Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Kemarahan Risa


seorang wanita muda memakai pakaian yang terlihat mewah dengan taburan permata dan berlian,ia dengan percaya diri ingin menceritakan kisah hidup Risa.


"kalian tau mempelai wanita itu bernama Clarissa oktaviani dia kuliah dikampus yang sama denganku, disemerter lima dia berhenti kuliah karna membuat aib keluarga." Yana berbicara sambil menatap jijik pada Risa.


Yana hanya berhenti untuk menarik napasnya lalu melanjutkan kembali.


"Dia wanita kotor, murahan, jaalaaangg yang yang melayani laki-laki untuk memuaskan *****. sampah sampah yang kotor bahkan keluarganya mengusirnya dari rumah." Yana terdiam beberapa saat mengambil napas


"orang tuanya menceritakan jika dia itu hamil tanpa suami, dan saat ditanya siapa Ayah bayinya ia bilang tidak tau !! apa terlalu banyak laki-laki yang kamu layani hingga kamu tidak tau mana ayah dari anakmu itu?" Yana bertanya sambil sambil menunjuk Abi.


"kau bahkan lebih memilih keluar dari rumah untuk mempertahankan bayimu, kau sangat bodoh Risa memilih hidup dijalan sedang orang tuamu memiliki hanyak uang dan rumah yang besar." sambil menatap Risa dan Yusuf.


"Dokter Yusuf anda harusnya mencari wanita yang berkelas bukan murahan seperti dia hanya sampah kotor, tak pantas bersanding dengan anda." nasehat Yana untuk Yusuf


"ohyaaa Risa ibumu itu juga bodoh sekali dengan mudahnya aku bisa membuatnya percaya padaku dan menceritan aibmu itu, untuk menjawab tanda tanya dikampus aku dangan suka rela melakukannya saat itu."


"Risa harusnya kau sadar diri kau itu tak pantas untuk hidup bersama dengan dokter Yusuf, kau itu kotor bisa-bisa kau menularkan penyakit untuknya sana pergi bawa serta anak harammu itu." usir Yana


seorang anak perempuan lepas dari ngenggaman tangan sang ayah.


Amira berjalan menghapiri ibunya.


"mana Anak haramnya bu?" tanya Amira.


"itu dia sahut Yana" dengan jari telunjuk mengarah ke Abi.


"ayo kita sebut sama-sama ana haram anak haram anak haram." ucap lbu dan Anak itu bersamaan.


saat ini muka Risa sudah berubah menjadi merah menahan amarah air matanya yang sempat jatuh segera ia seka, saat mendengar anaknya dihina Risa seperti singa yang siap menerkam ia menatap tajam Yana.


Risa melepas genggaman tangan Abi dan Yusuf ia segera berjalan menghapiri Yana yang berada di atas panggung mini.


Gio dan Umi ingin sekali menghampiri Yana tapi ditahan oleh Yusuf.


"Biarkan Risa menyelesaikan masalahnya sendiri, biarkan ia mengeluarkan semua beban hidup yang ia pikul sendiri, biarkan ia menumpahkan rasa sakit yang ia pendam akibat hinaan orang-orang yang memandangnya sebelah mata." jelas Yusuf sambil memandang punggung Risa yang semakin menjauh.


Risa merebut mic yang ada ditangan Yana dengan pakasa.


"Aku Clarissa oktaviani memang memiliki anak tanpa suami, aku mertahankan nyawa yang tak berdosa itu hingga aku diusir dari rumah orang tuaku."


"kau bilang aku bodoh karna mempertahankan anakku, sekarang aku tanya bodoh mana antara mertahankannya? atau membunuhnya? mana yang lebih bodoh?"


"ingat Yana semua yang terjadi padaku itu bermula dari aku datang kepesta ulang tahunmu dihotel Lalona."


"malam itulah kesucianku direnggut oleh seseorang. semenjak saat itu pula perjalananku dimulai."


"aku memang tidak lulus kuliah tapi aku mampu memberi nafkah untuk anakku dengan uang Halal."


"meski harus menjadi pemulung dami membeli sekotak susu tetapku lakukan. hujan dan panas tak lagi jadi halangan." Risa berbicara sambil menggingat masa lalunya.


demi buah hatiku yang menunggu diruamah, bahkan mongkin berjalan diatas bara api akan kulakuakan, itulah tungasku sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi Anakku."


"sepertinya dari dulu kamu tidak berubah kamu suka sekali membongkar aib orang lain tanpa berpikir akibat dari perbuatanmu itu." ucap Risa


"sekali lagi aku tanya padamu diamana letak kebodohanku !! aku bisa memberi makan anakku walau aku tak tinggal dirumah orang tuaku, aku tetap bisa hidup tanpa uang dari kedua orang tuaku dimana letak kesalahan ku?" tanya Risa dengan suara serak menahan sesek.


"jawab Yana kenapa kau diam saja?" bentak Risa dengan suara menghelegar bagai petir disiang hari.


"setiap aku menjual deganganku keliling ada saja diantara kalian yang menghina dan mencaciku, sekarang kenapa kalian semua mendadak bisu?" tanya Risa dengan suara lantang.


"masih ingin mengihinaku dan anakku apa kalian merasa diri kalian itu suci hingga tanpa beban mulut kalian menghina dan membicarakan orang lain."


"aku tak mengginginkan kesucianku di ambil oleh laki-laki yang tak dikenal aku juga tak menginginkan anak tanpa suami, tapi takdir menghapiriku memeaksaku mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupku."


"meninggalkan ruamah tanpa uang sepersenpun bukanlah hal yang mudah untuk bertahan hidup, tetapi buktinya aku masih hidup bersama putraku sampai saat ini."


Abi mendekati Risa bersama yusuf.


seorang ibu-ibu berbadan gemuk mendekat kepanggung sambil menanggis.


"ibu minta maaf neng Risa ibu pernah menghinamu dan bahkan membuang kue jualanmu saat kamu menawarkannya." ucap ibu itu tertunduk penuh sesal.


"tak apa bu kita hanya manusia yang tak luput dari salah dan dosa."


"kami juga minta maaf neng risa ucap segerombul ibu-ibu kompek dekat panti."


Risa mengngguk sebagai jawaban.


Amira mendekati Abi lalu berbicara.


"kau anak haram kenapa kau mencuri wajah ayahku" ucap Amira."


"brukkkkk Amera mendurung Abi dari atas penggung."


Defvan yang sudah berjalan mendekat kepanggung dengan cepat berteriak sambil berlari.


"AMIRA !!!! seru Defvan dengan nada suara tinggi.


Yusuf yang melihat kejadian itu berlangsung cepat lagi taksempat menolong Abi begitu pula dengan Gio.


Defvan sampai tepat ketika tubuh kecil Abi hampir sampai ke lantai kaca ia segera menangkap tubuh Abi dengan cepat.


"kau tidak apa-apa nak tanya Defvan?"


"tidak papa om Abi baik-baik saja terima kasih atas pertolongannya."


Risa tersentak kanget melihat Defvan hadir diacara ini keringat dingin mulai keluar dari pori-pori tubuhnya.


saat mata Abi menap manik mata Defvan amarah Defvan yang tadi memuncak karana olah istri dan anaknya yang merusak acara dokter Yusuf seketika lenyap berganti dengan rasa bahagia.


Devfan sendri binggung kenapa mendekap tubuh kecil Abi membuatnya merasa bahgia.


"terima kasih pak Defvan anda menyelamatkan anak saya." ucap Yusuf tulus.


Defvan tidak menjawab ia melihat kewajah Risa yang menatap kosong kedepan.


"kenapa mata itu seperti tak asing" ucap Defvan dalam hati.


Risa tersadar dari lamunannya saat tangan monggil Abi menggenggamnya.


"Abi kamu tidak terlukakan nak?" tanya Risa cemas


"Abi baik- baik saja bunda." sahut Abi sambil tersenyum manis.


"Yana Amira ayoo pulang perbuatan kalian sudah keterlaluan." ucap Defvan.


Yana dan Amira masih tak bergeming sedikitpun.


Yana apa kamu belum puas atau aku perlu menyebarkan Vidio Cctv ditempat ini. ancam Risa.


"hahhahaha kau yang akan malu Risa."


"dasar bodoh." ucap Defvan.


bagaimana bisa aku yang malu,bukankah kau yang akan malu karna seorang istri dari pemilik perusahan terbesar dikota ini merusak acara resepsi seorang dokter dengan cara membuka aib mempelai wanita.