga dayangnya itu?" menjawab dengan nada tak suka.
Ya, apa salahnya, biarkan mereka menyiapkan makanan saat kita lapar dan leleh." Tukas Willem.
Devan mendelik tak suka. "Di sana ada Mbuk Karto." ketusnya.
"Sesekali kita ke villa di puncak bersama lagi pula kami tidak akan menginap." ujar Willem.
"Terserah." sahut Devan sambil memainkan ponsel pintarnya.
Di tempat berbeda Mawar sedang menetap sebuah foto ibu dan akan didalam kamar milik ibu Devan.
"Apa ini istri pertama Willem tidak terlalu buruk boleh juga seleranya." batin Mawar yang raga dipakai oleh putri Arum.
"Akan menarik jika aku bisa membangkitkan dan jadikannya pengikutku berada dalam kendaliku." gumam Mawar sambil menyeringai.
"Akan kupikirkan caranya nanti saat ini aku harus bisa membuat tubuhku terlepas dari kutukan petapa itu." ujar Mawar berbicara sendri.
"Keturunanku, hanya itu yang bisa membuatku terlepas dari kutukan. Aku harus meminta bantuan Raja Jin serta Raja iblis untuk melepaskan diri selama malam gerhana merah dan mencari seseorang bisa membuatku memiliki keturunan." monolognya sembari mondar mandir dalam kamar.
"Siapa orang yang bisa ku jadikan alat untuk membuat keturunan. semua manusia di dunia ini tak ada yang pantas untukku." batin Mawar sombong
"menurut Marcella anak yang memiliki tanda adalah cucu dari suaminya, apa itu artinya anak pemuda yang saat itu mengusirku?"
Mawar tersenyum penuh arti melihat foto Devan dan Rayana di atas nakes. entah apa yang ada dalam benaknya.
"Sepertinya akan menarik. kau tunggu saja bocah aku akan membutmu terkejut." Monolog Mawar.
Putri Arum mengambil foto tersebut membacakan mantra beberapa detik berikutnya ia meniup ke wajah Devan yanga ada didalam foto.
Di Rumah Devan ia terlihat frustasi karena bayang-bayang wajah Mawar yang begitu cantik terus menghantuinya otaknya tak berhenti memikirkan wanita itu.
"Astaga ada apa denganku apa aku jatuh cinta." ujar Devan frustasi.
"Assalamualaikum Dev." sapa Mars.
Devan tersentak menyadari Mars ada di depan pintu ruang kerja dirumahnya.
"Maaf jika aku mengganggumu, Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja untuk itu aku mampir." ucap Mars.
"Masuklah Mars!!" suruh Devan.
Mars mendekati Devan ia mengerutkan kening melihat wajah dan juga rambut Devan terlihat kusut berantakan.
"Ada masalah?" tanya Mars sambil berjalan masuk menuju sofa di ruang kerja Devan
"Tidak." Sahut Devan datar menyusul Mars duduk di Sofa.
"Cepat selidiki asal usul wanita yang dibawa Marcella ke rumah Daddy." perintah Devan sambil menatap layar ponsel di tangannya.
"Wanita, sajak kapan, Tuan Willem memperbolehkan tamu menginap dirumahnya?" Ujar Mars bertanya.
"kau heran begitu pula denganku. biar ku beri tau Daddy membiarkannya tidur dikamar milik Mami !!".
"Apa aku tidak selah dengar?, kamar Ibumu ditepati oleh tamu ibu dirimu?"
"Itu benar Mars Daddy bahkan membela Marcella serta tamunya itu." cerita Devan.
"Aku akan menyelidikinya siapa namanya?".
"Mawar." kata Devan
"Apa kau ada fotonya nama Mawar hanya satu." sahut Mars sambil mencibir.
"akan ku minta dan kirimkan ke ponselmu segera." Kata Devan.
"Aku ingin besok kau sudah mendapatkan informasi lengkapnya aku tunggu." perintah Devan
"hmmmm, akan aku usahakan Dev, semoga tidak sulit mencari informasinya."
"Apa kau memikirkan Wanita itu sebegitu cantik kah?" goda Mars
Devan memejamkan mata mengingat wajah Mawar sambil berucap. "wajahnya begitu bercahaya dan cantik aku belum pernah melihat wanita cantik melebihinya." rancau Devan.
Ada yang tak beres Devan seperti orang linglung.
"benarkan! apa kau menyukainya?" tanya Mars.
"Aku tidak tau, bayangan wajahnya selalu mengikuti ku!" ujar Devan masih setia memejamkan matanya.
"Devan sadarlah jangan bertingkah konyol." Mars menepuk bahu Devan.
"Mars !!" sentak Devan.
"Sadarlah Dev!!"
"Apa, kau pikir aku sedang kerasukan?" tanya Devan sambil tersenyum.
"seperti bukan Devan yang ku kenal sahut Mars
"Aku jadi penasaran dengan wanita itu, ajak aku ke rumah orang tuamu." minta Mars.
"jangan merebutnya dariku!" seru Devan.
"Aku hanya melihatnya serta mengambil fotonya untuk melakukan penyelidikan." sahut Mars santai.
"Kita tunggu Abi dulu supirku sedang menjemputnya." ujar Devan.
"Baiklah Aku ke dapur membuat minum." pamit Mars sambil beranjak meninggalkan Defvan.
Di rumah keluarga Yusuf.
Abi memberikan air putih yang ia ambil dari air terjun tempat Raden Mas tempat ia merendam bunga teratai emas.
"Bagaimana Rasa airnya Bunda?" tanya Abi.
"Air putih apa ini Abi rasanya sejuk saat tenggorokan seperti ada mint didalamnya." jelas Risa.
"Bunda suka?" tanya Abi tersenyum senang.
"iya Bunda suka rasanya Bunda ingin minum lagi karena begitu menyegarkan tenggorokan." ungkap Risa.
"sebaiknya Bunda istirahat Ayah Devan sudah menyuruh supirnya menjemput Abi." ujar Abi.
"Kenapa biasanya Devan menjemput sendiri?" Risa mengerutkan kening berpikir.
"Abi tidak tanya kenapa yang jelas Ayah Devan ingin mengajak Abi main ke rumah Kakek, Ayah bilang Kakek ingin bertemu cucu laki-lakinya." cerita Abi.
"Hati-hati nak, jika terjadi sesuatu cepat kabari Bunda atau Ayah Yusuf." nasehat Risa.
"Siap Bunda terimakasih." ucap Abi.
"untuk?"
"semuanya nasehat dan perhatian Bunda tak pernah berkurang sedikitpun sejak Abi kecil." ujar Abi