Aku Dan Anak Jeniusku

Aku Dan Anak Jeniusku
Bertemu Kakek


tak terasa waktu berlalu sangat cepat bagi, kedua insan yang sedang bercanda tawa di dapur sambil memasak.


Ayah dan Anak itu memasak sup ayam bersama, Abi mengajari Devan dengan serius, Devan yang baru pertama memasak sup ayam sangat kerepotan meski demikian ia tetep melakukannya karena ia tak ingin melewatkan momen kebersamaannya dengan sang putra.


disela kesibukannya memasak, Devan menceritakan teteng kakeknya yang ingin sekali melihat cucu laki-lakinya.


Abi yang sedang menyiapkan bumbu untuk bahan utama masakan menanggapi dengan sebuah pertanyaan.


"Ayah dimana kakek tinggal?" tanya Abi sambil melirik sekilas sang Ayah


"di kota ini juga. Apa Abi ingin berkunjung ke rumah kakek?" tanya Devan sambil mencuci Ayam.


"boleh, tambah lagi Ayah ayamnya kita bawa sekalian buat kakek." perintah Abi pada sang Ayah.


tanpa banyak tanya, Devan kembali mengambil stok ayam di dalam kulkas kemudian mencucinya hingga bersih.


ting tong...


suara bel di depan rumah Devan.


sepertinya ada tamu, apa Ayah membuat janji bertemu dengan seseorang?" tanya Abi sambil memblender bumbu-bumbu untuk membuat sup.


"seingat Ayah tidak ada." sahut Devan sambil mengingat kembali.


pembantu rumah tangga di rumah Devan segera membuka pintu rumah.


Begitu pintu terbuka terlihat Willem yang datang berkunjung. pembatu itu memberitahukan majikannya berada didapur memasak bersama sang putra.


mendengar Defvan dan cucu laki-lakinya memasak bersama membuat Willem tak sabar ingin menemui keduanya.


Willem melangkahkan kakinya dangan tak sabaran, ia bahkan tak mengucapkan terima kasih pada pembatu di rumah anaknya tersebut.


sesampainya didapur ia tercengang melihat anak laki-laki yang amat sangat mirip dengan putranya sewaktu kecil. mata Willem tak berkedip menatap Abi yang sedang mencampur bumbu-bumbu masakan dengan Ayam.


menyadari ada yang datang Defvan menghentikan aktivitas yang dilakukannya sejenak. Defvan berbalik dan melihat ke arah Daddynya yang sedang menatap tak percaya pada Abi.


"haiiii Dad, apa yang membuatmu mematung tanpa berkedip?" tanya Defvan sambil tersenyum.


"Def apa anak itu cucuku?" tanya Willem matanya masih tak lepas memperhatikan Abi.


"Ya Dad, bukankah ia sangat mirip denganku sewaktu kecil?" tanya Defvan.


kamu benar sekali Def bukan hanya mirip tapi ini benar-benar seperti dirimu sewaktu kecil sahut Willem sambil berjalan mendekati Abi.


"Hallo kek." ucap Abi menyapa.


"hai nak siapa namamu?" tanya Willem.


"namaku Abimanyu Alfaruzi kek." sahut Abi sopan.


"apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Willem berbasa basi.


"Abi dan Ayah membuat sop ayam kek."


"benarkan, tapi Ayahmu itu tidak bisa memasak, kakek hanya takut rasanya akan membuatmu kecewa." ungkap Willem sambil tersenyum meledek sang putra


"untuk itulah Abi membantu membuatkan bumbu masakannya." sahut Abi sambil tersenyum ramah.


mendengar jawaban Abi Willem dapat menyimpulkan bahwa cucunya itu pintar sekali memilih kata untuk menjawab pertayaannya.


"Bagaimana jika kakek ikut membantu juga." ucap Willem menawarkan diri.


"hemmmm baiklah kek, tugas kakek adalah membuat sambal untuk sop ayam ini, rasanya pasti akan lebih lengkap jika di makan pakai sambal" sahut Abi.


"kamu benar sekali nak." ucap Defvan menimpali.


"ini bahan-bahannya kakek tinggal mengulaknya saja." ucap Abi.


"kenapa tidak diblander saja?" tanyaWillem sambil melihat bahan untuk membuat sambal sudah berada ditempatnya siap untuk dihaluskan.


"Rasanya akan lebih enak jika dihaluskan dengan cara menual." sahut Abi sambil tersenyum penuh harap.


Willem mencuci dulu kedua tangan lalu bersiap untuk menghaluskan sambal secera manual.


"Daddy cucumu itu sangat pintar memanfaatkan keadaan aku rasa itu menurun darimu." ucap Defvan diteliga sang ayah.


Melihat Ayah dan kakeknya berbicara berbisik membuat Abi berjalan sendiri menuju kompor tempat sop sedang dimasak.


"Ayah semua sayurnya masukan saja kecuali daun seledri dan daun dawang." perintah Abi.


"Def kau dengar, bos kecilmu memerintah cepatlah kerjakan." ucap Wilem meledak.


20 menit kemudian semua masakan tertata rapi dimeja makan, ketiga orang yang memasak sop segera melahap makanan yang dimasak.


tak ada yang bicara saat makan mereka menikmati setiap senduk suapan nasi kedalam mulut mereka, rasa yang lezat membuat mereka tak ingin berhenti makan.


mereka semua tak menyadari, sepasang mata nengintip dari balik kaca jendela dapur.


tenanglah nak Aku tidak akan membairkanmu bernasip sama seperti taunku. aku akan menjagamu semampuku. ucap seorang yang sedang mengintip dibalik kaca jendela itu.


malam ini adalah malam purnama merah, aku harus memastikan orang itu masih hidup atau sudah tiada lanjutnya.


setelah selesai makan ketinga beranjak pergi keruang tamu untuk mengobrol ringan.


"Def Besok peresmian rumah sakit milikku aku harap kau bisa datang, bawa sertalah Abi." ucap Willem memualai obrolan.


"maaf kek jika acaranya pagi Abi tak bisa ikut karna harus sekolah." tukas Abi sambil melihat wajah sedih Willem.


"baiklah tidak apa-apa tapi lain kali kamu harus mau kakek kenalkan pada teman dan rekan bisnis kakek." minta Willem.


"Baiklah kek akan Abi usahkan." sahutnya


"kakek saat aku besar nanti apa aku bisa bekerja di rumah sakit kakek, aku ingin menolong banyak pasien seperti yang di lakukan oleh ayah Yusuf." jelas Abi dengan raut wajah penuh harap.


Defvan mengerutkan keningnya mendengar permintaan Abi.


"apa kamu bercita-cita menjadi dokter dan membatu banyak orang yang sakit?" tanya Willem.


"iya kek Abi juga ingin membuat obat-obatan herbal tanpa efek samping bagi pasien." ucap mulut kecil Abi penuh semangat.


"kakek akan mengajarimu untuk itu semua jika kau mau." tawar Willem.


"Daddy apa kau akan kembali kedunia dimassa lalu lagi." tanya Defvan.


"karna itulah aku membaut rumah sakit Def." sahut Willem.


"Def kau sudah memiliki putra laki-laki jadi Deddy tak perlu lagi memikirkan perusahan secepatnya Daddy akan pensiun." jelas Willem.


"tidakkah Daddy tau. menjadi orang seperti Daddy impikan itu sangat berbahaya." Ungkap Defvan sambil menatap sang ayah.


tidak maslah Def, lagi pula Aku ini sudah tua, setidaknya selagi masih diberi umur, aku ingin mewujudkan mimipiku sendari kecil itu. cerita Willem.


Abi hanya mendengarkan Ayah dan Anak itu saling tanya Jawab.


"Abi ayo ikutlah kerumah kakek akan kakek kenalkan dengan nenekmu." Ajak Willem.


Abi melirik sang Ayah meminta ijin mengunakan istyarat.


"Ayah juga akan ikut memdapinggimu." sahut Defvan datar.


"Defvan aku pasti akan mengembalikan putramu lagi kemari aku tidak berniat menculiknya darimu." kesal Willem.


aku tau tapi aku ingin memastikan jika anakku pulang tanpa membawa sesuatu yang berhaga diruamahmu Daddy.


"Apa maksudmu?" tanya Willem.


"aku takut ia pulang membwa racun didalam tubuhnya." seperti mommy.


"Berapa kali aku menjelaskan padamu jika Marscella tak ada hubungan apapun pada ibumu."


"akan lebih baik jika bersedia payung sebelum hujan" sahut Defvan.